AL-GHOZZALI DAN ILMU HADIS

⚛️*๐‘จ๐’”๐’˜๐’‚๐’‹๐’‚_๐‘ช๐’š๐’ƒ๐’†๐’“๐Ÿ“ก
๐Ÿช.https://t.me/Andi_Chavlins
๐Ÿช.https://t.me/aswaja_cyber

               ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

✍️*๐‘ด๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’˜๐’‚๐’ƒ ๐‘ป๐’–๐’…๐’Š๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘พ๐’‚๐’‰๐’‚๐’ƒ๐’Š :
๐Ÿ‘ณ๐Ÿ“šIMAM AL-GHOZZALI DAN ILMU HADIS

๐Ÿ‘ณSelain tercitra sebagai tokoh besar tasawuf dan sufi, Al-Ghozzali (wafat tahun 505 H)
๐Ÿ‘‡Dicitrakan
๐Ÿง”Oleh sejumlah dai sebagai tokoh yang miskin ilmu hadis.
✍️Opini ini didasarkan pada ucapan Al-Ghozzali sendiri sebagaimana dinukil oleh
๐Ÿ‘ณIbnu Katsir dalam kitab 
๐Ÿ“š“Al-Bidayah Wa An-Nihayah”. Ibnu Katsir menulis,

ูƒَุงู†َ ุงู„ْุบَุฒَّุงู„ِูŠُّ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ุฃَู†َุง ู…ُุฒْุฌَู‰ ุงู„ْุจِุถَุงุนَุฉِ ูِูŠ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ

✒️“Al-Ghozzali berkata, saya ini sedikit pengetahuan dalam hadis” 
๐Ÿ“š(Al-Bidayah Wa An-Nihayah, juz 16 hlm 214)

๐Ÿง”Di tangan para awam, informasi semacam ini lambat laun dipahami dan dipersepsikan bahwa Al-Ghozzali adalah tokoh yang bodoh dalam ilmu hadis!
๐Ÿ‘ณBeliau juga diopinikan sebagai
๐Ÿ‘‰“Hathibu Lail” (ุญุงุทุจ ู„ูŠู„) 
๐Ÿ‘‡Yang secara harfiah bermakna ✍️“Pemungut kayu bakar di malam hari” sebagai ungkapan orang yang mengambil hadis tanpa meneliti dan menyaringnya.

๐Ÿค”Benarkah opini itu?

✍️Untuk mengetahui akurasi opini tersebut,
๐Ÿ‘‡Mari kita ulas
๐Ÿ“šKitab Al-Ghozzali yang paling populer yaitu “Ihya’ Ulumiddin”.

๐ŸงฎDalam hitungan Mamduh (sebagaimana beliau tulis dalam kitab “Is’af Al-Mulihhin”)
๐Ÿ“–Jumlah riwayat yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin adalah 4848 buah.
✍️Angka ini hanyalah perkiraan, karena Mamduh bertumpu pada kitab
๐Ÿ“š“Al-Mughni ‘An Hamli Al-Asfar” karya Al-Iroqi,
๐Ÿ‘ณSementara Al-‘Iroqi sendiri mengakui bahwa beliau bisa jadi luput tidak mentakhrij hadis tertentu karena faktor lupa.

⚖️Coba kita bandingkan.

๐Ÿ“–Angka 4848 buah riwayat ini, jika dibandingkan dengan riwayat dalam
๐Ÿ‘ณMuwattho’ Malik jelas lebih besar, karena riwayat Muwattho’ Malik tidak mencapai jumlah 4000.
✍️Bahkan angka ini masih lebih besar daripada jumlah hadis dalam
๐Ÿ‘ณSunan Ibnu Majah yang “hanya” 4300-an saja.

๐Ÿค”Apakah kita membayangkan Al-Ghozzali memasukkan hadis-hadis itu ke dalam kitabnya dengan cara copy-paste seperti orang di zaman kita dengan cara membrowsing di internet dan software kitab?
๐Ÿ‘Tentu saja tidak.
๐Ÿ‘ณYang paling logis adalah memahami bahwa Al-Ghozzali menghafal riwayat-riwayat tersebut.

๐Ÿค”Coba kita pikirkan.

๐Ÿค—Bagaimana mungkin orang yang menghafal kira-kira 5000 hadis diopinikan sebagai orang yang bodoh dalam hadis?

๐Ÿ“šIni baru menghitung riwayat yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin.
๐Ÿ“šKita belum menghitung riwayat-riwayat yang mestinya juga dikuasai Al-Ghozzali dalam ilmu fikih.
๐Ÿ“šSiapapun yang bersikap adil, pasti akan mengakui bahwa Al-Ghozzali adalah ulama yang menguasai fikih Asy-Syafi’i dan bahkan sangat berperan dalam mengembangkan dan memapankannya.

๐Ÿค”Ada berapa jumlah hadis hukum yang harus dikuasai untuk memahami mazhab Asy-Syafi’i?
✍️Jika kita memakai ukuran kitab
๐Ÿ“š“Al-Badru Al-Munir” yang merupakan kitab takhrij terhadap kitab “Asy-Syarhu Al-Kabir” karya Ar-Rofi’i (yang merupakan syarah dari kitab “Al-Wajiz” karya Al-Ghozzali),
๐Ÿ“–Maka jumlah riwayat yang ada di sana adalah sekitar 3000 buah!

๐Ÿค”Bayangkan,
๐Ÿ‘ณSampai di sini kita sudah bisa memperkirakan bahwa Al-Ghozzali telah menghafal dan menguasai sekitar 8000 hadis! 
๐Ÿค—Bagaimana mungkin orang yang menghafal kira-kira 8000 hadis diopinikan sebagai orang yang bodoh dalam hadis?

๐Ÿ“šLagipula, jika kita kembali ke kitab Ihya’ Ulumiddin lalu kita bandingkan dengan data yang ditulis oleh Al-Iroqi dalam
๐Ÿ“š“Al-Mughni ‘An Hamli Al-Asfar”, maka akan diketahui bahwa Al-Ghozzali telah melakukan telaah yang sangat luas dalam berbagai sumber hadis.
๐Ÿ‘ณBeliau mengambil hadis dari sumber primer hadis yang diperkaya dengan sumber-sumber sekunder.
✍️Malahan, kitab-kitab hadis sebagai sumber primer lebih banyak beliau rujuk untuk mendapatkan hadis dari pada sumber-sumber sekunder.
๐Ÿ‘ณBeliau menukil dari banyak kitab hadis seperti :
๐Ÿ“šSahih Al-Bukhari,
๐Ÿ“šSahih Muslim,
๐Ÿ“šSunan An-Nasai,
๐Ÿ“šSunan Abu Dawud,
๐Ÿ“šSunan Ibnu Majah,
๐Ÿ“šMusnad Ahmad,
๐Ÿ“šKitab-kitab Al-Baihaqi,
Al-Ma’ajim Ats-Tsalatsah Ath-Thobaroni dan lain-lain.
๐Ÿ‘‡Dalam sumber sekunder,
๐Ÿ‘ณAl-Ghozzali banyak menukil dari :
๐Ÿ“šKitab-kitab sufi (seperti “Qut Al-Qulub” karya Al-Makki,
๐Ÿ“šKitab-kitab Al-Harits Al-Muhasibi,
๐Ÿ“šRiwayat-riwayat dari Al-Junaid,
๐Ÿ“šAsy-Syibli,
๐Ÿ“šAbu Yazid Al-Bisthomi dan lain-lain)
๐Ÿ“šDan kitab-kitab fuqoha’.

๐Ÿ“–Jumlah hadis dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang hampir 5000 ini tidak akan dicapai oleh seluruh kitab-kitab sufi yang dikarang sampai zaman itu, bahkan juga tidak dicapai oleh kitab-kitab fikih di zaman itu.
๐Ÿ“šSelain kitab Ihya’ Ulumiddin,
✍️Ada dua kitab lain yang menunjukkan telaah luas Al-Ghozzali dalam ilmu hadis
๐Ÿ‘‡Yaitu
๐Ÿ“š“Al-Mankhul min Ta’liqot Al-Ushul” dan
๐Ÿ“š“Al-Mustashfa min Ilmi Al-Ushul”.

๐Ÿ‘‡Oleh karena itu,
๐Ÿ‘ณUcapan Al-Ghozzali yang berbunyi,

ุฃَู†َุง ู…ُุฒْุฌَู‰ ุงู„ْุจِุถَุงุนَุฉِ ูِูŠ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ

✒️“Saya ini sedikit pengetahuan dalam hadis”

๐Ÿ‘ณUcapan itu justru lebih dekat dipahami menunjukkan ketawadhu’an beliau.
๐Ÿค”Bisa dibayangkan, orang yang menguasai fikih syafi’i berikut dalil-dalilnya dan juga menulis Ihya’ Ulumiddin yang jumlah hadisnya melebihi jumlah hadis dalam kitab Muwattho’ Malik lalu mengatakan bahwa perbendaharaan hadisnya minim!
๐Ÿ‘ณTentu saja ucapan seperti ini lebih layak untuk dipahami sebagai bentuk ketawadhukan dari seorang ulama yang mengetahui kadar dirinya.
๐Ÿ‘ณUcapan Al-Ghozzali juga benar.
✍️Perbendaharaan hadis beliau tentu layak dikatakan lebih sedikit jika dibandingkan dengan ulama-ulama besar sebelum masa beliau yang memang spesialisasinya dalam ilmu hadis seperti :
๐Ÿ‘ณAl-Baihaqi,
๐Ÿ‘ณIbnu ‘Asakir,
๐Ÿ‘ณAd-Daruquthni, l
๐Ÿ‘ณIbnu Mandah,
๐Ÿ‘ณIbnu Khuzaimah
dan semisalnya.

✍️Karena itu,
❎Ucapan tersebut seyogyanya tidak disalahpahami dan malah dipakai untuk menikam Al-Ghozzali.
✅Ucapan itu seharusnya dipakai untuk bersikap proporsional terhadap Al-Ghozzali.
✍️Tegasnya, jangan memposisikan Al-Ghozzali seperti ahli hadis yang bisa ditaklidi dalam hal penilaian hadis karena memang hadis bukan bidang beliau.
✍️Beliau bukan ahli hadis dengan makna bahwa beliau bukan pakar hadis yang sanggup menghafal ratusan ribu hadis, melakukan kritik sanad dan matan, memiliki pengetahuan rijal, ilal dan berbagai disiplin ilmu hadis yang lain.

๐Ÿ‘‡Makna seperti inilah yang disebutkan oleh :
๐Ÿง”Ibnu Taimiyyah ( Rujukan Para Wahabi )
๐Ÿ“šDalam kitab “Dar-u At-Ta’arudh”.
๐Ÿ‘‡Beliau berkata,

ูˆุฃุจูˆ ุญุงู…ุฏ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฎุจุฑุฉ ูˆุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ ูˆุงู„ุณู„ููŠุฉ ู…ุง ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุนุฑูุฉ ุจุฐู„ูƒ، ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชู…ูŠุฒูˆู† ุจูŠู† ุตุญูŠุญู‡ ูˆุณู‚ูŠู…ู‡
.
✒️“Abu Hamid (Al-Ghozzali) tidak memiliki pengetahuan dan perbendaharaan hadis nabi serta riwayat salaf sebagaimana orang yang pakar di bidang tersebut.
Yakni para ahli yang sanggup menilai mana yang sahih dan mana yang tidak sahih
๐Ÿ“š(Dar-u Ta’arudhi Al-‘Aql wa An-Naql, juz 7 hlm 149)

๐Ÿง”Ibnu Taimiyyah juga menyebut bahwa kalaupun ada hadis bermasalah dalam kitab Al-Ghozzali, hal itu bukanlah karena disengaja tetapi hanya karena semata-mata ketidak tahuan.
๐Ÿ‘‡Beliau menulis,

ูˆู„ู‡ุฐุง ูŠุฐูƒุฑ ููŠ ูƒุชุจู‡ ู…ู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆุงู„ุขุซุงุฑ ุงู„ู…ูˆุถูˆุนุฉ ูˆุงู„ู…ูƒุฐูˆุจุฉ ู…ุง ู„ูˆ ุนู„ู… ุฃู†ู‡ุง ู…ูˆุถูˆุนุฉ ู„ู… ูŠุฐูƒุฑู‡ุง

✒️“Oleh karena itu, beliau (Al-Ghozzali) dalam kitab-kitabnya menyebut hadis-hadis dan atsar-atsar yang maudhu’ dan dusta yang mana SEANDAINYA BELIAU TAHU itu maudhu, pasti beliau tidak menyebutkannya”
๐Ÿ“š(Dar-u Ta’arudhi Al-‘Aql wa An-Naql, juz 7 hlm 149)

✍️Dengan memahami Al-Ghozzali seperti ini,
✍️Barangkali tidak salah jika kita katakan bahwa saat ini di Indonesia (bahkan di dunia) tidak ada satupun ulama atau dai yang mencapai derajat ahli hadis setingkat :
๐Ÿ‘ณAl-Baihaqi,
๐Ÿ‘ณIbnu ‘Asakir,
๐Ÿ‘ณAd-Daruquthni,
๐Ÿ‘ณIbnu Mandah,
๐Ÿ‘ณIbnu Khuzaimah,
๐Ÿ‘ณAz-Zaila’i,
๐Ÿ‘ณAl-‘Iroqi,
๐Ÿ‘ณIbnu Al-Mulaqqin,
๐Ÿ‘ณIbnu Hajar Al-‘Asqolani,
๐Ÿ‘ณAs-Sakhowi, dan semisalnya.
✍️Jangankan setingkat mereka, khusus untuk ulama Indonesia, selevel Al-Ghozzali yang kira-kira menghafal 8000 hadis saja mungkin belum ada atau mungkin ada tetapi sangat sedikit.

✍️Dengan fakta seperti ini, wajar jika Al-Ghozzali terjatuh dalam beberapa hadis dhoif, karena beliau kadang-kadang memang merujuk pada kitab-kitab tasawwuf, semantara para sufi sudah dikenal sejak lama suka bermudah-mudah dalam menerima hadis, karena tumpuan utama pembahasan mereka adalah hadis-hadis “roqo-iq” (uraian lebih panjang tentang roqo-iq bisa dibaca dalam catatan saya yang berjudul “Arti Roqoiq”)

๐Ÿ‘ณSelain itu, Al-Ghozzali juga hidup dalam lingkungan akademis yang menonjolkan nalar “’aqli hujji” (rasional-argumentatif), karena beliau adalah murid Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini yang dikenal sebagai pakar besar ilmu kalam.
✍️Dengan lingkungan seperti ini menjadi lebih mudah dimengerti jika perhatian beliau terhadap ilmu hadis tidaklah sekuat perhatian terhadap ilmu kalam, ilmu filsafat dan serangan terhadap pemahaman-pemahaman menyimpang yang bersifat aqli.

✍️Jadi, jika Al-Ghozzali mengalami waham, “dzuhul” dan “khotho’” dalam hadis, maka lebih adil jika kita katakan itu manusiawi karena beliau memang bertaklid dalam menulis hadis pada ulama lain.
❎Tidak boleh dikatakan bahwa Al-Ghozzali jahil (bodoh) dalam ilmu hadis hanya karena sebab ini. ✅Waham, “dzuhul” dan “khotho’” adalah kelemahan yang menimpa seluruh ulama tanpa kecuali, termasuk Al-Ghozzali.

✍️Jika kitab pembersihan jiwa semacam Ihya’ Ulumiddin tidak selamat dari hadis dhoif atau maudhu’, maka kitab-kitab yang lebih ketat dari itu yakni kitab-kitab fikih juga tidak selamat dari riwayat-riwayat lemah. 
๐Ÿ“–Fakta adanya riwayat lemah dalam kitab fikih inilah yang membuat sejumlah ahli hadis membuat kitab takhrij untuk mengulas riwayat-riwayat lemah tersebut.
✍️Kita mengenal kitab-kitab yang ditulis untuk kepentingan ini seperti :
๐Ÿ“š“At-Tahqiq fi Takhriji At-Ta’aliq” karya Ibnu Al-Jauzi,
๐Ÿ“š“Nashbu Ar-Royah” karya Az-Zaila’i,
๐Ÿ“š“Al-Badru Al-Munir” karya Ibnu Al-Mulaqqin dan lain-lain.

๐Ÿ“–Apalagi kitab-kitab tafsir. Banyak kitab tafsir yang mengandung hadis dhoif, maudhu’, bahkan isroiliyyat.
✍️Bahkan kitab-kitab hadis sendiri juga banyak yang mengandung hadis dhoif dan palsu,
๐Ÿ‘‡Yakni
๐Ÿ“šKitab-kitab yang pengarangnya hanya sengaja mengkompilasi, tidak mensyaratkan riwayat sahih.
๐Ÿ“šKitab “Al-Kabair” karya Adz-Dzahabi juga banyak mengandung riwayat-riwayat lemah.

๐Ÿค”Apakah fakta ini membuat kita harus membuang semua kitab-kitab berharga itu?

✍️Tentu tidak. Sikap yang adil mengharuskan kita menyikapi sesuatu secara proporsional.
๐Ÿ‘ณJasa seorang ulama tidak kita ingkari, tetapi pada saat yang sama kita juga kritis untuk menolak hal-hal yang memang tidak benar.

๐Ÿ‘ณUlama masa lalu yang serius mengkaji kitab-kitab Al-Ghozzali ada dua yaitu :
๐Ÿ‘ณAl-Iroqi dan Murtadho Az-Zabidi.
✍️Jadi, untuk mendapatkan gambaran yang lebih adil terhadap Al-Ghozzali,
✍️Adalah langkah yang bijaksana jika merujuk karya-karya mereka berdua yang terkait Al-Ghozzali terutama :
๐Ÿ“šKitab “Al-Mughni ‘an Hamli Al-Asfar” karya Al-‘Iroqi yang merupakan takhrij hadis yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin
dan
๐Ÿ“šKitab “Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin” karya Az-Zabidi yang merupakan syarah kitab Ihya’ Ulumiddin.

              ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

✍️semoga bermanfaat….
silahkan di share tanpa merubah konten. 
salam santun.๐Ÿ™
๐Ÿชถ@๐’ž๐“ธ๐“‡๐“ฎ๐“‰๐’ถ๐“ƒ ๐’ซ๐“ฎ๐“ƒg๐“ฎ๐“‚๐’พ๐“ˆ ๐’Ÿ๐“Š๐“ƒ๐’พ๐’ถ. 
https://t.me/aswaja_cyber




Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad