Berdoa dengan adab

BERTAWASSUL MENURUT ULAMA

👳Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat
🍂☪️kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam,
👳🚶Datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan,
✅“Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah).
✅Aku telah mendengar
☪️Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
✒️‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘
📚(QS An-Nisa [4]: 64),

👳🚶Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”
👳🚶Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut,
⬇️Yaitu:
✅“Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini.
✅Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“
👳🚶Kemudian lelaki Badui itu pergi,
👳Dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.
☪️Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam,
☪️Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,
✒️“Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”

👳Prof, DR Ali Jum’ah menjelasakan tentang (QS An-Nisa [4]: 64)
⬇️Dalam kitab berjudul
📚”Al Mutasyaddidun, manhajuhum wa munaqasyatu ahammi qadlayahum”
⬇️Telah diterbitkan kitab terjemahannya dengan judul
📚”Menjawab Dakwah Kaum ‘Salafi’ ” diterbitkan oleh penerbit Khatulistiwa Press beralamat Jl Datuk Ibrahim No. 19, Condet, Balekambang, Jakarta Timur.

⬇️Berikut kutipan penjelasan Prof, DR Ali Jum’ah.
✅Adapun ayat ketiga ini (QS An-Nisa [4] : 64) berlaku secara umum (mutlak), tidak ada sesuatupun yang mengikatnya, baik dari nash maupun akal.
✅Di sini tidak ada sesuatu makna yang mengikatnya dengan masa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dunia.
✅Karena itu akan tetap ada hingga hari kiamat.
📖Di dalam Al Qur’an, yang menjadi barometer hukum adalah umumnya lafaz, bukan berdasarkan khususnya sebab.
✍️Oleh karena itu, barang siapa yang mengkhususkan ayat ini hanya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup,
⬇️Maka
🧔Wajib baginya untuk mendatangkan dalil yang menunjukkan hal itu.
✍️Keumuman (kemutlakan) makna suatu ayat tidak membutuhkan dalil, karena ‘keumuman’ itu adalah asal.
✍️Sedangkan taqyid (mengikat ayat dengan keadaan tertentu) membutuhkan dalil yang menunjukkannya.
👳Ini adalah pemahaman ulama ahli tafsir, bahkan mereka yang sangat disiplin dengan atsar seperti Imam Ibnu Katsir.
📖Dalam tafsirnya, setelah menyebutkan ayat di atas,
👳Ibnu Katsir lalu mengomentarinya dengan berkata
✒️“Banyak ulama dalam kitab Asy Syaamil menyebutkan kisah yang sangat masyur ini”

👳Begitupula ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Rasulullah dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat
⬇️Seperti,
👳Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan ayat ini (QS An-Nisa [4]: 64)
⬇️Menjadi petunjuk
✒️Dianjurkan datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk minta ampun dosa kepada Allah di sisi Beliau dan Beliau minta ampun dosa umatnya.
✒️Dan ini tidak terputus dengan wafat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
📚(Ibnu Hajar al-Haitami, al-Jauhar al-Munaddham, Dar al-Jawami’ al-Kalam, Kairo, Hal. 12)

👳Imam Ibnu al-Hajj al-Abdari, ulama dari mazhab Maliki berkata,
✒️“Tawasul dengan beliau merupakan media yang akan menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan.
✒️Karena keberkahan dan keagungan syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam di sisi Allah itu tidak bisa disandingi oleh dosa apapun.
✒️Syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih agung dibandingkan dengan semua dosa, maka hendaklah orang menziarahi (makam) nya bergembira.
✒️Dan hendaklah orang tidak mau menziarahinya, mau kembali kepada Allah Ta’ala dengan tetap meminta syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam.
✒️Barangsiapa yang mempunyai keyakinan yang bertentangan dengan hal ini, maka ia adalah orang yang terhalang (dari syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam).

👳Apakah ia tidak pernah mendengar firman Allah yang berbunyi:
✒️“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah.
✒️Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
📚( QS An Nisaa [4] : 64 )

⬇️Oleh karena itu,
☪️Barang siapa yang mendatangi beliau, berdiri di depan pintu beliau, dan bertawassul dengan beliau,
maka ia akan mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
☪️Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah ingkar janji.

☪️Allah Ta’ala telah berjanji untuk menerima tobat orang yang datang, berdiri di depan pintu beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) dan meminta ampunan kepada Tuhannya.
✍️Hal ini sama sekali tidak diragukan lagi,
🧔Kecuali oleh orang yang menyimpang dari agama dan durhaka kepada Allah dan RasulNya.
👳“Kami berlindung diri kepada Allah dari halangan mendapatkan syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam”
📚(Ibnu al Hajj, Al Madkhal, 1/260)

👳Imam an Nawawi, ulama dari kalangan Syafi’iyah, ketika menerangkan mengenai adab ziarah makam Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata
✒️“Kemudian ia (peziarah) kembali ke tempat awalnya (setelah bergerak satu hasta ke kanan untuk menyalami Abu Bakar dan satu hasta yang lain menyalami Umar) sambil menghadap ke arah wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
✒️Lalu ia bertawassul dari beliau kepada Allah.
✒️Sebaik-baik dalil dalam masalah ini
⬇️Adalah atsar yang diceritakan oleh
👳Imam al Mawardi al Qadhi, Abu ath-Thayyib dan ulama lainnya
📚(An Nawawi, Al Majmuu’, 8/256)

👳Sedangkan Imam Ibnu Qudamah dari kalangan mazhab Hanbali juga memberikan petunjuk di dalam adab ziarah ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, agar peziarah membaca ayat di atas, mengajak bicara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memakai ayat tersebut dan meminta kepada beliau untuk dimintakan ampunan kepada Allah.

🤲Maka setelah peziarah membaca salam, doa dan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam hendaknya ia berdoa,
✒️“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman, sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
📚(QS An Nisaa [4] : 64 )

👳🤲Aku datang kepadamu (Nabi shallallahu alaihi wasallam) sebagai orang yang meminta ampunan atas dosa-dosaku, dan sebagai orang yang meminta syafaat melaluimu kepada Tuhanku.
🤲Aku memohon kepadaMu , wahai Tuhanku, berilah ampunan kepadaku, sebagaimana Engkau berikan kepada orang yang menemui beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) ketika masih hidup.”
🤲Setelah itu, peziarah berdoa untuk kedua orang tuanya, saudara-saudaranya dan seluruh kaum muslimin

🤲📖Begitupula kita dianjurkan berdoa kepada Allah diawali dengan bertawassul dengan sholawat bukan berarti Rasulullah membutuhkan sholawat dari umatnya namun kita mendapatkan balasan salam dari Rasulullah dengan maqamnya (manzilah, kedudukan, derajat) di sisi Allah.
☪️Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
✒️“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salam .”
📚(HR. An-Nasa’i Al-Hakim 2/421 )

🤲📖Sunnah Rasulullah agar doa inti yang kita panjatkan kepada Allah lebih mustajab maka kita disunnahkan diawali bertawasul dengan amal kebaikan berupa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawasul dengan amal kebaikan berupa sholawat (menghadiahkan doa selamat bagi Rasulullah) sebelum doa inti kita panjatkan kepada Allah SWT

☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
✒️“Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.”
📚(HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

👳📖Anas bin Malik r.a meriwayatkan
⬇️Bahwa
☪️Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:
✒️“Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.
☪️Firman Allah Ta’ala yang artinya
✒️“dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
✒️Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
📚(QS Al Baqarah [2]:186 )
📖Dalam firmanNya tersebut telah disampaikan syarat agar doa kita dapat dikabulkanNya
⬇️Yakni
✒️“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”
🤔Siapakah muslim yang menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya, beriman kepada Allah serta selalu dalam kebenaran atau selalu berada di atas jalan yang lurus ?
✍️Jawabannya adalah muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih manzilah (maqom atau derajat) disisiNya yakni muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan yakni muslim selalu yakin diawasi oleh Allah SWT atau muslim yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh)
👳Lalu dia bertanya lagi,
✒️‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘
☪️Beliau menjawab,
✒️‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.
📚(HR Muslim 11)
☪️Firman Allah Ta’ala yang artinya
✒️“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
📚(QS Al Faathir [35]:28)
👳Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah SWT atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.
👳Muslim yang memandang Allah Ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

👳Imam Qusyairi mengatakan
✒️“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak.
✒️Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”

