๐คBERAMAL MENGHITUNG PAHALA, BOLEHKAH?
⚛️๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐*๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
๐คBERAMAL MENGHITUNG PAHALA, BOLEHKAH?
๐คBagaimana hukumnya kalau semua amal ibadah kita diniatkan untuk mendapat pahala dari Allah SWT?
✍️Karena selama ini yang sering kita baca kita selalu diiming-imingi dengan kenikmatan syurga.
☪️Beribadah untuk mengejar pahala dari Allah SWT memang sebuah cara pandang yang sudah benar. Tidak perlu lagi diutak-atik atau dikritisi.
✍️Sebab sistem per-pahala-an ini memang diajarkan langsung oleh Allah SWT, bukan sesuatu yang mengada-ada.
๐คTapi itu bagi orang awam dalam rangka memotivasi.
๐งNamun bagi orang yang sudah tinggi pemahamannya, maka amalan apapun sesungguhnya hanya mengharap keridhaan Allah semata.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati.
๐(QS. Al-Baqarah: 277)
☪️Firman Allah SWT :
✒️Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
๐(QS. Ali Imrah: 57).
☪️Firman Allah SWT :
✒️Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.
๐(QS. Ali Imran: 172)
☪️Bahkan Allah SWT membuat perumpamaan pahala itu seperti
๐พBulir-bulir gandum yang berkembang banyak, padahal asalnya hanya satu bulir saja.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.
๐(QS. Al-Baqarah: 261)
๐Di ayat lain, bahkan urusan mengumpulkan pahala disetarakan dengan para pedagang yang sedang menghitung-hitung keuntungan bisnis sebesar-besarnya.
๐️Pahala-pahala itu diibaratkan proyek-proyek besar yang bisa didapat dengan modal yang murah.
๐ซSehingga orang Arab yang memang pedagang itu jadi keranjingan mendapatkan pahala.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?.
๐(QS. Ash-Shaff: 10)
๐️Bisnis besar dengan keuntungan menggiurkan itu hanya dengan modal yang sedikit.
๐งModalnya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dengan harta dan jiwa.
๐Sebagaimana Allah SWT sebutkan.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
๐(QS. Ash-Shaff: 11)
๐คSedangkan keuntungan besar yang ditawarkan adalah idaman semua manusia.
1️⃣. Pertama,
๐คฒAmpunan dari Allah SWT atas semua dosa.
2️⃣. Kedua,
☄️Kepastian masuk surga.
3️⃣. Ketiga,
๐Pertolongan dan kemenangan di dunia dalam waktu dekat.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn.
Itulah keberuntungan yang besar.
Dan karunia yang lain yang kamu sukai pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang- orang yang beriman.
๐(QS. Ash-Shaff: 12)
๐คHaruskah Menghitung-hitung Pahala.
๐ณBanyak orang yang tidak menganjurkan untuk menghitung-hitung pahala.
✍️Padahal justru kita seharusnya memang sejak sekarang harus menghitung-hitungnya.
✍️Sebab di akhirat nanti, memang semua amal baik dan buruk kita akan dihitung dengan sistem penghitungan yang teramat sangat teliti.
✍️Karena itulah hari kiamat disebut juga dengan yaumul hisab, yang berarti hari penghitungan.
✍️Di masa itu, semua amal baik dan buruk kita akan dihisab (dihitung).
๐คMaka sudah menjadi keharusan buat setiap kita untuk mengukur kadar pahala amal baik dan dosa amal buruk yang telah dilewatinya selama ini.
✍️Hikmahnya adalah agar kita bisa mendapatkan data perkiraan nilai kita sendiri.
✍️Dan dengan itu kita bisa mengoreksi diri sejak masih ada ajal di dunia untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pahala amal kita.
Juga agar kita bisa mengurangi atau menihilkan dosa perbuatan buruk.
☪️Allah SWT pun pernah mempertanyakan tentang seseorang yang menghitung-hitung bahwa dirinya akan masuk surga, akan tetapi masih ada beberapa faktor yang belum dipenuhinya.
☪️Firman Allah SWT :
✒️Apakah kamu menghitung bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
๐(QS.Al-Baqarah: 214)
☪️Firman Allah SWT :
✒️Apakah kamu menghitung bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
๐(QS. Ali-Imran: 142)
๐Lafadz asli kedua ayat di atas menggunakan kata “am hasibtum.”
๐Yang asal katanya dari
✍️Hasiba-yahsibu maknanya adalah menghitung (counting-computing-calculating-listing).
๐Ayat ini bukan melarang seseorang untuk melakukan penghitungan, namun justru isyarat untuk mengerjakannya, namun dalam hal ini Allah SWT mengoreksi cara menghitungnya.
✍️Jangan sampai seseorang merasa sudah menghitung bahwa dirinya masuk surga, sementara melupakan beberapa elemen penting.
๐
✍️Diantarnya bahwa mereka akan diuji atau memenuhi panggian berjihad.
๐ณDari Syaddan bin Aus ra. berkata bahwa
☪️Rasulullah SAW bersabda,
✒️“Orang yang cerdas itu adalah yang menghitung dirinya di dunia sebelum dihitung di hari kiamat.
✒️Dan yang bekerja untuk masa sesudah kematiannya.
✒️Dan orang yang lemah itu adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi berharap kepada Allah”
๐(HR. Tirmizy dan beliau menghasankannya).
๐ณDiriwayatkan bahwa Umar ra berkata,
✒️“Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung di hari kiamat.”
๐ณMaimun bin Mahran berkata,
✒️“Tidaklah seorang hamba Allah itu bertaqwa, kecuali dia menghitung-hitung dirinya sebagaimana dia menghitung rekannya, darimana makannya dan pakaiannya.”
๐งฎMenghitung-hitung amalan dapat melalaikan seseorang dari mengingat dosa.
๐ณImam Al-Ghazali pernah mengingatkan
✒️“Meremehkan dosa dan terlalu percaya diri dengan amal perbuatan adalah sangat berbahaya, orang yang sibuk menghitung-hitung amalan akan lupa pada banyaknya dosa”.
๐
๐๐บJika seseorang telah melupakan dosanya maka akan sedikit sekali kalimat istighfar keluar dari ucapan orang tersebut,
☪️Allah SWT memerintahkan manusia untuk melakukan ahsanu amala (amal yang terbaik) bukan aktsaru amala (amal yang terbanyak).
☪️Sebagaimana Allah berfirman
✒️“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”
๐(QS: Al-Mulk:2).
Jadi maksunya adalah berlomba dalam kebaikan yang berkualitas, bukan kuantitas.
Dan soal pahala atau tidak tergantung niatan seseorang dan bagaimana amalan itu dilakukan. Semoga Allah meridhai.
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar