aAliran Murji'ah dan Teori Murji'ah
Aliran Murji'ah dan Teori Murji'ah
Golongan Murji'ah ini mula-mula timbul di Damaskus, pada akhir abad pertama hijriah. Nama Murji'ah berasal dari kata irja atau arja'a yang berarti penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja'a bermakna juga memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan Rahmat Allah.
Selain itu, arja'a juga berarti meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengutamakan iman dari pada amal. Oleh karena itu, Murji'ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa (yakni Ali dan Muawiyah serta pengikut masing-masing) kelak di hari kiamat.
Ada juga teori teori yang menjelaskan asal usul adanya aliran murjiah. Teori pertama mengatakan bahwa gagasan irja atau arja'a dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan untuk menghindari sektarianisme.
Aliran ini di sebut murji'ah karena menunda penyelesaian permasalahan antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyyah Ibn Abi Sufyan dan Khawarij ke hari perhitungan di akhirat nanti. Aliran ini menyatakan bahwa orang yang berdosa tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan Rasul Nya. Sedangkan orang yang melakukan dosa besar, orang tersebut di akhirat baru ditentukan hukuman nya.
Aliran ini muncul dilatarbelakangi oleh persoalan politik.
Teori lain mengatakan bahwa gagasan irja muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Tholib yaitu Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah sekitar tahun 695 M. Dengan gerakan politik tersebut Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah mencoba menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia mengelak berdampingan dengan kelompok Syi'ah yang terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui ke khalifahan Muawiyah.
Adapun secara istilah, murjiah adalah kelompok yang mengesampingkan atau memisahkan amal dari keimanan, sehingga menurut mereka suatu kemaksiatan itu tidak mengurangi keimanan seseorang.
Tokoh utama aliran Murji'ah ialah
Hasan bin Bilal Al-Muzni,
Abu Salat As-Samman,
Tsauban Dliror bin 'Umar.
Penyair Murji'ah yang terkenal pada pemerintahan Bani Umayah ialah Tsabit bin Quthanah, mengarang syair kepercayaan-kepercayaan kaum Murji'ah.
Pecahan Murjiah
Menurut Harun Nasution secara garis besar membagi Murjiah menjadi dua sekte yaitu golongan moderat dan golongan ekstrem. Murjiah moderat berpendapat bahwa pendosa besar tetap mukmin tidak kafir dan tidak kekal di neraka mereka disiksa sebesar dosanya dan tergantung dosa apa yang dilakukan. Kendati demikian, masih terbuka kemungkinan tuhan akan mengampuni dosanya sehingga bebas dari siksaan neraka. Ciri khas mereka lainya adalah dimasukkannya iqrar sebagai bagian penting dari iman.
Adapun kelompok ekstrim Murjiah antara lain:
1. Jahmiyah, kelompok jahm bin softwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang beriman tetapi menyatakan dirinya kufur secara lisan tidak dianggap kafir karena iman dan kufur dan tempatnya di dalam hati, bukan di bagian lain (lisan).
2. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihy, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui tuhan dan kufur adalah tidak mengetahui Tuhan. Sekte berpendapat bahwa ibadah adalah iman kepadanya dalam arti mengetahui Tuhan. Shalat, puasa, zakat, haji, dll bukan termasuk ibadah melainkan hanya menggambarkan sebuah kepatuhan.
3. Yunusiah dan ubaidiah, melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau pekerjaan-pekerjaan jahat atau merugikan orang lain tidak termasuk dalam perilaku yang dapat merusak iman.
4. Hasaniyah, menyebutkan bahwa jika seseorang mengatakan saya tahu tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan adalah kambing ini. Orang tersebut tetap mukmin tidak kafir.
Prngaruh Aliran Murji'ah
Diantara pengaruh-pengaruh yang masih berkembang dewasa ini adalah:
Taklid
Menjadi hal yang biasa ketika ada anak yang lahir dari orang tua muslim juga dikatakan seorang muslim. Padahal mereka belum tahu tentang apa itu Islam bahkan kadang sampai masa dewasanya. Khususnya mereka yang dari kecil sangat sedikit mengenyam pendidikan keagamaan. Mereka Islam hanya ikut-ikutan atau bisa dibilang turunan. Ketika ditanya tentang agama, mereka begitu antusias menjawab "Islam" bahkan ada yang memberi embel-embel Ahlu Sunnah Wa Jama'ah tanpa lebih dulu tau akan semuanya
Penundaan dan penangguhan
Penunndaan ialah menunda nunda apapun yang dikerjkan maupun dilakukan dalam kehidupan sehari, itulah kebiasaan manusia jika melakukan sesuatu selalu berfikir nanti dan nanti hingga menunda nunda hal tersebut. Seperti tugas ibadah pekerjaan dan lain sebagainya.
Iman dan Kufur
Tidak ada yang berhak memberikan hukuman atau menentukan iman dan tidak imannya seseorang selain Tuhan sendiri. Dan mereka tetap memiliki bagian di surga dengan secuil iman meskipun tanpa amal sebagai penghargaan. Sudah diketahui sebelumnya bahwa termasuk salah satu ajaran Murji'ah adalah tidak berpengaruhnya amal akan keimanan seseorang. Meskipun mereka yang beriman tidak menjalankan syari'at bahkan menentangnya, mereka tetap tidak kufur dan bisa masuk surga. Hal ini sudah menjadi pegangan masyarakat dan dalih mereka ketika melakukan dosa atau bahkan menentang agama
Pengampunan Tuhan
Di zaman sekarang, banyak ditemukan orang yang berlebihan dan keterlaluan khususnya dalam maksiat. Bahkan mereka tidak merasa bahwa apa yang dikerjakan adalah dosa. Mereka terlalu berlebihan memahami sifat Ghaffar-Nya Allah atau bisa saja dibilang salah paham. Mereka yang bergelut dengan maksiat ketika ditanya tentang apa yang dilakukannya, akan menjawab bahwa pengampunan Allah begitu luas dan tidak terbatas. Hal ini bisa saja merupakan pengaruh Murji'ah ekstrem yang mewajibkan pengampunan Allah terhadap segala dosa dengan konsep penangguhannya
Ajaran pokok Murji'ah pada dasarnya ada dua, yaitu tentang pelaku dosa besar dan tentang iman :
Tentang pelaku dosa besar, bahwa selama seseorang meyakini tiada Tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad adalah Rasul Nya, maka ia dianggap mu'min bukan kafir, karena amal tidak sampai merusak iman. Kalaupun ia tidak diampuni Alloh SWT dan dimasukkan ke dalam neraka, ia tidak kekal di dalamnya seperti orang kafir.
Iman adalah keyakinan dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad SAW dalah RasulNya.
Komentar
Posting Komentar