✍️๐Ÿ‘ณNASEHAT IMAM AL-GHAZALI UNTUK PARA PELAJAR

⚛️๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

๐Ÿ“’*๐‘ด๐’†๐’๐’–๐’‹๐’– ๐‘ป๐’‚๐’’๐’˜๐’‚ :

✍️๐Ÿ‘ณNASEHAT IMAM AL-GHAZALI UNTUK PARA PELAJAR

⚛️“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat,”
๐Ÿ“š(Demikian petuah masyhur guru Imam Syafii, Waqi.)

๐Ÿ‘ณIbnu Mas’ud ra, salah satu Sahabat Nabi saw pernah berwasiat,
✒️Bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang,
✒️Tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam hati.
⚛️Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting.
☪️Rasulullah saw, bersabda,
✒️“Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan”.
๐Ÿ“š(HR. Tirmidzi).

✍️Mengingat kedudukannya yang penting itu,
✒️Maka menuntut ilmu adalah ibadah,
✒️Memahaminya adalah wujud takut kepada Allah,
✒️Mengkajinya adalah jihad,
✒️Mengajarkannya adalah sedekah dan
 ✒️Mengingatnya adalah tasbih.
⚛️Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya.
⚛️Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya.
⚛️Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.

✍️Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu,
๐Ÿ‘ณImam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan jiwanya dari akhlak tercela.
✍️Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah.
๐Ÿง˜Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan.
๐ŸคSebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia,
๐Ÿ–คSedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi.

๐Ÿ’”Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah),
๐Ÿ‘บDan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu.
๐ŸคSedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma’rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu.
๐Ÿ“š(lihat al-munqidz min al-dhalal).

๐Ÿ‘‡Sebagai amalan ibadah,
⚛️Maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akhirat.
๐Ÿ”ฅSebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka,
☪️Rasulullah saw, bersabda,
✒️“Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia.
✒️Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka.”
๐Ÿ“š(HR. Ibnu Majah).

๐ŸคDiawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan.
✒️“Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya,
✒️Niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah”,
☝️(Demikian nasehat kaum bijak).

๐Ÿ•บMaka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk,
๐Ÿ‘ณImam al-Ghazali berkata:
✒️“Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”.
✒️Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa ‘kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah’, berarti bahwa “Ilmu itu tidak mau membuka hakikat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”.
๐Ÿ“š(Ihya’ ‘Ulumiddin).

๐Ÿ‘‡Ringkasnya,
๐Ÿ‘ณImam al-Ghazali menekankan
๐Ÿ‘‡Bahwa
๐ŸคกIlmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan
๐Ÿ•บAmal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong).
✍️Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah.
✍️Sedangkan takabbur berarti tanpa mempedulikan aturan dan kaidahnya, meskipun tujuannya benar.

⚛️Maka dalam pendidikan Islam,
☪️Keimanan harus ditanamkan dengan ilmu;
✍️ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu.
✍️Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta’dib.
๐Ÿ‘‡Ta’dib
✍️Berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik.
Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya.
Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.

๐Ÿ’‰Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, teknik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya.
✍️Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.

✍️Disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta’dib dalam pendidikan (sekularisasi).
๐Ÿ‘‡Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal:
1️⃣. Menempatkan ilmu-ilmu fardhu ‘ain yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali.
๐Ÿ‘‡Sehingga
๐Ÿ’‰Mahasiswa kedokteran misalnya,
☪️Tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama.
2️⃣. Mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yang menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.
๐Ÿ‘ŽRusaknya dunia pendidikan terjadi ketika ilmu diletakkan secara salah sebagai sarana untuk mengejar syahwat duniawi.
๐Ÿ‘ณPadahal Ali bin Abi Talib r.a.
Telah mengingatkan:
✒️“Barang siapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya”. 

๐Ÿ™Semoga bermanfaat….

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
https://t.me/aswaja_cyber


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad