⬇️Bertitik tolak pada
✅Al-ri’ayah (pemeliharaan),
✅Al-mawaddah (cintakasih),
✅Dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih);
👳Al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah,
⬇️Yakni
🤍Memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.

👳Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah,
⬇️Yakni
✅‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),
✅‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
✅‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).

🧘Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah
⬇️Berarti
🤍Terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa;
👳Sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka.
👳Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.

☪️Jadi jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa atau jikapun mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.

🧔Sedangkan ulama su’ (ulama yang buruk)
⬇️Adalah
🧔Mereka yang tidak menyadarinya atau tidak disadarkan oleh Allah SWT atas kesalahannya atau kesalahpahamannya sehingga mereka menyadarinya di akhirat kelak.

✍️Contohnya ;
🧔Ada dari para pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan yang menyalahkan atau bahkan menuduh musyrik kepada muslim lain yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka yang mewajibkan berdoa langsung kepada Allah dan jangan berperantara bahkan diiikuti dengan celaan “Tuhan tidak tuli”

🧔Oleh karena kesalahpahaman mereka dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah
⬇️Sehingga
🧔😡Mereka secara tidak langsung telah menghardik Salafush Sholeh yang berdoa kepada Allah dengan berperantara.

✍️📖Contohnya riwayat berikut

👳Dari Anas ibnu Malik ra berkata:
☪️“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
✒️“Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya,
✒️Dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”
👳Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para Sahabat: berkata:
✒️“Wahai Barra’, sesungguhnya
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
✒️“Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul.
✒️Oleh karena itu, berdoalah untuk kami.”
👳🤲Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.
👳🤲Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a:
✒️“Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.”
👳🍂Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

👳Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya:
✒️“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”
👳Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar.
👳Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
✒️“Siapa namamu?” tanya Umar.
✒️“Aku Uwais”, jawabnya datar.
✒️“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
✒️“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.
👳Umar masih penasaran lalu bertanya kembali
✒️“Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
✒️“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”,
👳🤲lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.
✒️“Mintakan aku ampunan kepada Allah”. 
👳Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan.
✒️“Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”
👳Lalu Umar berkata
✒️“Aku pernah mendengar
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata
✒️“Sesungguhnya sebaik-baik Tabi’in adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”
👳🤲Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.
📚(HR Ahmad)

📖Riwayat tersebut bukan berarti Sayyidina Umar ra tidak termasuk wali Allah (kekasih Allah) namun sekedar mengabarkan Uwais ra adalah seorang wali Allah di antara Tabi’in.

☪️Allah Ta’ala telah berfirman bahwa
✒️“Jika wali Allah (kekasih Allah) meminta atau berdoa pasti dikabulkanNya”
⬇️Artinya
🧘Seorang muslim semakin dekat dengan Allah sehingga meraih maqam (manzilah, kedudukan, derajat) di sisiNya maka doanya akan mustajab.

⬇️Berikut riwayat selengkapnya,
📖Dalam sebuah hadits Qudsi
☪️Allah Ta’ala berfirman bahwa
✒️“jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi.
✒️Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.”
📚(HR Bukhari 6021)

🧔Selain itu ada pula dari pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah hanya melarang berdoa kepada Allah bertawassul dengan yang sudah wafat.

🤲Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang muslim, mukmin, shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
🤲Tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

🧔Ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat,
🧔Maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat,
☪️Padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

👳Begitupula Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan :
✒️Ketahuilah bahwa orang yang bertawassul dengan siapa pun itu karena ia mencintai orang yang dijadikan tawassul tersebut.
✒️Karena ia meyakini keshalihan, kewalian dan keutamaannya, sebagai bentuk prasangka baik terhadapnya.
✒️Atau karena ia meyakini bahwa orang yang dijadikan tawassul itu mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang berjihad di jalan Allah.
✒️Atau karena ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang yang dijadikan tawassul,
☪️Sebagaimana firman Allah :

 يحبّونهم ويحبّونه 

Atau sifat-sifat di atas seluruhnya berada pada orang yang dijadikan obyek tawassul.

Jika anda mencermati persoalan ini maka anda akan menemukan bahwa rasa cinta dan keyakinan tersebut termasuk amal perbuatan orang yang bertawassul. Karena hal itu adalah keyakinan yang diyakini oleh hatinya, yang dinisbatkan kepada dirinya, dipertanggungjawabkan olehnya dan akan mendapat pahala karenanya.

Orang yang bertawassul itu seolah-olah berkata, “Ya Tuhanku, saya mencintai fulan dan saya meyakini bahwa ia mencintai-Mu. Ia orang yang ikhlas kepadaMu dan berjihad di jalanMu. Saya meyakini Engkau mencintainya dan Engkau ridlo terhadapnya. Maka saya bertawassul kepadaMu dengan rasa cintaku kepadanya dan dengan keyakinanku padanya, agar Engkau melakukan seperti ini dan itu.

Namun mayoritas kaum muslimin tidak pernah menyatakan ungkapan ini dan merasa cukup dengan kemaha-tahuan Dzat yang tidak samar baginya hal yang samar, baik di bumi maupun langit. Dzat yang mengetahui mata yang berkhianat dan isi hati yang tersimpan.

Orang yang berkata : “Ya Allah, saya bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, itu sama dengan orang yang mengatakan : Ya Allah, saya bertawassul kepada-Mu dengan rasa cintaku kepada Nabi-Mu. Karena orang yang pertama tidak akan berkata demikian kecuali karena rasa cinta dan kepercayaannya kepada Nabi. Seandainya rasa cinta dan kepercayaan kepada Nabi ini tidak ada maka ia tidak akan bertawassul dengan Nabi. Demikian pula yang terjadi pada selain Nabi dari para wali.
******* akhir kutipan *****

Berikut kutipan nasehat salah satu gurunya Muhammad bin Abdul Wahhab yakni Syaikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, yang berisi nasehat agar ia tidak menyempal keluar dari mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham)

***** awal kutipan *****
“Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”
***** akhir kutipan ******

Sebutan Wahabi itu pertama kali dimunculkan oleh Syaikh Sulamain bin Abdul Wahab al-Hanbali. Beliau adalah saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: “Tetapi kamu menjadikan 6!”
Muhammad: “Apa?”
Sulaiman: “Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir“.
Muhammad : “Terdiam dan marah“.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi) sebagaimana gambar pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/as-shawaiqul-ilahiyah-firraddi-alal-wahabiyah.jpg

Hal yang sama diungkapkan oleh ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

“Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

⚛️Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin,
⬇️Juga berkata dalam kitabnya,
📚Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:
✒️“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita.
✒️Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci.
✒️Mereka mengikuti madzhab Hanabilah.
✒️Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik.
✒️Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.”
📚(Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

⚛️Sedangkan ulama madzhab al-Maliki,
👳Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki,
👳Ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa hidupnya dengan pendiri Wahhabi,
⬇️Sebagaimana yang disampaikan oleh
👳Cucu dari Syaikh Nawawi al Bantani
⬇️Yakni
👳KH Thobary Syadzily
⬇️Bahwa
📚Kitab tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang saat ini beredar di seluruh dunia, asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an) ayat yang menerangkan tentang khawarij dan dihubungankan dengan “Wahabiyah”
⬇️Dihapus dan dihilangkan
🧔Oleh kelompok Wahabi.
✍️Karena, kalau tidak dihilangkan akan merugikan dan membahayakan bagi mereka, bahkan bisa menjadi ancaman bagi Saudi Arabia dalam rangka tetap menjaga dan memelihara eksistensi kerajaannya di dunia internasional sebagaimana kajiannya yang dimuat pada http://19aswaja26.blogspot.co.id/2012/11/bukti-scanned-kitab-kejahatan-wahabi.html

📖Dikabarkan dalam kajian tersebut berikut bukti scan kitabnya bahwa mereka menghapus kalimat:

و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية

🧔Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi).
🧔Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”.

📖Tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang masih asli dan belum ditahrif , contohnya cetakan pertama “Darul Fikr” th 1988 jilid 5 halaman 119, tertulis:

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ

✒️“Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
✒️Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.
✒️Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini.
✒️Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Mekkah).
✒️Golongan tersebut dinamakan “Wahabiyyah”.
✒️Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.”

🧔Firqah salaf (terdahulu) atau firqah pada zaman Rasulullah yang gemar menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka adalah orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim sebagaimana yang telah disampaikan pada

 https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/05/05/firqah-salaf-menyalahkan/

🧔Dzul Khuwaishirah tokoh penduduk Najed dari bani Tamim juga termasuk salaf karena bertemu dengan Rasulullah namun tidak mendengarkan dan mengikuti Rasulullah melainkan mengikuti pemahaman atau akal pikirannya sendiri yang berakibat menjadikannya sombong dan durhaka kepada Rasulullah yakni merasa lebih pandai dari Rasulullah sehingga berani menyalahkan dan menghardik Rasulullah

👳Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata;
✒️Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta),
🧔Datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata;
✒️Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil.
☪️Maka beliau berkata:
✒️Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil.
✒️Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil.
📚(HR Bukhari 3341)

👳Abu Sa’id berkata;
✒️Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu.
🧔Kata mereka,
✒️kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya?
☪️Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab:
✒️Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka.
🧔Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata,
✒️Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah!
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
✒️Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku?
📚(HR Muslim 1762)

🧔Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim adalah orang-orang yang menyalahkan umat Islam lainnya yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka sehingga mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) yang disebut dengan khawarij
🧔Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.
🧔Oleh karena orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka bersikap takfiri yakni mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka dan berujung menghalalkan darah atau membunuhnya.
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menubuatkan bahwa kelak akan bermunculan orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim yakni orang-orang yang terjerumus “kafir tanpa sadar”,
🧔Orang-orang yang menuduh muslim lainnya yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka telah musyrik, laknatullah atau “bukan Islam” atau kafir namun karena salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah maka akan kembali kepada si penuduh.

👳Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu,
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
✒️“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”
👳Aku (Hudzaifah) bertanya,
✒️“Wahai nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”
☪️Beliau menjawab
✒️“Penuduhnya”.
☪️Rasulullah bersabda:
✒️“Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan.
✒️Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”
📚(HR Muslim)

👳Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
✒️Orang yang bangkrut (muflis) dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) ibadah shalat, puasa, dan zakat.
✒️Akan tetapi dia pun datang dengan membawa dosa berupa mencaci orang ini, memfitnah (menuduh) orang ini, menumpahkan darah orang ini, menyiksa orang ini, lalu diberikanlah kebaikannya (pahala) kepada orang-orang yang dizhaliminya.
✒️Sewaktu kebaikannya (pahala) tidak lagi cukup membayar kesalahan (dosa) nya maka diambillah dosa-dosa orang-orang yang dizhaliminya dan ditimpakan kepada dirinya. Setelah itu dia dilemparkan ke neraka.
📚(HR Muslim 2581)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad