๐Ÿ“–๐‘ป๐’‚๐’–๐’”๐’Š๐’š๐’‚๐’‰ & ๐‘ซ๐’‚๐’Œ๐’˜๐’‚๐’‰ :๐‘จ๐‘ท๐‘จ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ฏ ๐‘จ๐‘ฒ๐‘ฏ๐‘ฐ๐‘น๐‘จ๐‘ป ๐‘ฐ๐‘ป๐‘ผ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ณ? ๐‘ท๐‘จ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ณ ๐‘ฐ๐‘จ ๐‘ด๐‘จ๐‘ฒ๐‘ฏ๐‘ณ๐‘ผ๐‘ฒ

⚛️*"๐€๐ฌ๐ฐ๐š๐ฃ๐š_๐‚๐ฒ๐›๐ž๐ซ"*๐Ÿ“ก

⬇️ Telegram Link 
Https://t.me/Andi_Supriadi65
Https://t.me/Aswaja_Cyber

             ┈┈••••❁✵๐Ÿ•Œ✵❁••••┈┈

⚛️๐Š๐š๐ฃ๐ข๐š๐ง ๐€๐ค๐ข๐๐š๐ก :
๐‘จ๐‘ท๐‘จ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ฏ ๐‘จ๐‘ฒ๐‘ฏ๐‘ฐ๐‘น๐‘จ๐‘ป ๐‘ฐ๐‘ป๐‘ผ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ณ? ๐‘ท๐‘จ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ณ ๐‘ฐ๐‘จ ๐‘ด๐‘จ๐‘ฒ๐‘ฏ๐‘ณ๐‘ผ๐‘ฒ

☪️Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tersucikan dari segala sifat kekurangan.
⚛️Dalam lingkungan para ulama yang bermazhab Asy'ari, dikenal sifat-sifat wajib Allah yang dua puluh yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnaan (shifat asasiyyah kamaliyyah) Allah.

☪️Salah satu sifat wajib bagi Allah adalah mukhalafatuhu lil hawaditsi (Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya).
๐Ÿ‘‡Artinya,
☪️Allah wajib berlainan atau tidak sama dengan al-hawadits (hal-hal baru atau makhluk-Nya).

☪️Di antara dalil sifat mukhalafatuh li al-hawadits adalah berikut:

ู„َูŠْุณَ ูƒَู…ِุซْู„ِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจَุตِูŠุฑُ

✒️"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat."
๐Ÿ“š(QS. As-Syura: 11)

☪️Al-hawadits itu memiliki dua segi (jihah).
1️⃣. Wujud (keberadaan) hawadits itu didahului oleh ketiadaan (al-'adam).
2️⃣. Hawadits itu memiliki sifat imkan (berkemungkinan).
๐Ÿ‘‡Artinya,
✍️Wujud atau keberadaan hawadits itu, memungkinkan masih terus berlangsung, dan mungkin juga berubah menjadi tidak ada ('adam).
✍️Demikian pula sebaliknya, ketika sesuatu itu tidak ada ('adam), maka ketiadaannya mungkin terus berlangsung, atau berubah dari tidak ada ('adam) menjadi ada (wujud).

✍️Maka dengan adanya segi yang kedua ini, dapat dipahami bahwa Allah itu mukhalafah lil hawaditsi dari segi imkan-nya.
๐Ÿ‘‡Artinya,
☪️Allah mukhalafah dengan hawadits, sebab wujud-nya Allah itu adalah wajib dzati (secara dzat wajib ada), yang mustahil berubah menjadi tidak ada ('adam), baik dari ketiadaan kemudian menjadi ada ('adam sabiq lil wujud), atau ketiadaan yang didahului ada ('adam lahiq lil wujud).

✍️Hal ini berbeda dengan hawadits yang wujudnya itu bersifat mungkin. Yang demikian itu bermakna bahwa keberadaan hawadits itu bisa berubah menjadi tidak ada (‘adam) kapan saja menurut kehendak Allah.
✍️Demikian juga dengan hawadits yang bernama akhirat, surga dan neraka.
☪️Jika Allah menghendaki kekekalannya, setelah sebelumnya akhirat adalah tidak ada, maka itu adalah sesuatu yang mungkin.
☪️Dan kenyataannya bahwa Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa kenikmatan surga dan siksa neraka itu kekal.

✍️Ada Makhluk yang Dikekalkan Allah

☪️Allah itu bersifat Baqa',
๐Ÿ‘‡Artinya
☪️Wujud Allah itu kekal; tidak mengalami kemusnahan.
☪️Allah berfirman:

ูƒُู„ُّ ุดَูŠْุกٍ ู‡َุงู„ِูƒٌ ุฅِู„َّุง ูˆَุฌْู‡َู‡ُ

✒️"Bahwa semua selain Allah akan hancur."
๐Ÿ“š(QS. Al-Qashash: 88)

๐Ÿ‘ณMenurut Syekh Ibrahim al-Laqani
๐Ÿ“šDalam Jauharatut Tauhid, keumuman ayat ini telah di-takhshish (dispesifikasi).

ูˆ ูƒู„ ุดูŠุก ู‡ุงู„ูƒٌ ู‚ุฏ ุฎุตุตُูˆุง ุนู…ูˆู…َู‡ ูุงุทู„ُุจ ู„ู…ุง ู‚ุฏ ู„ุฎุตูˆุง

✒️"Para ulama telah mentakshish keumuman ayat 'kullu syai'in hรขlikun'.
✒️Maka carilah apa-apa yang telah mereka ringkaskan."

๐Ÿ‘ณPara ulama telah men-takhshish keumuman ayat tersebut dengan beberapa makhluk yang Allah kehendaki untuk kekal dan tidak mengalami kehancuran, yang menurut keterangan beberapa hadits merupakan pengecualian
๐Ÿ‘‡Seperti:
✅Surga, neraka, arsy, kursy, ruh, dan lain-lain.
✍️Ada juga yang berpendapat bahwa maksud ayat ini
๐Ÿ‘‡Adalah,
✅Bahwa segala sesuatu akan musnah kecuali amal yang dikerjakan karena Allah.
✅Atau maksud hรขlikun itu adalah qรขbilun lil halak (menerima kerusakan), sebagaimana disebutkan para ulama, misalnya Syekh Al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid, dan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid.

๐Ÿ‘ณSyekh Jalaluddin as-Suyuthi,
๐Ÿ‘‡Sebagaimana dikutip
๐Ÿ‘ณSyekh Al-Baijuri dan Syekh Nawawi al-Bantani menyebutkan nazam tentang delapan hal yang kekal sebagai berikut:

ุซู…َุงู†ูŠุฉٌ ุญูƒْู… ุงู„ุจู‚ุงุก ูŠุนُู…ู‡ุง ู…ู† ุงู„ุฎู„ู‚ ูˆุงู„ุจุงู‚ُูˆู† ููŠ ุญูŠุฒ ุงู„ุนุฏَู…. ู‡ูŠ ุงู„ุนุฑْุด ูˆุงู„ูƒุฑุณูŠ ู†ุงุฑ ูˆุฌู†ุฉ ูˆุนุฌุจ ูˆุงุฑูˆุงุญ ูƒุฐุง ุงู„ู„ูˆุญُ ูˆุงู„ู‚ู„ู…

✒️"Ada delapan hal dari makhluk ini yang hukum kekekalan meratainya, sedangkan yang lain berada di wilayah ketiadaan.
✒️Yaitu arasy, kursi, neraka, surga, ajbudz dzanab (tulang ekor), dan ruh.
✒️Demikian juga lauh mahfudz dan qalam (pena)."

☄️๐Ÿ”ฅKekalnya Surga Neraka

๐Ÿ“–Banyak dalil Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa penduduk surga dan neraka itu kekal (khรขlidin), misalnya dalam
๐Ÿ“šSurat Hud ayat 106-108:

ูَุฃَู…َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุดَู‚ُูˆุง ูَูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ ู„َู‡ُู…ْ ูِูŠู‡َุง ุฒَูِูŠุฑٌ ูˆَุดَู‡ِูŠู‚ٌ ﴿ูกู ูฆ﴾ ุฎَุงู„ِุฏِูŠู†َ ูِูŠู‡َุง ู…َุง ุฏَุงู…َุชِ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชُ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถُ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุดَุงุกَ ุฑَุจُّูƒَ ۚ ุฅِู†َّ ุฑَุจَّูƒَ ูَุนَّุงู„ٌ ู„ِّู…َุง ูŠُุฑِูŠุฏُ ﴿ูกู ูง﴾ ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุณُุนِุฏُูˆุง ูَูِูŠ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุฎَุงู„ِุฏِูŠู†َ ูِูŠู‡َุง ู…َุง ุฏَุงู…َุชِ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชُ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถُ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุดَุงุกَ ุฑَุจُّูƒَ ۖ ุนَุทَุงุกً ุบَูŠْุฑَ ู…َุฌْุฐُูˆุฐٍ ﴿ูกู ูจ﴾

✒️"Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka.
✒️Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih).
✒️Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).
✒️Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
✒️Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga.
✒️Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya."
๐Ÿ“š(QS. Hud : 106-108)

☄️๐Ÿ”ฅTentang kekekalan kenikmatan surga dan siksa neraka.

๐Ÿ‘ณSyekh Al-Bayjury
๐Ÿ“šDalam Tuhfatul Murid 'ala Syarhi Jauharatit Tauhid menyatakan:

ูˆู†ุนูŠู…ُ ุงู„ุฌู†ุฉ ูˆุนุฐุงุจُ ุงู„ู†ุงุฑ ู„ู‡ ุฃูˆู„ ูˆู„ุง ุขุฎุฑู„ู‡ ููƒู„ٌ ู…ู†ู‡ู…ุง ุจุงู‚ ู„ูƒู†ْ ุดุฑْุนุงً ู„ุง ุนู‚ู„ุง ู„ุฃู† ุงู„ุนู‚ู„ ูŠُุฌูˆّุฒ ุนุฏู…َู‡ู…ุง

✒️"Kenikmatan surga dan siksa neraka itu ada permulaannya, tapi tidak berakhir.
✒️Setiap keduanya adalah kekal, tetapi dikekalkan (baqin) oleh agama,
๐Ÿ‘Bukan oleh akal.
✅Karena akal itu memungkinkan ketiadaannya."

๐Ÿ“–Di antara hadits yang menetapkan kekekalan surga dan neraka adalah hadits shahih, termasuk di dalamnya tentang "penyembelihan" (diakhirinya) kematian.

ุนู† ุงุจْู† ุนُู…ุฑ ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ุตَุงุฑ ุฃู‡ู„ُ ุงู„ุฌู†ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู†ุฉ ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ู†ุงุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ุฌูŠุกَ ุจุงู„ู…ูˆْุช ุญุชู‰ ูŠุฌุนَู„ ุจูŠู† ุงู„ุฌู†ุฉ ูˆุงู„ู†ุงุฑ ุซู… ูŠุฐุจุญ ุซู… ูŠُู†ุงุฏูŠ ู…ู†ุงุฏ ูŠุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุฌู†ุฉ ู„ุง ู…ูˆุช ูˆ ูŠุง ุฃู‡ู„ ุงู„ู†ุงุฑ ู„ุง ู…ูˆุช ููŠุฒุฏุงุฏُ ุฃู‡ู„ُ ุงู„ุฌู†ุฉ ูุฑุญًุง ุฅู„ู‰ ูุฑุญู‡ู… ูˆูŠุฒุฏุงุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ู†ุงุฑ ุญُุฒู†ุงً ุฅู„ู‰ ุญุฒู†ู‡ู…

๐Ÿ‘ณDari Ibnu Umar berkata,
☪️Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
✒️"Ketika ahli surga telah masuk ke dalam surga dan ahli neraka telah masuk ke dalam neraka, didatangkanlah al-maut (kematian) sampai tempat di antara surga dan neraka, kemudian disembelih.
๐Ÿ‘ณLalu akan memanggil seorang penyeru:
✒️"Wahai penduduk surga, tidak ada (lagi) kematian.
✒️Wahai penduduk neraka, tidak ada (lagi) kematian.
☄️Maka penduduk surga bertambah gembira di atas kegembiraan mereka,
๐Ÿ”ฅDan penduduk neraka bertambah sedih di atas kesedihan mereka."
๐Ÿ“š(HR. Bukhari)

✍️Dengan demikian menjadi jelas bahwa ada perbedaan antara kekalnya Allah dengan kekalnya surga dan neraka.
☪️Kekalnya Allah bersifat dzatiyah dan hukumnya wajib (pasti), baik dari segi aqal ataupun agama (syara') serta tidak ada permulaannya,
☄️๐Ÿ”ฅSedangkan kekalnya surga dan neraka itu tidak bersifat dzatiyahnamun karena dikehendaki oleh Allah dan juga wajib dari segi syara' saja,
๐Ÿ‘Tidak dari segi akal,
✅Serta keduanya ada permulaanya. 

⚛️Keyakinan ini bahkan merupakan kesepakatan (ijmak) para ulama Ahlissunnah wal Jamaah sebagaimana dinyatakan oleh
๐Ÿ‘ณSyekh Abdul Qahir al-Bahghdady dalam Al-Farqu Baynal Firaq sebagai berikut:

ูˆَ ุฃَุฌْู…َุนُูˆุง ุงูŠْุถุง ุนَู„ู‰ ุฌَูˆَุงุฒ ุงู„ูَู†َุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ْุนَุงู„َู… ูƒู„ู‡ ู…ู†ْ ุทَุฑูŠู‚ ุงู„ู‚ُุฏْุฑَุฉ ูˆุงู„ุงู…ูƒุงู†, ูˆَุงู†ู…ุง ู‚ุงู„ُูˆุง ุจุชุฃูŠูŠْุฏ ุงู„ْุฌَู†ุฉ, ูˆุชุฃูŠูŠْุฏ ุงู„ุฌู‡َู†ู… ูˆَุนَุฐุงุจู‡ุง ู…ู†ْ ุทَุฑูŠู‚ ุงู„ุดุฑْุน

✒️"Ahlussunnah juga sepakat tentang kemungkinan kemusnahan keseluruhan alam semesta, ditinjau dari segi qudrah Allah dan segi kemungkinan secara akal.
✒️Namun, mereka (Ahlussunnah wal Jama'ah) berpendapat tentang keabadian surga, dan keabadian neraka dan siksanya itu dari segi agama (syara')."

*Tim Narasumber Aswaja NU Center Jatim, dosen Aswaja Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto

            ┈┈••••❁✵๐Ÿ•Œ✵❁••••┈┈

✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten.
๐Ÿ™Salam santun.
https://t.me/Aswaja_Cyber


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad