Nur Muhammad dalam Kitab Barzanji
Home Ekonomi Syariah Tafsir Khutbah Hikmah Sirah Nabawiyah Bahtsul Masail Ubudiyah Gallery Lainnya HOME KHUTBAH HIKMAH EKONOMI SYARIAH BATHSUL MASAIL UBUDIYAH FIQIH DIFABEL WARISAN ZAKAT NIKAH VIDEO FOTO DOWNLOAD ILMU TAUHID Nur Muhammad dalam Kitab Barzanji
Alhafiz Kurniawan Jumat 23 November 2018 00:30 WIB BAGIKAN: Kitab Qashidah Barzanji mengandung konsep yang kemudian dikenal dengan istilah Nur Muhammad. Kitab karya As-Sayyid Ja‘far yang kerap dibaca masyarakat Muslim di pelbagai belahan dunia ketika peringatan maulid ini menyebutnya dengan “Ushalli wa usallimu ‘alan nuril maushufi bit taqaddumi wal awwaliyyah.” Konsep ini mengundang diskusi tanpa kata putus. Konsep Nur Muhammad ini kerap memicu polemik di tengah umat Islam. Sebagian orang menolaknya karena konsep ini bertentangan dengan konsep penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Sebagian orang lainnya menolak karena konsep terpengaruh oleh doktrin salah satu sekte dalam Islam, yaitu Syiah. Adapun sebagian kelompok lainnya menolak karena konsep ini membuka lebar pemikiran yang ditengarai oleh kosmologi sufisme yang dianggap berlebihan dan melewati batas. Sebagian orang Islam lainnya menolak konsep Nur Muhammad ini karena membuka jalan pada paham wahdatul wujud. Paham sufisme yang berkembang di Nusantara menyebutnya kurang lebih martabat lima atau martabat tujuh. Sedangkan sebagian orang menolak pijakan konsep Nur Muhammad ini melalui kritik hadits. Berikut ini kami kutip bagian dari qashidah tersebut yang menyebut konsep Nur Muhammad dan terjemahannya secara harfiah. أصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوليه Artinya, “Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang bersifat terdahulu dan awal” (Lihat As-Sayyid Ja‘far Al-Barzanji, Qashidah Al-Barzanji pada Hamisy Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4). Di tengah pelbagai polemik perihal konsep Nur Muhammad itu, Syekh Muhammad Nawawi Banten, ulama Nusantara yang otoritas keilmuannya teruji dan diakui oleh ulama di Timur Tengah di zamannya, menjelaskan konsep tersebut dari sudut pandang aqidah Ahlusunnah wal Jamaah. Menurutnya, konsep Nur Muhammad tidak sulit untuk dipahami dan tidak perlu dibikin ruwet. Status Nur Muhammad bukan qadim sebagaimana keqadiman sifat Allah. Nur Muhammad adalah makhluk yang pertama kali Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan makhluk lainnya. قوله (أصلي) أي أطلب صلاة الله أي رحمته (وأسلم) أي أطلب سلام الله أي تحيته (على) صاحب (النور الموصوف بالتقدم) على كل مخلوق (والأوليه) أي كونه أولا بالنسبة لسائر المخلوقات Artinya, “(Aku mengucap shalawat) aku memohon shalawatullah, yaitu rahmat Allah (dan) aku memohon (salam) Allah, yaitu penghormatan-Nya (untuk) yang empunya (cahaya yang bersifat terdahulu) sebelum segala makhluk (dan awal) yang entitasnya lebih awal dalam kaitannya dengan semua makhluk,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4). Dengan keterangan Syekh M Nawawi Banten ini, kepercayaan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah tidak menjadi cacat, ternoda, terkontaminasi, tersesat, atau bergeser dari aqidah ahlussunnah hanya karena mempercayai konsep Nur Muhammad. Kepercayaan kelompok Ahlussunnah wal Jamaah atas konsep Nur Muhammad tidak kemudian membuat mereka terjatuh pada lubang tasybih (imanensi) yang menyerupakan hingga kemudian menyatukan Allah dan Nur Muhammad. Dengan pengertian yang disampaikan Syekh M Nawawi Banten, kelompok Ahlussunnah wal Jamaah yang kerap membaca Qashidah Barzanji tetap konsisten pada logika tanzih (transendental) yang membedakan zat Allah dan Nur Muhammad. Entitas Nur Muhammad sendiri sebagai makhluk pertama Allah merupakan sebuah anugerah luar biasa dari Allah yang dapat Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Keberadaan Nur Muhammad merupakan hak prerogatif Allah tanpa intervensi dan pengaruh siapa dan apa pun. Syekh M Nawawi Banten juga membawa hadits riwayat Jabir yang menjadi salah satu dasar konsep Nur Muhammad di samping beberapa riwayat hadits lainnya. كما في حديث جابر أنه سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أول ما خلقه الله تعالى قال إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذلك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا إنس ولا جن ولا أرض ولا سماء ولا شمس ولا قمر وعلى هذا فالنور جوهر لا عرض Artinya, “Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat sahabat Jabir RA bahwa ketika ditanya perihal makhluk pertama yang diciptakan Allah, Rasulullah SAW menjawab, ‘Sungguh, Allah menciptakan nur nabimu sebelum segala sesuatu.’ Allah menjadikan nur itu beredar dengan kuasa Allah sesuai kehendak-Nya. Saat itu belum ada lauh, qalam, surga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari, dan bulan. Atas dasar ini, nur itu adalah substansi, bukan aksiden,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu‘ud ila Iktisa’il Burud, [Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 4). Riwayat lain yang mengungkapkan Nur Muhammad antara lain adalah hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Maysarah RA yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kau menjadi nabi?” “Saat Adam AS di antara roh dan jasad,” jawab Rasulullah SAW. (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Targhibul Musytaqin li Bayani Manzhumatis Sayyid Al-Barzanji Zainil Abidin fi Maulidi Sayyidil Awwalin wal Akhirin SAW, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 6). Adapun pemaknaan sebagian orang Islam atas konsep Nur Muhammad dengan sudut pandang atau syak wasangkanya sendiri dan dibuat ruwet sendiri lalu kemudian menghakimi konsep tersebut sebagai sebuah penyimpangan atau kesesatan adalah sebuah keniscayaan. Yang diperlukan dalam perbedaan tafsir atau pemaknaan atas konsep Nur Muhammad ini adalah sikap saling menghargai satu sama lain dan tidak memaksakan tafsirnya atas pihak lain karena hanya akan memicu polemik dan debat kusir tidak berkesudahan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K) TAGS: Nur Muhammad barzanji BAGIKAN: ARTIKEL TERKAIT Hizib Nawawi: Penyusun, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya Lantunan Wirid 'Li Khamsatun' Iringi Penyemprotan Disinfektan di Pringsewu Hizib Bahar: Penyusun, Faedah, dan Cara Mengamalkannya Al-Wirdul Lathif: Pengarang, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya Bacaan Shalawat Tibbil Qulub dan Faedahnya Hizib Hirzul Jausyan: Keutamaan dan Cara Mengamalkannya TERPOPULER REKOMENDASI 1 Khutbah Idul Fitri: Pesan Persaudaraan di Hari Lebaran Sabtu 8 Mei 2021 2 Khutbah Idul Fitri: Pandemi, Hari Raya, dan Hal yang Mesti Dilakukan Senin 10 Mei 2021 3 Khutbah Jumat: Hablun Minannas Pasca-Ramadhan Kamis 13 Mei 2021 4 Khutbah Idul Fitri: Lebaran Tanpa Mudik dan Hikmah di Baliknya Selasa 11 Mei 2021 5 Daging Sapi Mengandung Cacing Hati: Bahaya, Pencegahan, dan Kehalalannya Ahad 9 Mei 2021 TOPIK Khutbah Idul Fitri di Masa Pandemi Kumpulan Khutbah Idul Fitri Terfavorit Penjelasan Lengkap seputar Lailatul Qadar Kumpulan Khutbah Bulan Ramadhan Khutbah Jumat Jelang Ramadhan WAWANCARA RISALAH REDAKSI Potret Pendidikan Indonesia di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal Senin 3 Mei 2021 Perjuangan Satgas NU Melawan Laju Pandemi Covid-19 Rabu 21 April 2021 Langkah PB PMII Wujudkan Cita-cita Terdepan dalam Kemajuan Sabtu 17 April 2021 Sambut Indonesia Emas, Dosen PMII Harus Selalu Mengembangkan Diri Ahad 4 April 2021 Harapan Dakwah Aswaja dan Kondisi Dai di Harlah Ke-98 NU Ahad 28 Februari 2021 TERKINI Jack Ma: Keajaiban Bisnis Dunia Modern Jumat 14 Mei 2021 Idul Fitri saat Pandemi, Gus Baha: Umat Islam Harus Ridha Jumat 14 Mei 2021 Masakan Nusantara jadi Menu Khas Lebaran Pekerja Migran RI di Arab Saudi Jumat 14 Mei 2021 Abah Iswadi Samalanga: Idul Fitri Momentum Meningkatkan Kebaikan Kamis 13 Mei 2021 Tips Sehat Menikmati Menu Lebaran Kamis 13 Mei 2021 SENI BUDAYA Nostalgia Pertama Kali Mondok bersama 'Mantuk' Kamis 13 Mei 2021 Takbir: Mengagungkan Tuhan, Mengecilkan Ego Kamis 13 Mei 2021 Sukarno: Bapak Teater Indonesia Kamis 6 Mei 2021 Kebudayaan sebagai Bingkai Pergerakan di Era Digital Sabtu 1 Mei 2021 Negara Adidaya Kebudayaan Kamis 29 April 2021 SEJAWAT Beranda Tentang NU Redaksi Kontak Kami Download © 2020 NU Online | support@nu.or.id
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/99346/nur-muhammad-dalam-kitab-barzanji
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Komentar
Posting Komentar