๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•*๐‘ด๐’‚๐’‹๐’†๐’๐’Š๐’” ๐‘จ๐’‰๐’๐’–๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’Š๐’• :๐Ÿ“–*๐‘ฒ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰ ๐‘ป๐’†๐’๐’‚๐’…๐’‚๐’ ๐‘จ๐’‰๐’๐’–๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’Š๐’• ๐‘น๐’‚๐’”๐’–๐’๐’–๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐‘บ๐‘จ๐‘พ

♻️*"๐€๐ฌ๐ฐ๐š๐ฃ๐š_๐‚๐ฒ๐›๐ž๐ซ"*๐Ÿ“ก

๐ŸŒ.Https://t.me/abi_aqilla
๐ŸŒ.Https://t.me/Aswaja_Cyber

           ┈┈••••❁✵๐Ÿ•Œ✵❁••••┈┈

๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•*๐‘ด๐’‚๐’‹๐’†๐’๐’Š๐’” ๐‘จ๐’‰๐’๐’–๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’Š๐’• :
๐Ÿ“–*๐‘ฒ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰ ๐‘ป๐’†๐’๐’‚๐’…๐’‚๐’ ๐‘จ๐’‰๐’๐’–๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’Š๐’• ๐‘น๐’‚๐’”๐’–๐’๐’–๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐‘บ๐‘จ๐‘พ

๐Ÿ“–Diriwayatkan bahwa pada suatu hari,
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Imam Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan Zainab sedang bersiap-siap untuk berbuka puasa atas nadzar yang telah diucapkan demi kesembuhan Imam Hasan dan Imam Husain. 

๐ŸžTak ada hidangan yang tersedia kecuali masing-masing memegang sepotong roti kering.
๐ŸžKetika roti akan dimakan, terdengar suara pintu rumah mereka diketuk orang.
๐Ÿ Maka dibukakanlah pintu itu terlebih dahulu.
๐Ÿ˜ขYang datang adalah seorang miskin,
๐ŸคฒYang meminta sesuatu untuk berbuka puasa,
๐Ÿฝ️Sebab ia tak mempunyai makanan sedikit pun.

๐Ÿ˜ขIa berkata,
✅“Wahai penghuni rumah kecintaan Rasulullah!
๐Ÿ˜ขAku adalah seorang miskin yang tak punya apa-apa, bahkan untuk berbuka puasa pada hari ini.
๐ŸคฒTolonglah aku, wahai pribadi-pribadi mulia.
๐ŸคฒBerbagilah denganku atas rezeki yang diberikan Allah kepada kalian.
๐ŸคฒSemoga Allah memuliakan kalian karenanya.”

๐Ÿ‘ณImam Ali diam sejenak. Ia memandang anggota keluarganya yang lain.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Seisi rumah berpandang-pandangan.
๐Ÿ‘ณNamun, tak lama, segera ia mengambil roti bagiannya sendiri, dan bergegas hendak menyerahkannya kepada si miskin, tapi langkahnya terhenti. 

๐Ÿ‘ณIa sangat terharu, karena seisi rumah ternyata melakukan hal yang sama.
๐Ÿฅ›Mereka menyerahkan bagiannya masing-masing, dan akhirnya mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih.

๐ŸŒ…Hari berikutnya, kejadian serupa terulang kembali.
⛓️Kali ini yang datang adalah seorang muslim yang baru saja dibebaskan oleh kaum kafir setelah ia ditawan beberapa lama.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Dan hari kedua itu pun, mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih.

๐ŸŒ…Sampailah pada hari yang ketiga. Ketika keluarga ini tengah bersiap-siap menunggu adzan Maghrib, mereka dikejutkan oleh ketukan pintu. Ketukan itu sebenarnya sangatlah perlahan. 

๐Ÿ‘ณImam Ali, selaku kepala keluarga, berjalan membukakan pintu. Ia terkejut,
๐Ÿ‘ถKarena tamunya pada kesekian kalinya adalah seorang bocah.
✅“Aku adalah seorang yatim.
๐Ÿ‚Ayahku telah lama meninggal dunia,
๐Ÿง•๐ŸŒดIbuku bekerja sendirian.
๐Ÿ˜ขSedang aku, sudah beberapa hari ini perutku kosong, tak kemasukan makanan apa-apa,” kata bocah itu sembari memelas dengan wajah tertunduk.

๐Ÿ‘ณImam Ali terharu. Matanya berkaca-kaca.
๐ŸžTanpa pikir panjang, ia bergegas mengambil sepotong roti yang menjadi bagiannya.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Tapi, lagi-lagi ia kebingungan, karena seisi rumah serempak mengikuti langkahnya.
๐Ÿ‘ณIa menoleh ke belakang, dan dengan perasaan terharu yang semakin dalam ia berkata,
✅“Sudahlah. Biar aku saja yang memberikan bagianku.
✅Kalian…Makanlah bagian kalian!”

✅“Sungguh bagaimana mungkin seorang ibu akan merasa kenyang, sementara ia tahu puteranya menggigil karena menahan lapar?”
๐Ÿง•☝️Kata Fatimah sambil juga menahan air mata๐Ÿ˜ข.

✅“Baiklah.
Tetapi engkau, anak-anakku, makan sajalah bagian kalian, biar ayah dan ibu yang mengurus keperluan anak itu,”
๐Ÿ‘ณ☝️Kata Imam Ali.

✅“Tidak wahai ayah.
Bagaimana mungkin aku akan makan bagianku, sementar aku tahu bahwa seorang anak yang lebih kecil usianya daripadaku harus berjuang menahan lapar?”
๐Ÿง’☝️Kata Hasan.

✅“Tidak wahai ayah.
Bagaimana aku akan makan dengan tenang, sementara aku tahu, bahwa di luar rumah ini seorang sahabatku harus menanggung lapar,”
๐Ÿง’☝️Kata Husain tak kalah tangkas dari kakaknya.

๐Ÿ‘‡Tidak lama berselang,
๐Ÿง‘Zainab yang usianya masih sangat kecil sambil menangis,
๐Ÿง•Mendapati ibunya dan memeluknya seraya bertutur,
✅“Tidak wahai ayah.
Aku tidak mau makan.
Aku tidak mau makan sendirian, sementara kakakku Hasan dan Husain tidak makan.
Aku tidak lapar ibu.
Berikan bagianku kepada anak itu, teman kakakku Hasan dan Husain.”

๐ŸžRoti itu pun diserahkan, dan kembali mereka berbuka hanya dengan segelas air, di hari itu.
☪️Keadaan yang demikian itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika beliau menjenguk mereka di pagi harinya. 

☪️Rasulullah sangat terperanjat melihat keadaan keluarga puterinya itu, terutama melihat cucu-cucunya yang masih kecil-kecil terkulai tanpa tenaga.
☪️Beliau memeluk cucunya dan berdoa,
✅“Ya Allah, tolonglah keluarga Muhammad yang hampir kelaparan.”

☪️Saat itu, turun firman Allah :
✅“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas berisi minuman yang campurannya adalah air kafur (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.
✅Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.
✅Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
✅Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
✅Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
✅Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.”
๐Ÿ“š(QS. Al-Insan [76]: 05-12)

๐Ÿ“–Sungguh merupakan peristiwa monumental yang terjadi ribuan tahun silam.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Manusia-manusia pilihan itu telah menggetarkan dan menggegerkan altar sejarah dunia sosial tentang bagaimana seyogyanya seseorang mampu berempati, merasakan kesusahan dan kegelisahan hidup yang dialami seseorang.

๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Keluarga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam (Ahlul Bait) memang layak diacungi jempol atas kesadaran yang muncul dari alam bawah sadar bahwa sebaik-baik harta adalah yang berdaya guna bagi masyarakat kaum papa.
✅Pantang bagi keluarga Rasul untuk tidak memberi ketika orang yang dalam kesulitan hidup datang meminta bantuan.

๐Ÿ“–Ayat di atas turun guna menegaskan kedermawann yang diperlihatkan oleh Sayyidina Ali dan Fatimah serta kedua puteranya Hasan dan Husain.
๐Ÿ“–Peristiwa ini terekam dalam Al-Quran agar menjadi memori di hati kita sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi sifat kesetiakawanan sosial.

๐ŸคInilah proses penyucian harta.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Seberat apapun beban yang harus ditanggung, toh keluarga Rasul tak sampai hati membiarkan saudaranya sengsara dalam kemiskinan, kelaparan dan ketidakberdayaan.
๐Ÿ‘ณ๐Ÿง•Keluarga Nabi telah memberikan tauladan kepada kita untuk mempunyai empati dan solidaritas sosial kepada sesama.
✅Sungguh sebuah fragmen yang menakjubkan. 

☪️Demikianlah Islam mengajarkan ‘konsep manusia sempurna’. Sebuah konsep yang mengilustrasikan bagaimana seorang mukmin perlu memiliki kepekaan dan kepedulian atas ketimpangan yang dialami oleh sesamanya.

           ┈┈••••❁✵๐Ÿ•Œ✵❁••••┈┈

✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten.
๐Ÿ™Salam santun.
๐ŸŒhttps://t.me/Aswaja_Cyber


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad