๐๐ด๐ฉ๐ฌ๐ต๐จ๐น๐ฒ๐จ๐ฏ ๐จ๐ฏ๐ณ๐ฐ ๐ฒ๐ผ๐ฉ๐ผ๐น ๐ด๐ฌ๐ต๐ฎ๐ฌ๐ต๐จ๐ณ๐ฐ ๐ถ๐น๐จ๐ต๐ฎ ๐๐จ๐ต๐ฎ ๐ด๐ฌ๐ต๐๐ฐ๐จ๐น๐จ๐ฏ๐ฐ๐ต๐๐จ
⚛️*"๐๐ฌ๐ฐ๐๐ฃ๐_๐๐ฒ๐๐๐ซ"*๐ก
⬇️ Telegram Link
Https://t.me/Andi_Chavlins
Https://t.me/Aswaja_Cyber
┈┈••••❁✵๐✵❁••••┈┈
๐๐ด๐ฉ๐ฌ๐ต๐จ๐น๐ฒ๐จ๐ฏ ๐จ๐ฏ๐ณ๐ฐ ๐ฒ๐ผ๐ฉ๐ผ๐น ๐ด๐ฌ๐ต๐ฎ๐ฌ๐ต๐จ๐ณ๐ฐ ๐ถ๐น๐จ๐ต๐ฎ ๐๐จ๐ต๐ฎ ๐ด๐ฌ๐ต๐๐ฐ๐จ๐น๐จ๐ฏ๐ฐ๐ต๐๐จ
๐Banyak sekali kebaikan yang bisa dilakukan untuk orang yang telah meninggal.
๐คฒSalah satu kebaikan yang dapat dilakukan itu ziarah ke kuburnya dan mendoakannya.
๐คPertanyaannya, benarkah ahli kubur tahu siapa saja yang menziarahi kuburnya?
๐Konon pada malam Jumat,
๐Ahli kubur berada di kuburnya dan menanti kiriman doa keluarganya.
๐คBenarkah demikian?
๐Kemudian, jika ahli kubur mengetahui siapa saja yang menziarahi kuburnya
๐คBolehkah si keluarga atau si peziarah menyampaikan sesuatu atau meminta doa kepada mereka?
✍️Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini,
๐คTentunya kita membutuhkan dalil dan pandangan para ulama, terutama para ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
๐คPertanyaan tentang tahu dan tidaknya ahli kubur terhadap orang-orang yang menziarahinya
✍️Sungguhnya telah terjawab oleh
๐ณRiwayat Al-Baihaqi dalam
๐Kitab Syu‘abul Imam
๐ณDari Muhammad bin Wasi‘.
⬇️Ia menyebutkan:
ุจَูุบِูู ุฃَู ุงْูู
َْูุชَู ูุนูู
َُูู ุจุฒูุงุฑูู
َْููู
ุงْูุฌُู
ُุนَุฉ ََْูููู
ุง ูุจูู ََْูููู
ุง ุจุนุฏู
⬇️Artinya,
✒️“Telah sampai kepadaku bahwa orang-orang yang telah meninggal mengetahui orang yang menziarahinya pada hari Jumat, serta satu hari sebelum dan setelahnya.”
⬇️Hal ini ditegaskan oleh
๐ณAs-Suyuthi sebagaimana riwayat Al-‘Uqaili dari Abu Hurairah.
✍️Hal ini malahan pernah ditanyakan
⬇️Kepada
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam oleh seorang sahabat bernama Abu Razin.
๐ณTanya Abu Razin,
✒️“Wahai Rasul, jika aku mau berjalan lewat kuburan orang-orang meninggal, adakah ucapan yang dapat aku sampaikan ketika melewati mereka?
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab.
✒️“Ucapkanlah olehmu:
ุงَูุณََّูุงู
ُ ุนََُْูููู
ْ َูุง ุฃََْูู ุงُْููุจُْูุฑِ ู
َِู ุงْูู
ُุณِْูู
َِْูู َูุงْูู
ُุคْู
َِِْููู، ุฃَْูุชُู
ْ ََููุง ุณٌََูู ََููุญُْู َُููู
ْ ุชَุจَุนٌ، َูุฅَِّูุง ุฅِْู ุดَุงุกَ ุงُููู ุจُِูู
ْ َูุงุญَُِْููู
⬇️Artinya,
✒️‘Salam keselamatan teruntuk kalian, wahai ahli kubur dari orang-orang muslim dan mukmin.
✒️Kalian adalah pendahulu bagi kami.
✒️Dan kami adalah pengikut kalian.
✒️Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian.’”
๐ณDitanyakan oleh Abu Razin,
✒️“Memangnya mereka mendengar?”
✒️“Mereka mendengar, namun tidak bisa menjawab.
✒️Hai Abu Razin, tidakkah engkau rida ucapanmu dijawab malaikat sebanyak mereka?”
⬆️☪️Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
๐ณDitambahkan oleh As-Suyuthi,
⬇️Maksud
➡️“Mereka tidak mampu menjawab”
✍️Di sini adalah menjawab dengan jawaban yang tak terdengar oleh orang hidup.
⬇️Artinya,
๐Mereka tetap menjawab hanya saja tak terdengar oleh orang yang hidup.
๐ค(Lihat Syekh ‘Ali bin Sultan Muhammad, Mirqatul Mafatih, [Beirut, Darul Fikr: 2002 M], jilid IV, halaman 1259).
✍️Selanjutnya,
๐Perihal keberadaan arwah sejak kematian sampai hari Kiamat, para ulama Ahli Sunnah berbeda pendapat.
✅Pendapat yang mengatakan bahwa pada hari Jumat mereka berada di kuburnya dan menanti kiriman doa keluarganya,
⬇️Mungkin
๐ณDidasarkan pada pendapat al-Yafi‘i sebagaimana dikutip oleh
๐ณSyekh Jalaluddin As-Suyuthi.
⬇️Ia menyatakan:
ِูู ู
َูุถِุน ุขุฎุฑ ู
َุฐَْูุจ ุฃูู ุงูุณّูุฉ ุฃَู ุฃَุฑَْูุงุญ ุงْูู
َْูุชَู ุชุฑุฏ ِูู ุจุนุถ ุงْูุฃََْููุงุช ู
ู ุนูููู ุฃَู ู
ู ุณِุฌِّูู ุฅَِูู ุฃَุฌْุณَุงุฏูู
ِูู ُูุจُูุฑูู
ุนِْูุฏ ุฅِุฑَุงุฏَุฉ ุงููู ุชَุนَุงَูู ูุฎุตูุตุง ََْูููุฉ ุงْูุฌُู
ُุนَุฉ ููุฌูุณูู ََููุชَุญَุฏَّุซَُูู ูููุนู
ุฃูู ุงَّููุนูู
ููุนุฐุจ ุฃูู ุงْูุนَุฐَุงุจ ูุชุฎุชุต ุงْูุฃَุฑَْูุงุญ ุฏูู ุงูุฃุฌุณุงุฏ ุจุงููุนูู
ุฃَู ุงْูุนَุฐَุงุจ ู
َุง ุฏَุงู
َุช ِูู ุนูููู ุฃَู ุณِุฌِّูู َِููู ุงَْููุจْุฑ ูุดْุชَุฑู ุงูุฑّูุญ ูุงูุฌุณุฏ
⬇️Artinya,
✒️Dalam pendapat ulama Ahli Sunnah yang lain disebutkan bahwa pada waktu-waktu tertentu roh orang-orang yang meninggal dikembalikan dari ‘iliyyin atau sijjin ke jasad mereka yang ada dalam kubur ketika Allah berkehendak, dan khususnya pada malam Jumat.
✒️Sehingga mereka bisa duduk dan berbincang.
✒️Ahli nikmat mendapat nikmat,
✒️Sedangkan ahli azab akan mendapat siksa.
✒️Selama berada di ‘iliyyin atau sijjin, roh tanpa jasad mendapat nikmat atau azab.
✒️Sedangkan ketika berada dalam kubur, roh bersama-sama jasad (menerimanya).
๐(Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Syarhus Shudur bi Syarhi Halil Mauta wal Kubur, [Beirut, Darul Ma‘rifah: 1996 M], halaman 220).
๐ณPendapat Malik bahkan mengatakan,
✒️Roh itu dilepaskan ke mana saja ia ingin pergi.
✍️Ini sejalan dengan riwayat yang menyatakan bahwa terkadang roh itu berada di halaman kuburan.
๐Kemudian menurut riwayat Mujahid,
✒️Tujuh hari penuh roh itu berada dalam kubur.
✒️Terutama pada hari penguburan.
✒️Ia dikembalikan ke jasad bukan pada saat ditanya Munkar Nakir saja,
๐๐ณSebagaimana hadits sahih riwayat Ibnu ‘Abdil Barr.
⬇️Dalam riwayat itu,
☪️Nabi Muhammad SAW bersabda:
ู
َุง ู
ِْู ุฑَุฌٍُู َูู
ُุฑُّ ุจَِูุจْุฑِ ุงูุฑَّุฌُِู ุงَّูุฐِู َูุงَู َูุนْุฑُُِูู ِูู ุงูุฏَُّْููุง َُููุณَِّูู
ُ ุนََِْููู، ุฅَِّูุง ุฑَุฏَّ ุงَّููู ุนََِْููู ุฑูุญู ุญَุชَّู ูุฑุฏ ุนََِْููู ุงูุณََّูุงู
⬇️Artinya,
✒️“Tidaklah seorang laki-laki melintas ke kuburan laki-laki meninggal yang dikenalinya saat di dunia,
✒️Kemudian ia mengucap salam kepadanya,
✒️Kecuali Allah mengembalikan roh kepada (jasad)nya sehingga yang meninggal itu bisa menjawab salam kepadanya.”
✍️Jika memperhatikan beberapa pendapat dan juga riwayat di atas, terutama pendapat Malik,
✅๐Keberadaan roh di kuburnya dan menanti kiriman doa setiap malam Jumat dapat dibenarkan.
✅๐Sebab, pada malam itu, roh dikembalikan.
✅๐Bahkan menurut An-Nasafi, roh dibebaskan dari azab.
✅๐Selain malam jumat, roh juga dikembalikan dan dibebaskan pada bulan suci Ramadhan.
⬇️Tak sampai di situ,
๐ณDalam riwayat Abu Nu‘aim dari Ibnu Mas‘ud,
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa siapa saja yang kematiannya bersamaan dengan berakhirnya bulan Ramadhan, maka ia akan masuk surga.
๐(Lihat As-Suyuthi, 1996 M: 306).
๐คLantas bagaimana keberadaan ahli kubur saat diziarahi seseorang?
๐คBenarkah mereka bergembira karena diziarahi dan didoakan?
✍️Pertanyaan ini sudah dijawab oleh
๐ณIbnu Hajar al-Haitami dengan riwayat yang menyatakan:
ุขูุณ ู
َุง ูููู ุงْูู
َِّูุช ِูู َูุจุฑู ุฅِุฐุง ุฒَุงุฑَُู ู
ู َูุงَู ُูุญِุจُู ِูู ุฏَุงุฑ ุงูุฏَُّْููุง
⬇️Artinya,
✒️“Sesenang-senangnya mayat di alam kubur adalah ketika diziarahi oleh orang yang dicintainya semasa di dunia,”
๐(Lihat Irsyadul ‘Ibad, halaman 32).
๐คLogika sederhananya,
๐คJika orang hidup saja merasa senang saat dikunjung orang yang dicintainya,
๐ค๐Apalagi orang yang sudah meninggal.
✍️๐Bagaimana tidak, karena orang meninggal sudah berada di negeri yang terasing dari keluarga, saudara, dan kerabatnya.
✍️๐Ketika mereka berziarah, memberi hadiah doa bacaan Al-Quran, atau hadiah sedekah, tentu ahli kubur sangat senang.
☪️Oleh karena itu Rasulullah SAW mensyariatkan ziarah, mendoakan mereka agar mendapat rahmat dan ampunan,
Namun beliau tak memperkenankan untuk menyampaikan sesuatu kepada ahli kubur selain salam dan lantunan doa, meminta sesuatu secara langsung kepadanya, atau minta didoakan kepadanya sebagaimana pandangan ulama ahli hadits.
Wallahu a’lam.
✍️Sumber :
๐ณUstadz M Tatam, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
┈┈••••❁✵๐✵❁••••┈┈
✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten.
๐Salam santun.
https://t.me/Aswaja_Cyber
Komentar
Posting Komentar