👳Ubadah bin as-shamit ra. berkata,
⬇☪️Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
✒️“Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda
✒️“Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“.
📚(HR. Ath Thobari)

👳Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama
✍️Zi’lib Al-Yamani,
✒️“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
👳Beliau menjawab,
✒️“Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
✍️“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
👳Sayyidina Ali ra menjawab
✒️“Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
👳🤍Tidak semua manusia dapat menggunakan hatinya

🤠🖤Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
🕺🖤Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
🧘🖤Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
🧘🕺Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah Ta’ala,
⬇️Pada saat yang sama
🧘👐Ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
🧘🕺Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.
🖤Setiap dosa merupakan bintik hitam hati,
🤍Sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

☪️Firman Allah Ta’ala yang artinya,
✒️Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna ,
“mereka tuli, bisu dan buta (tidak dapat menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”
📚(QS Al BAqarah [2]:18)

✒️shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna ,
“mereka tuli (tidak dapat menerima panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.
📚(QS Al Baqarah [2]:171)

✒️“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
📚(QS. Al Hajj 22 : 46)

✒️“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”
📚(QS Al Isra 17 : 72)

👳Para ulama Allah mengatakan bahwa hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll.
🕺Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya.
✍️Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).

☪️Rasulullah bersabda:
✒️“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.”
📚(Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)

☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
✒️“Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”
📚(HR. Muslim)

📖Dalam sebuah hadits qudsi,
☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ,
✒️“Allah berfirman, Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaianKu.
✒️Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya”.
📚(HR. Muslim)

☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
✒️“Kemuliaan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya.”
📚(HR Muslim)

👳Sayyidina Umar ra menasehatkan
✒️“Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat.
👇Tiga perkara tersebut adalah
✅Santun ketika mengingatkan orang lain;
✅Wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang;
✅Dan akhlak mulia dalam bermasyarakat (bergaul)“.

👳Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
✒️“Musllim yang bagaimana yang paling baik?”
✒️“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya”
👆☪️Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

☪️Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda
✒️“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“.
📚(HR. Ahmad)

👳Sayyidina Umar ra menasehatkan,
✒️“Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras).
✒️Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“

☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan akan bermuncululan orang-orang yang bertambah ilmunya namun semakin jauh dari Allah karena tidak bertambah hidayahnya.

☪️Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
✒️“Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

⚠️Sungguh celaka orang yang tidak berilmu.
⚠️Sungguh celaka orang yang beramal tanpa ilmu
⚠️Sungguh celaka orang yang berilmu tetapi tidak beramal
⚠️Sungguh celaka orang yang berilmu dan beramal tetapi tidak menjadikannya muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan.

✍️Urutannya adalah ilmu, amal, akhlak (ihsan)

⚛️Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah Ta’ala.
👳Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah SWT semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).
👳Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.
👳Muslim yang berada di atas kebenaran adalah muslim yang memperoleh atau dikaruniai (dianugerahi) nikmat oleh Allah SWT karena Dia menghendakinya dan mensucikan mereka dengan akhlak yang tinggi sehingga menjadi muslim yang ihsan, muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang meraih maqam (manzilah, kedudukan, derajat) di sisi Allah dan menjadi kekasih Allah (Wali Allah) serta berkumpul dengan Rasulullah.

☪️Firman Allah Ta’ala yang artinya,
✒️”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…”
📚(QS An-Nuur:21)

✒️“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.”
📚(QS Shaad [38]:46-47)

✒️“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu”
📚(QS Al Hujuraat [49]:13)

✒️“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” 📚(QS Al Fatihah [1]:6-7)

✒️“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” 📚(QS An Nisaa [4]: 69)

👳Jadi orang-orang yang selalu berada dalam kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus adalah orang-orang yang diberi karunia ni’mat oleh Allah atau orang-orang yang telah dibersihkan (disucikan / dipelihara) oleh Allah Ta’ala sehingga terhindar dari perbuatan keji dan mungkar dan menjadikannya muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah dan yang terbaik adalah muslim yang dapat menyaksikanNya dengan hatinya (ain bashiroh).

☪️Hubungan yang tercipta antara Allah Ta’ala dengan al-awliya (para wali Allah) menurut Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan).

☪️Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

☪️Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadiranNya, hudhur ma’ahu wa bihi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad