⚛️*๐จ๐๐๐ ๐๐ ๐จ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐พ๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐๐ :☪️๐ด๐ฌ๐น๐จ๐บ๐ฐ๐ถ๐ต๐จ๐ณ๐ฒ๐จ๐ต ๐จ๐ฒ๐ฐ๐ซ๐จ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ญ๐จ๐ป ๐ซ๐ผ๐จ ๐ท๐ผ๐ณ๐ผ๐ฏ
๐ข⃤*๐๐ฌ๐ฐ๐๐ฃ๐_๐๐ฒ๐๐๐ซ*๐ก
๐ Telegram⬇️
Https://t.me/tinta_sufi
Https://t.me/Aswaja_Cyber
┈┈••••❁✵๐✵❁••••┈┈
⚛️*๐จ๐๐๐
๐๐ ๐จ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐พ๐๐ ๐ฑ๐๐๐๐๐ :
☪️๐ด๐ฌ๐น๐จ๐บ๐ฐ๐ถ๐ต๐จ๐ณ๐ฒ๐จ๐ต ๐จ๐ฒ๐ฐ๐ซ๐จ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ญ๐จ๐ป ๐ซ๐ผ๐จ ๐ท๐ผ๐ณ๐ผ๐ฏ
⚛️Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah.
⚛️Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim.
๐Akhir-akhir ini
๐งAda sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan,
๐Antara lain alasan
๐ง๐Tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20.
๐ง๐Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99.
๐ง๐Dari sini muncul sebuah gugatan,
๐ค๐งMengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna?
๐ง๐ปSebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.
๐ณPara ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam menetapkan konsep sifat 20 tersebut sebenarnya berangkat dari kajian dan penelitian yang mendalam.
✍️Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan oleh para ulama tentang latar belakang konsep wajibnya mengetahui sifat 20 yang wajib bagi Allah,
๐Antara lain:
✅Pertama,
๐ง๐Setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah SWT wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.
๐ง☪️Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.
๐ง☪️Ia harus meyakini pula bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain.
๐ง☪️Demikian ini adalah keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman.
✅Kedua,
๐ณ๐Para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat.
☪️Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja
๐Sebagaimana dikatakan
Al-Imam Al-Hafizh Al-Baihaqi :
ََُُْููููู J: « ุฅَِّู ِููู ุชِุณْุนَุฉً َูุชِุณْุนَِْูู ุงِุณْู
ًุง » ูุงَ َِْْูููู ุบَْูุฑََูุง ، َูุฅَِّูู
َุง ุฃَุฑَุงุฏَ َูุงُููู ุฃَุนَْูู
ُ ุฃََّู ู
َْู ุฃَุญْุตَู ู
ِْู ุฃَุณْู
ุงَุกِ ุงِููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู ุชِุณْุนَุฉً َูุชِุณْุนَِْูู ุงِุณْู
ًุง ุฏَุฎََู ุงْูุฌََّูุฉَ.
☪️Sabda Nabi Muhammad SAW :
✒️“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya.
✒️Bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga.
๐(Al-Baihaqi, Al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf, hal. 14).
๐ณPernyataan al-Hafizh al-Baihaqi di atas bahwa nama-nama Allah SWT sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah 99
๐Didasarkan
๐Pada hadits shahih:
ุนَِู ุงุจِْู ู
َุณْุนُْูุฏٍ، َูุงَู، َูุงَู ุฑَุณُُْูู ุงِููู J: ุงَُّูููู
َّ ุฅِِّْูู ุนَุจْุฏَُู … ุฃَุณْุฃََُูู ุจُِِّูู ุงุณْู
ٍ َُูู ََูู، ุณَู
َّْูุชَ ุจِِู َْููุณََู ، ุฃَْู ุฃَْูุฒَْูุชَُู ِْูู ِูุชَุงุจَِู، ุฃَْู ุนََّูู
ْุชَُู ุฃَุญَุฏًุง ู
ِْู ุฎََِْููู، ุฃَِู ุงุณْุชَุฃْุซَุฑْุชَ ุจِِู ِْูู ุนِْูู
ِ ุงْูุบَْูุจِ ุนِْูุฏََู، ุฃَْู ุชَุฌْุนََู ุงُْููุฑْุขَู ุฑَุจِْูุนَ َْููุจِْู، َُْูููุฑَ ุจَุตَุฑِْู، َูุฌَูุงَุกَ ุญَุฒَِْูู، َูุฐََูุงุจَ َูู
ِّْู.
๐ณIbn Mas’ud berkata,
☪️Rasulullah bersabda:
✒️“Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu…
✒️Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki,
✒️Baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya,
✒️Atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu,
✒️Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu,
✒️Dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib,
✒️Jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.”
๐(HR. Ahmad, Ibn Hibban, Al-Thabarani dan Al-Hakim).
✅Ketiga,
๐ณPara ulama membagi sifat-sifat khabariyyah,
๐Yaitu
☪️๐Sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits seperti yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna, terbagi menjadi dua.
1️⃣Pertama, Shifat al-Dzat,
๐Yaitu
☪️Sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah SWT,
๐Yang antara lain adalah
✍️Sifat dua puluh.
2️⃣Dan kedua, Shifat al-Af’al,
๐Yaitu
☪️Sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah SWT,
๐Seperti
☪️Sifat al-Razzaq, al-Mu’thi, al-Mani’, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliq dan lain-lain.
✍️Perbedaan antara keduanya,
1️⃣Shifat al-Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah,
๐Yaitu
☪️Syarat mutlak ketuhanan Allah, sehingga ketika Shifat al-Dzat itu wajib bagi Allah, maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Allah.
๐Sebagai contoh,
☪️Misalnya ketika Allah SWT bersifat baqa’ (kekal), maka Allah SWT mustahil bersifat kebalikannya, yaitu fana’.
๐ณDari sini para ulama menetapkan
๐Bahwa
☪️Shifat al-Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah.
☪️Hal tersebut berbeda dengan Shifat al-Af’al.
☪️Ketika Allah memiliki salah satu di antara Shifat al-Af’al, maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Allah,
☪️Seperti sifat Al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan),
☪️Al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan kebalikannya al-Nafi’ (Maha Memberi Manfaat),
☪️Al-Mu’thi (Maha Pemberi) dan kebalikannya al-Mani’ (Maha Pencegah) dan lain-lain.
๐ณDi samping itu para ulama juga mengatakan bahwa Shifat al-Af’al itu baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah, namun tidak azal (ada permulaan).
✍️Dari sini dapat kita memahami,
๐Kekeliruan
๐งPernyataan Nurcholis Madjid beberapa tahun yang lalu, bahwa untuk saat ini sifat Rahmah Allah mestinya lebih layak ditekankan untuk diketahui dari pada yang lain.
๐งKarena pernyataan ini berangkat dari ketidakpahaman Nurcholis terhadap konsep Shifat al-Dzat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah (syarat ketuhanan) dan Shifat al-Af’al yang bukan Syarth al-Uluhiyyah.
✅Keempat,
☪️Dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada,
๐งSifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan.
๐Di samping substansi sebagian besar Shifat al-Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan dalil ‘aqli.
✅Kelima,
☪️Sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah SWT.
๐Sebagaimana dimaklumi,
⚛️Aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah
๐Seperti
๐Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk),
๐Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk),
๐Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah.
✍️Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah.
๐Misalnya
๐งKetika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy,
๐Maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri).
๐งKetika Musyabbihah mengatakan
๐Bahwa
☪️Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk.
๐Maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru).
๐งKetika Mu’tazilah mengatakan
๐Bahwa
☪️Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain,
๐Maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam.
✍️Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain. Wallahu a’lam.
┈┈••••❁✵๐✵❁••••┈┈
✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten.
๐Salam santun.
https://t.me/Aswaja_Cyber
Komentar
Posting Komentar