๐Ÿ“•*๐€๐ฅ-๐‡๐ข๐ค๐š๐ฆ ๐๐š๐ฌ๐š๐ฅ 9️⃣ :๐Ÿง˜Amal, Ahwal dan Warid

⚛️๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

๐Ÿ“•*๐€๐ฅ-๐‡๐ข๐ค๐š๐ฆ ๐๐š๐ฌ๐š๐ฅ 9️⃣ :

๐Ÿง˜Amal, Ahwal dan Warid

๐Ÿค—"AHWAL AKAN MENENTUKAN A'MAAL"

ุชَู€ู†َูˆَّุนَุชْ ุฃَุฌْู†َุงุณُ ุงْู„ุฃَุนْู…َุงู„ِ ู„ِู€ุชَู€ู†َูˆُّุนِ ูˆَุงุฑِุฏَุงุชِ ุงْู„ุฃَุญْูˆَุงู„ِ

✒️"Beragamnya jenis amal-amal itu disebabkan oleh beragamnya warid-warid (yang turun) pada ahwal-ahwal (hamba-Nya)."

๐Ÿ‘‡Syarah

๐Ÿง˜Warid adalah terminologi suluk yang banyak ditemukan dalam Al-Hikam.
๐Ÿง˜Makna sederhana warid adalah karunia Allah yang turun kepada seorang hamba.
๐Ÿง˜Proses turunnya warid terkait dengan kesiapan qalb, dalam hal ini adalah kadar ahwal si hamba. 
๐Ÿ‘‡Sebagai contoh,
๐Ÿ“–Dalam Al-Quran Allah berfirman:

ูˆَู…َุง ูŠُู„َู‚َّุงู‡َุง ุฅِู„َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุตَุจَุฑُูˆุง ...

✒️Tidak dianugerahkan (al-hasanah) itu melainkan kepada orang-orang yang sabar ...
๐Ÿ“š(Q.S. Al-Fushilat [41]: 35)

✍️Dalam ayat di atas, sabar adalah ahwal si hamba, dan al-hasanah yang dianugrahkan merupakan warid yang Allah karuniakan.

๐Ÿ‘ณNamun dalam pasal ini Ibnu Athaillah tidak hanya berbicara tentang ahwal dan warid; namun juga berbicara keterkaitan antara warid dan amal.
✍️Bahwa warid yang diterima seorang hamba terkait dengan amal hamba tersebut.
✍️Amal yang dimaksud disini adalah berupa amal yang khusus, yakni amal atau dharma yang terkait dengan misi hidup atau jatidiri seseorang.

✍️Haruslah dipahami bahwa jatidiri setiap manusia adalah unik dan berbeda. 
✍️Suatu warid yang Allah karuniakan kepada seorang hamba pasti akan mengungkap jatidiri hamba tersebut.
๐Ÿ‘ณSeorang nabi, seorang rasul, seorang wali, seorang mursyid, seorang raja, seorang ilmuwan, masing-masing memiliki amal-amal yang khusus terkait jatidirinya. 
✍️Misalkan seorang hamba yang jatidirinya sebagai mursyid, maka akan dikaruniai warid berupa pengetahuan atau kemampuan untuk membimbing murid-muridnya.

๐Ÿง˜Dalam pandangan tasawuf, Hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat.
๐Ÿง˜Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah).
๐Ÿง˜Tanpa Hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat.
๐Ÿ‘‡
๐Ÿ‘ณAhli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah
๐Ÿ‘‡
๐Ÿ‘ณTetapi ahli tasawuf bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.

๐Ÿง˜Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka keghoiban kepadanya.
✍️Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin.
✍️Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting.
✍️Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini.

☪️Rasululloh saw. sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasululloh saw. dengan rupa yang berbeda-beda, Rasululloh tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s.

๐Ÿง˜Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan Hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan.
✍️Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. 
✍️Sebelum ini pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat.
✍️Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai pintu gerbangnya.
✍️Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah, semata-mata karunia Allah yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. karunia Allah yang mengandung makrifat itu dinamakan Hal.

๐Ÿง˜Ada orang yang memperoleh Hal sekali saja dan dikuasai oleh Hal dalam waktu yang tertentu saja dan ada juga yang terus-menerus di dalam Hal.
๐Ÿง˜Hal yang terus-menerus atau berkekalan dinamakan wishol yaitu penyerapan Hal secara terus-menerus, kekal atau baqo'.
๐Ÿง˜Orang yang mencapai wishol akan terus hidup dengan cara Hal yang terjadi.

๐Ÿ‘‡Hal-hal (ahwal) dan wishol bisa dibagi menjadi lima macam:

1️⃣ : Abid:

๐Ÿง˜Abid adalah orang yang dikuasai oleh Hal atau zauk yang membuat dia merasakan dengan sangat bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakukan sesuatu.
☪️Kekuatan, usaha, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Allah. Semuanya itu adalah karunia Allah semata-mata.
☪️Allah sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada masa yang Dia kehendaki.
๐Ÿง˜Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, kerana dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah s.w.t.

2️⃣ : Asyikin:

๐Ÿง˜Asyikin ialah orang yang memandang sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t di dalamnya.
๐Ÿง˜Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenungi alam dan memuji Keindahan Allah s.w.t pada apa yang disaksikannya.
๐Ÿง˜Dia boleh duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu.
๐Ÿง˜Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya.
☪️Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t.
๐Ÿง˜Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini.
๐Ÿง˜Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.

3️⃣ : Muttakholiq:

๐Ÿง˜Muttakholiq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya.
๐Ÿ’™Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faroidh atau Qurbi Nawafil.
✍️Dalam Qurbi Faroidh, muttakholiq merasakan dirinya adalah alat dan Allah s.w.t menjadi Pengguna alat. 
๐Ÿง˜Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang akan terjadi pada kelakuan dan perbuatannya.
๐Ÿง˜Dia menjadi orang yang berpisah daripada dirinya sendiri. 
๐Ÿง˜Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya. 
✍️Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah s.w.t melakukan apa yang Dia kehendaki. 
๐Ÿง˜Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah s.w.t, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t.
๐Ÿง˜Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. 
✍️Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, berlaku secara spontan. 
✍️Kelakuan atau amal Qurbi Faroidh ialah bercampur-campur di antara logika dengan tidak logika, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil. 
✍️Dalam banyak perkara penjelasan yang boleh diberikannya ialah,
✒️"Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki".

๐Ÿ’™Dalam suasana Qurbi Nawafil pula muttakholiq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah s.w.t dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri.
๐Ÿ’™Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah s.w.t karena Allah s.w.t memberikan kepadanya untuk berbuat sesuatu.
๐Ÿ‘‡Contoh Qurbi Nawafil adalah ☪️Kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah s.w.t,
☪️Juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. 
☪️Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah s.w.t yang diizinkan menjadi kemampuan beliau, sebab itu beliau tidak ragu-ragu untuk menggunakan kemampuan tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah s.w.t.

4️⃣ : Muwahhid:

๐Ÿง˜Muwahhid fana' dalam dzat, dzatnya lenyap dan Dzat Mutlak yang menguasainya.
๐Ÿง˜Bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t.
๐Ÿง˜Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud.
๐Ÿง˜Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. 
๐Ÿ‘‡Misalkan
๐Ÿ‘ณDia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah!
๐Ÿ‘ณDia benar-benar telah lenyap dari ke'Abdullah-an' dan benar-benar dikuasai oleh ke'Allah-an'.
๐Ÿ‘ณKetika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syarak. 
๐Ÿ‘ณDia telah fana dari 'aku' dirinya dan dikuasai oleh kewujudan 'Aku Hakiki'. Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam ridho Allah s.w.t.
๐Ÿ‘ณApabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesedarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat.
✍️Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya.

๐Ÿง˜Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan,
✒️"Ana al-Haq!"
✍️Sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!

5️⃣ : Mutahaqqiq:

๐Ÿง˜Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam dzat turun kembali kepada kesedaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurusi.

๐Ÿง˜Dalam kesadaran dzat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah s.w.t dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. 
๐Ÿง˜Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. 
๐Ÿง˜Dia mesti turun kepada kesadaran sifat barulah dia boleh memimpin orang lain. 
๐Ÿง˜Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah s.w.t menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah s.w.t dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhoi Allah s.w.t.
๐Ÿง˜Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli thorikoh yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Robbani.
☪️Insan Robbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Allah karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

๐Ÿ™Semoga bermanfaat….

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad