⛔๐ฃ️KESESATAN TAUHID WAHABI(VERSI DIALOG)
⚛️๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐*๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
⛔๐ฃ️KESESATAN TAUHID WAHABI
(VERSI DIALOG)
๐งWAHABI:
✒️“Mengapa Anda menilai kami kaum Wahabi termasuk aliran sesat, dan bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.
✒️Padahal rujukan kami sama-sama Kutubus-Sittah (Kitab Standar Hadits yang enam).?”
๐ณSUNNI:
✒️“Sebenarnya kami hanya merespon Anda saja. Justru Anda yang selalu menyesatkan kelompok lain, padahal ajaran Anda sebenarnya yang sesat.”
๐งWAHABI:
✒️“Di mana letak kesesatan ajaran kami kaum Wahabi?”
๐ณSUNNI:
✒️“Kesesatan ajaran Wahabi menurut kami banyak sekali.
✍️Antara lain berangkat dari konsep tauhid yang sesat,
๐Yaitu
๐Pembagian tauhid menjadi tiga.”
๐งWAHABI:
✒️“Kok bisa Anda menilai pembagian tauhid menjagi tiga termasuk konsep yang sesat.
๐คApa dasar Anda?”
๐ณSUNNI:
✒️“Begini letak kesesatannya. Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu
๐Tauhid Rububiyyah,
๐Tauhid Uluhiyyah dan
๐Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum Ibn Taimiyah.
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah.
☪️Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat.
๐ณBahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian Tauhid tersebut.
๐งHingga akhirnya datang Ibn Taimiyah pada abad ketujud Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.”
๐งWAHABI:
✒️“Anda mengerti maksud tauhid dibagi tiga?”
๐ณSUNNI:
✒️“Kenapa tidak mengerti?
๐งMenurut Ibn Taimiyah Tauhid itu terbagi menjadi tiga:
๐Pertama,
✍️Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja.
๐งMenurut Ibn Taimiyah,
Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.
๐Kedua,
✍️Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.
๐งIbn Taimiyah berkata,
✒️“Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya”.
๐Ketiga,
๐Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia.
๐งPandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian
๐Diikuti oleh
๐งMuhammad bin Abdul Wahhab, perintis ajaran Wahhabi.
✍️Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya.
✍️Sedangkan makna ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah.
✍️Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’an, hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah.”
๐งWAHABI:
✒️“Maaf, dari mana Anda berkesimpulan, bahwa pembagian dan pembatasan makna tauhid versi kami kaum Wahabi bertentangan dengan al-Qur’an, hadits dan aqwal ulama?”
๐ณSUNNI:
✒️“Ayat-ayat al-Qur’an, hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, tidak ada yang membedakan antara makna Rabb (rububiyah) dan makna Ilah (uluhiyah).
✍️Bahkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Rububiyyah.
✍️Apabila seseorang telah bertauhid rububiyyah, berarti bertauhid secara uluhiyyah.
☪️Allah subhanahu wata’ala berfirman:
َููุงَ َูุฃْู
ُุฑَُูู
ْ ุฃَْู ุชَุชَّุฎِุฐُูุง ุงْูู
َูุงَุฆَِูุฉَ َูุงَّููุจَِِّْููู ุฃَุฑْุจَุงุจًุง
✒️Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan).
๐(QS. Ali-Imran : 80).
✍️Ayat di atas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan rububiyyah) selain Allah seperti Malaikat dan para nabi.
✍️Dengan demikian, berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dan mematahkan konsep Ibn Taimiyah dan Wahhabi, yang mengatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah.
✍️Seandainya orang-orang Musyrik itu bertauhid secara rububiyyah seperti keyakinan kaum Wahabi,
๐Tentu redaksi ayat di atas berbunyi:
َููุงَ َูุฃْู
ُุฑَُูู
ْ ุฃَْู ุชَุชَّุฎِุฐُูุง ุงْูู
َูุงَุฆَِูุฉَ َูุงَّููุจَِِّْููู ุขََِููุฉً
✒️Dengan mengganti kalimat arbaban dengan aalihatan.”
๐งWAHABI:
✒️“Tapi kan baru satu ayat yang bertentangan dengan tauhid kami kaum Wahabi.”
๐ณSUNNI:
✒️“Loh, kok ada tapinya.
๐คKalau sesat ya sesat, walaupun bertentangan dengan satu ayat.
✍️Dengan ayat lain juga bertentangan.
๐งKonsep Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang
๐Dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim:
ุชَุงِููู ุฅِْู َُّููุง َِููู ุถَูุงٍَู ู
ُุจٍِูู (97) ุฅِุฐْ ُูุณَُِّูููู
ْ ุจِุฑَุจِّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู (98)
✒️Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam.
๐(QS. al-Syu’ara’ : 97-98).”
๐คCoba Anda perhatikan.
๐Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan rububiyyah).
๐งPadahal kata Wahabi, orang-orang Musyrik bertauhid rububiyyah, tetapi kufur terhadap uluhiyyah.
๐คNah, alangkah sesatnya tauhid Wahabi, bertentangan dengan al-Qur’an.
๐งMurni pendapat Ibnu Taimiyah yang tidak berdasar, dan ditaklid oleh Wahabi.”
๐งWAHABI:
✒️“Maaf, kan baru dua ayat.
๐คMungkin ada ayat lain, agar kami lebih mantap bahwa tauhid Wahabi memang sesat.”
๐ณSUNNI:
✒️“Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini:
َูุง ุตَุงุญِุจَِู ุงูุณِّุฌِْู ุฃَุฃَุฑْุจَุงุจٌ ู
ُุชََูุฑَُِّููู ุฎَْูุฑٌ ุฃَู
ِ ุงُููู ุงَْููุงุญِุฏُ ุงََّْูููุงุฑُ، ู
َุง ุชَุนْุจُุฏَُูู ู
ِْู ุฏُِِููู ุฅِูุงَّ ุฃَุณْู
َุงุกً ุณَู
َّْูุชُู
َُููุง ุฃَْูุชُู
ْ َูุขุจَุงุคُُูู
ْ
✒️Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.
๐(QS. Yusuf : 39-40).
๐คAnda perhatikan,
✍️Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah.
๐งPadahal kata Ibnu Taimiyah dan Wahabi, orang-orang Musyrik pasti beriman dengan tauhid rububiyyah.
✍️Disamping itu,
๐ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga menyimpulkan bahwa konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah.
✍️Orang yang bertauhid rububiyyah pasti bertauhid uluhiyyah.
✍️Jadi konsep tauhid Anda bertentangan dengan ayat di atas.”
๐งWAHABI:
✒️“Mungkin tauhid kami hanya bertentangan dengan al-Qur’an.
✍️Tapi sejalan dengan hadits.
✍️Jangan Anda jangan terburu-buru menyesatkan.”
๐ณSUNNI:
๐ค“Anda ini lucu.
✍️Kalau konsep tauhid Anda bertentangan dengan al-Qur’an, sudah pasti bertentangan dengan hadits.
✍️Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga kalian akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
๐Misalnya dengan hadits shahih berikut ini:
ุนَْู ุงْูุจَุฑَุงุกِ ุจِْู ุนَุงุฒِุจٍ ุนَْู ุงَّููุจِِّู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
َูุงَู ( ُูุซَุจِّุชُ ุงُููู ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุจِุงَِْْูููู ุงูุซَّุงุจِุชِ) َูุงَู َูุฒََูุชْ ِูู ุนَุฐَุงุจِ ุงَْููุจْุฑِ ََُูููุงُู َُูู ู
َْู ุฑَุจَُّู ََُُููููู ุฑَุจَِّู ุงُููู ََููุจِِّูู ู
ُุญَู
َّุฏٌ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
. (ุฑูุงู ู
ุณูู
5117).
๐ณDari al-Barra’ bin Azib,
☪️Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
☪️“Allah berfirman,
✒️“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu”,
๐(QS. Ibrahim : 27).
☪️Nabi Juga bersabda,
✒️“Ayat ini turun mengenai azab kubur.
Orang yang dikubur itu ditanya,
“Siapa Rabb (Tuhan)mu?”
Lalu dia menjawab,
“Allah Rabbku, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Nabiku.”
๐(HR. Muslim, 5117).
๐คCoba Anda perhatikan.
๐งHadits di atas memberikan pengertian,
☄️Bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb (Tuhan Rububiyyah), bukan Ilah (Tuhan Uluhiyyah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Rububiyyah.
๐งSeandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar,
☄️Tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan,
✒️“Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”,
๐bukan
✒️“Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?”
☄️Atau mungkin keduanya akan menanyakan semua,
✒️“Man Rabbuka wa man Ilahuka? Ternyata pertanyaan tersebut tidak terjadi.
✍️Jelas ini membuktikan kesesatan Tauhid ala Wahabi.”
๐งWAHABI:
✒️“Maaf, seandainya kami hanya salah melakukan pembagian Tauhid di atas, apakah kami Anda vonis sebagai aliran sesat?
๐คApa alasannya?”
๐ณSUNNI:
✒️“Nah, ini rahasianya.
๐คAnda harus tahu, apa sebenarnya makna yang tersembunyi (hidden meaning) dibalik pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut?
✍️Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut,
๐Maka ada dua tujuan yang menjadi sasaran tembak Ibnu Taimiyah dan Wahabi:
๐
๐งIbn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-pratek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran.
✍️Nah, untuk menjustifikasi pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.
✍️Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah,
๐Yaitu
✍️Pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata,
๐Karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang Musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.
✍️Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Rububiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.
✍️Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur,
๐งIbn Taimiyah membuat kesalahan lagi,
๐yaitu
✍️mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas,
๐sehingga
✍️praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i.
✍️Padahal itu semua bukan ibadah.
✍️Tapi bagian dari ghuluw yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Wahabi.
๐งDari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah, sehingga dia divonis syirik.
๐งTentu saja paradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan.
๐Pertama,
๐งdia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama.
๐Dan kedua,
๐งdia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan oleh Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan para sahabatnya.
✍️Dan secara tidak langsung, pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berpotensi mengkafirkan seluruh umat Islam sejak masa sahabat.
✍️Akibatnya yang terjadi sekarang ini, berangkat dari Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah, ISIS, membantai umat Islam di Iraq dan Suriah.”
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar