๐Ÿ“•*๐‘ฉ๐’‚๐’š๐’‚๐’•๐’–๐’ ๐‘ฏ๐’Š๐’…๐’‚๐’š๐’‚๐’‰ ๐Ÿ‘ณ๐‘ฐ๐’Ž๐’‚๐’Ž ๐‘จ๐’-๐‘ฎ๐’‰๐’‚๐’›๐’‚๐’๐’Š :๐Ÿง˜*AKIDAH SEORANG MUSLIM

⚛️๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก
๐Ÿชถ*๐‘ช๐’๐’“๐’†๐’•๐’‚๐’ ๐‘ท๐’†๐’๐’ˆ๐’†๐’Ž๐’Š๐’” ๐‘ซ๐’–๐’๐’Š๐’‚

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

๐Ÿ“•*๐‘ฉ๐’‚๐’š๐’‚๐’•๐’–๐’ ๐‘ฏ๐’Š๐’…๐’‚๐’š๐’‚๐’‰ 
๐Ÿ‘ณ๐‘ฐ๐’Ž๐’‚๐’Ž ๐‘จ๐’-๐‘ฎ๐’‰๐’‚๐’›๐’‚๐’๐’Š :

๐Ÿง˜*AKIDAH SEORANG MUSLIM

☪️Akidah Seorang Mukmin. Seorang mukalaf minimal harus meyakini tafsiran dari kata-kata
✒️“tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” 
✅Jika ia membenarkan Rasul saw., maka ia juga harus membenarkan beliau dalam hal sifat-sifat Allah Swt.
☪️Dia Zat Yang Maha hidup, Berkuasa, Mengetahui, Berbicara, dan Berkehendak Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
☪️Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.
✍️Namun, ia tak harus meneliti hakikat sifat-sifat Allah tersebut serta tak harus mengetahui apakah kalam dan ilmu Allah bersifat qadim atau baru.
✍️Bahkan, tak jadi masalah walaupun hal itu tak pernah terlintas dalam benaknya sampai ia mati dalam keadaan mukmin.
✍️Ia tak wajib mempelajari dalil dalil yang dikemukakan oleh para ahli kalam.
☪️Selama hatinya meyakini al-Haq, walaupun dengan iman yang tak disertai dalil dan argumen, ia sudah merupakan mukmin.
☪️Rasulullah saw. tidak membebani lebih dari itu.

✅Begitulah keyakinan global yang dimiliki oleh bangsa Arab dan masyarakat awam, kecuali mereka yan berada di negeri-negeri dimana masalah-masalah tentang qadim dan barunya kalam Allah, serta istiwa dan nuzul Allah, ramai diperdebatkan. 
✍️Jika hatinya tak terlibat dengan hal itu dan hanya sibuk dengan ibadah dan amal salehnya, maka tak ada beban apa pun baginya. 
✍️Namun, jika ia juga memikirkan hal itu, maka minimal ia harus mengakui keyakinan orang-orang salaf yang mengatakan bahwa Alquran itu qadim, bahwa Al­quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, bahwa is­tiwa Allah adalah benar, bahwa menanyakan tentangnya adalah bidah, dan bahwa bagaimana cara istiwa itu ti­dak diketahui.
✍️Ia cukup beriman dengan apa yang di­katakan syariat secara global tanpa mencari-cari hakikat dan caranya.
✍️Jika hal itu masih tidak berguna juga, di­mana hatinya masih bimbang dan ragu, jika memung­kinkan, hendaknya keraguan tersebut dihilangkan de­ngan penjelasan yang mudah dipahami walaupun tidak kuat dan tidak memuaskan bagi para ahli kalam.
✍️Itu sudah cukup dan tak perlu pembuktian dalil.
✍️Namun, lebih baik lagi kalau kerisauannya itu bisa dihilangkan dengan dalil yang sebenarnya.
✍️Sebab, dalil tidak sem­purna kecuali dengan memahami pertanyaan dan jawab­annya.
✍️Bila sesuatu yang samar itu disebutkan, hatinya akan ingkar dan pemahamannya tak mampu menang­kap jawabannya. 
✍️Sebab, sementara kesamaran tersebut tampak jelas, jawabannya pelik dan membingungkan sehingga sukar dipahami akal.
✍️Oleh karena itu, orang­-orang salaf tak mau mengkaji dan membahas masalah ilmu kalam. 
✍️Hal itu mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat awam yang lemah.

✍️Adapun orang-orang yang sibuk memahami berba­gai hakikat, mereka memiliki telaga yang sangat mem­bingungkan. 
✍️Tidak membicarakan masalah ilmu kalam kepada orang awam adalah seperti melarang anak kecil mendekati pinggir sungai karena takut tenggelam. 
✍️Se­dangkan orang-orang tertentu diperbolehkan karena me­reka mahir dalam berenang. 
✍️Hanya saja, ini merupakan tempat yang bisa membuat orang lupa diri dan mem­buat kaki tergelincir, dimana, orang yang akalnya lemah merasa akalnya sempurna. 
✍️Ia mengira dirinya bisa me­ngetahui segala sesuatu dan dirinya termasuk orang hebat. 
✍️Bisa jadi, mereka berenang dan tenggelam dalam lautan tanpa ia sadari. 
✍️Hanya segelintir orang saja dari mereka yang menempuh jalan para salaf dalam meng­imani para rasul serta dalam membenarkan apa yang diturunkan Allah Swt. dan apa yang diberitakan Ra­sul-Nya dimana mereka tak mencari-cari dalil dan ar­gumen. Melainkan, mereka sibuk dengan ketakwaan.

✍️Demikianlah, ketika Nabi saw. melihat para sahabatnya sibuk berdebat,
☪️Beliau marah hingga memerah kedua pipi beliau dan berkata,
✒️“Apakah kalian diperintahkan untuk ini.
✒️Kalian mengumpamakan sebagian isi Kitab­ullah dengan yang lain.
✒️Perhatikan! apa yang Allah pe­rintahkan pada kalian kerjakanlah, sedangkan yang dilarang kalian tinggalkan.” 
Ini merupakan peringatan terhadap manhaj yang benar. 
Lengkapnya, hal itu kami jelaskan dalam kitab Qawa’id al-Aqaa’id.

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten. Salam Santun.๐Ÿ™
๐Ÿชถ@๐’ž๐“ธ๐“‡๐“ฎ๐“‰๐’ถ๐“ƒ ๐’ซ๐“ฎ๐“ƒg๐“ฎ๐“‚๐’พ๐“ˆ ๐’Ÿ๐“Š๐“ƒ๐’พ๐’ถ. 
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad