🔥ABU BAKAR ASY-SYIBLI, SUFI YANG HENDAK " MEMBAKAR " NERAKA

⚛️*𝑨𝒔𝒘𝒂𝒋𝒂_𝑪𝒚𝒃𝒆𝒓📡
🧘@𝒯𝒾𝓃𝓉𝒶 𝒮𝓊𝒻𝒾.

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

🧘*𝑫𝒖𝒏𝒊𝒂 𝑺𝒖𝒇𝒊 :
🔥ABU BAKAR ASY-SYIBLI, SUFI YANG HENDAK " MEMBAKAR " NERAKA

👑Ia pernah menjadi gubernur. Demi mencari kebenaran Ilahiah, ia rela meninggalkan jabatan, lalu jadi pengemis, dan sempat kelaparan.

👳Nama Abu Bakar Asy-Syibli banyak menghiasi berbagai kitab tentang sufi.
✍️Ulama besar ini tidak hanya dikenal dengan konsepnya tentang bagaimana menempuh jalan kerohanian, tapi juga terkenal karena kehidupannya yang unik.
👑Harta berlimpah dan jabatan tinggi ditinggalkannya, demi memburu hakikat hidup dalam ritus sufisme yang mendalam. 
✍️Tak pelak kehidupannya yang unik memberikan inspirasi para peminat tasawuf bagi generasi-generasi berikutnya.

👳Nama aslinya adalah Abu Bakar bin Dulaf ibnu Juhdar Asy-Syibly. 
✍️Nama Asy-Syibli dinisbatkan kepadanya karena ia dibesarkan di Kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia.
🤱Ia dilahirkan pada 247 H di Baghdad atau Samarra dari keluarga yang cukup terhormat. 
🏫Mendapat pendidikan di lingkungan yang taat beragama dan berkecukupan harta, ia berkembang menjadi seorang yang cerdas.

✍️Di Baghdad ia bergabung dengan kelompok Junaid.
✍️Ia menjadi sosok terkemuka dalam sejarah Al-Hallaj yang menghebohkan.
👳Ia dikenal karena perilakunya yang eksentrik, yang menyebabkan akhirnya menyeret dia ke rumah sakit jiwa.
🥀Ia meninggal dunia pada 334 H / 846 M dalam usia 87 tahun.

⚛️Mula-mula ia menempuh pendidikan agama dengan belajar fikih Mazhab Maliki dan ilmu hadits selama hampir 12 tahun.
✍️Kecerdasan dan keluasannya dalam ilmu agama membawanya masuk dalam lingkungan kekuasaan, sehingga sempat menyandang berbagai jabatan.
✍️Karirnya melesat, ia menduduki beberapa jabatan penting selama bertahun-tahun.
👑Ia, antara lain, menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Dermavend.

📚Dalam buku ajaran dan teladan para sufi,
👳Dr. HM. Laili Mansur menulis:
✒️“Bersama dengan seorang pejabat baru,
👔Abu Bakar Asy-Syibli dilantik oleh Khalifah dan secara resmi dikenakan seperangkat jubah pada dirinya.
🚶Setelah pulang, di tengah jalan pejabat baru itu bersin dan batuk-batuk seraya mengusapkan jubah baru itu ke hidung dan mulutnya.
👑Perbuatan pejabat tersebut dilaporkan kepada Khalifah. 
Dan Khalifah pun memecat serta menghukumnya.”

👳Asy-Syibli pun terheran-heran, mengapa hanya karena jubah seseorang bisa diberhentikan dari jabatannya dan dihukum.
✍️Tak ayal, peristiwa ini membuatnya merenung selama berhari-hari. 
👳Ia kemudian menghadap Khalifah dan berkata:
✒️“Wahai Khalifah, engkau sebagai manusia tidak suka bila jubah jabatan diperlakukan secara tidak wajar.
👔Semua orang mengetahui betapa tinggi nilai jubah itu.
👑Sang Maharaja alam semesta telah menganugerahkan jubah kepadaku di samping cinta dan pengetahuan.
🤔Bagaimana dia akan suka kepadaku jika aku menggunakannya sebagai sapu tangan dalam pengabdianku pada manusia?”

🚶Sejak itu ia meninggalkan karir dan jabatanya, dan ingin bertobat.
📖Kisah pertobatannya menyentuh kalbu.
🧘Asy-Syibli mulai mengarungi dunia tasawuf.
👳Ia berguru kepada sejumlah ulama sebagai pembimbing spritualnya.
✍️Antara lain ia juga masuk ke dalam kelompok spritual Khairal Nassaj.
👳Belakangan ia juga berguru kepada beberapa sufi terkenal,
👇seperti
👳Junaid Al-Baghdadi – yang sangat mempengaruhi perkembangan kerohaniannya. Sufi masyhur yang cemerlang dalam berbagai gagasan tasawuf ini memang punya banyak pengikut.

🤝Pertemuannya dengan Junaid Al-Baghdadi digambarkan oleh
👳Fariduddin Aththar dalam
📚Kitab Tadzkirul Awliya.
✒️“Engkau dikatakan sebagai penjual mutiara, maka berilah aku satu atau juallah kepadaku sebutir,”
☝️kata Asy-Syibli kepada Junaid.

👳Maka Junaid pun menjawab:
✒️“Jika kujual kepadamu, engkau tidak sanggup membelinya, jika kuberikan kepadamu secara cuma-cuma,karena begitu mudah mendapatkannya engkau tidak akan menyadari betapa tinggi nilainya.
✒️Lakukanlah apa yang aku lakukan, benamkanlah dulu kepalamu di lautan, apabila engkau dapat dapat menunggu dengan sabar, niscaya engkau akan mendapatkan mutiaramu sendiri.”

👳Lalu kata Asy-Syibli,
✒️”Jadi apakah yang harus kulakukan sekarang?”
👳Jawab Junaid,
✒️“Hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun.”

👳Maka Asy-Syibli berjualan belerang selama setahun. Lorong-lorong Kota Baghdad dilaluinya tanpa seorangpun yang mengenalnya. Setelah setahun lewat, ia kembali kepada Junaid. 

👳Maka ujar Junaid:
✒️“Sekarang sadarilah nilaimu! Kamu tidak ada artinya dalam pandangan orang lain.
✒️Janganlah engkau membenci mereka dan janganlah engkau segan.
✒️Untuk beberapa lamanya engkau pernah menjadi bendahara, dan untuk beberapa lamanya engkau pernah menjadi Gubernur. 
✒️Sekarang kembalilah ke tempat asalmu dan berilah imbalan kepada orang-orang yang pernah engkau rugikan.”

🚶Maka ia pun kembali ke Kota Demavend.
🏠Rumah demi rumah disinggahinya untuk menyampaikan imbalan kepada orang-orang yang pernah
dirugikannya.
🧍Akhirnya masih tersisa satu orang, tapi ia tidak tahu kemana dia pergi.
👳Ia lalu berkata,
✒️“Aku telah membagi-bagikan 1000 dirham, tapi batinku tetap tidak menemukan kedamaian.”
👳Setelah empat tahun berlalu, ia pun kembali menemui Junaid. 
👳Perintah Junaid,
✒️“Masih ada sisa-sisa keangkuhan dalam dirimu.
✒️Mengemislah selama setahun!”

👳Tanpa banyak bicara, ia pun segera melaksanakan perintah sang guru.
✒️“Setiap kali aku mengemis, semua yang kuperoleh kuserahkan kepada Junaid. 
✒️Dan Junaid membagi-bagikan kepada orang-orang miskin,
sementara pada malam hari aku dibiarkan kelaparan,” 
☝️kenang Asy-Syibli.

👳Setahun kemudian Junaid berkata,
✒️“Kini kuterima engkau sebagai sahabatku, tapi dengan satu syarat, engkau terus jadi pelayan sahabat-sahabatku.”

✍️Setelah ia melaksanakan perintah sang guru,
👳Junaid berkata lagi,
✒️“Hai Abu Bakar, bagaimanakah pandanganmu sekarang terhadap dirimu sendiri?”
👳Jawab Asy-Syibli,
✒️“Aku memandang diriku sendiri sebagai orang yang terhina di antara semua makhluk Allah.”

👳Junaid menimpali,
✒️“Sekarang sadarilah nilai dirimu, engkau tidak ada nilainya di mata sesamamu.
✒️Jangan pautkan hatimu pada mereka, dan janganlah sibuk dengan mereka.”
👳Junaid pun tersenyum, sembari berkata,
✒️“Kini sempurnalah keyakinanmu.”

✍️Banyak hikmah dan karomah di sekitar sufi besar ini. 
📚Dalam kitab Tadzkirul Awliya diceritakan, selama beberapa hari Syibli menari-nari di bawah sebatang pohon sambil berteriak-teriak, 
👉“Hu, Hu, Hu!”

👳Para sahabatnya bertanya-tanya,
✒️“Apakah arti semua ini?” 
👳Beberapa hari kemudian Syibli menjawab,
✒️“Merpati hutan di pohon itu meneriakkan👉“Ku, Ku”,
Maka aku pun mengirinya dengan
👉“Hu, Hu”,
🕊️Burung itu tidak berhenti bernyanyi sebelum aku berhenti meneriakkan Hu, Hu,” begitulah!”

🔥Membakar Surga.
👳Di lain hari orang menyaksikan Syibli berlari-lari sambil membawa obor.
✒️“Hendak kemanakah engkau?”
tanya orang-orang itu☝️.
✒️“Aku hendak membakar Ka’bah, sehingga orang-orang hanya mengabdi kepada yang memiliki Ka’bah,”
jawab Syibli☝️.

🔥Di lain waktu, tampak Syibli membawa sepotong kayu yang terbakar di kedua ujungnya,
✒️“Aku hendak membakar neraka dengan api di satu ujung kayu ini dan membakar surga dengan api di ujung lainnya, sehingga manusia hanya mengabdi karena Allah.

🧘Setelah mengalami kemajuan spiritual sampai pada suatu titik di mana ia dapat memenuhi sakunya dengan gula-gula, dan pada setiap bocah yang ia temui, ia akan berkata,
✒️“Katakanlah, Allah!”
🍬lalu ia akan memberikan gula-gula.
💸Setelah itu ia akan memenuhi saku bajunya dengan uang dirham dan dinar. 
👳Dia berkata,
💎“Siapa saja yang berkata Allah sekali saja, aku akan penuhi mulutnya dengan emas.”

⚔️Setelah itu semangat kecemburuan berkobar dalam dirinya, dengan menghunus pedang, sambil berkata,
✒️“Siapa saja yang menyebut nama Allah, akan ku tebas kepalanya dengan pedang ini,” pekiknya.

✍️Orang-orang berkata,
✒️“Sebelumnya engkau biasa memberikan gula-gula dan emas, namun mengapa sekarang engkau mengancam mereka dengan pedang?”

👳Ia menjelaskan,
✒️“Sebelum ini aku kira mereka menyebut nama-Nya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan hakiki.
✒️Kini aku sadar bahwa mereka melakukannya tanpa perhatian dan hanya sekedar kebiasaan.
✒️Aku tidak dapat membiarkan lidah-lidah kotor menyebut nama-Nya.”

👳Setelah itu di setiap tempat yang ia temui, ia menuliskan nama Allah.
✍️Tiba-tiba sebuah suara berkata padanya:
✒️“Sampai kapan engkau akan terus berkutat dengan nama itu? 
✒️Jika engkau merupakan seorang pencari sejati, carilah pemiliknya!”
☝️Kata-kata ini begitu menyentak As-Syibli. 
✍️Tak ada lagi ketenangan dan kedamaian yang ia rasakan. 
🏞️Betapa kuatnya cinta menguasainya, begitu sempurnanya ia diliputi oleh gonjang-ganjing mistis, sampai-sampai ia menceburkan diri ke Sungai Tigris.
🏞️Gelombang sungai membawanya kembali ke tepi. 
🔥Kemudian ia menghempaskan dirinya ke dalam kobaran api, namun api itu kehilangan daya untuk membakarnya.
🐅Ia mencari tempat di mana sekelompok singa berkumpul lalu berdiam diri di sana, namun singa-singa itu malah melarikan diri menghindarinya.
🏔️Ia terjun bebas dari puncak gunung, namun angin mencengkram dan menurunkannya ke tanah dengan selamat. Kegelisahannya semakin memuncak beribu-ribu kali lipat.

👳Ia memekik,
✒️“Terkutuklah ia, yang tidak diterima oleh air maupun api, yang ditolak oleh binatang buas dan pengunungan!”
✍️Lalu terdengarlah sebuah suara,
✒️“Ia yang diterima oleh Allah, tidak diterima oleh yang lain.”

⛓️Kemudian orang-orang membelenggunya dan membawanya ke rumah sakit jiwa. 
✍️Mereka berkata,
✒️“Orang ini sudah gila.”

👳Ia menjawab,
✒️“Di mata kalian aku ini gila dan kalian waras. 
✒️Semoga Allah menambah kegilaanku dan kewarasan kalian.
✒️Kalian dihempaskan semakin jauh dan jauh lagi!”

👑Khalifah lalu menyuruh seseorang untuk merawatnya.
✍️Orang itu datang dan menjejalkan obat secara paksa ke mulut As-Syibli.
✒️“Jangan persulit dirimu,”
☝️pekik As-Syibli.
✒️“Penyakit ini bukanlah jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat-obatan seperti itu.”

🏨Saat As-Syibli tengah dikurung dan di belenggu di rumah sakit jiwa, beberapa orang sahabatnya datang menjenguk.
✒️“Siapa kalian?” pekiknya.
✒️“Sahabat-sahabatmu,”
☝️jawab mereka.

🪨Tiba-tiba ia mulai melempari mereka dengan batu, dan mereka lari menghindar.
👳Ia berteriak,
✒️“Dasar pembohong! Apakah seorang sahabat lari dari sahabatnya hanya karena beberapa bongkah batu? Ini membuktikan bahwa kalian sebenarnya adalah sahabat bagi diri kalian sendiri, bukan sahabatku!”

***

📖DIRIWAYATKAN bahwa ketika As-Syibli mulai mempraktikkan penyangkalan diri, selama bertahun-tahun ia biasa mengurapi matanya dengan garam agar ia tetap terjaga. 
Ia telah menghabiskan 260 kilogram untuk itu.

👳Ia kerap berujar,
✒️“Allah Yang Maha Kuasa selalu memperhatikanku.”
✒️“Orang yang tidur itu lalai, dan orang lalai itu terhijabi,” tambahnya.

👳Suatu hari Junaid mengunjungi As-Syibli dan melihat sedang menahan kelopak matanya dengan jepitan.
✒️“Mengapa engkau melakukan ini?” tanya Junaid.

✒️“Kebenaran telah menjadi nyata, namun aku tak tahan melihatnya,”
☝️jawab As-Syibli.
✒️“Aku menjepit kelopak mataku karena siapa tahu Dia berkenan menganugerahkanku satu pandangan saja.”

👳As-Syibli biasa pergi ke sebuah gua dengan membawa seikat tongkat kayu. Kapan saja hatinya lalai, ia akan memukul dirinya sendiri dengan tongkat-tongkat itu.
✍️Akhirnya ia kehabisan tongkat, semuanya telah patah. Maka ia pun membentur-benturkan kedua tangan dan kakinya ke dinding gua.

👳As-Syibli selalu mengatakan kalimat:
✒️“Allah…, Allah…,”
✍️Salah seorang muridnya yang setia bertanya kepadanya,
✒️“Mengapa Guru tidak berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”

👳As-Syibli menghela nafas dan menjelaskan,
✒️“Aku takut ketika aku mengucapkan “Tiada Tuhan” nafasku terhenti sebelum sempat mengatakan
✒️“Selain Allah.”
✍️Jika begitu, aku akan benar-benar hancur.

✍️Kata-kata ini benar-benar menggetarkan dan menghancurkan hati sang murid, hingga ia tersungkur dan akhirnya meninggal dunia.
✍️Teman-teman si murid itu datang dan menyeret As-Syibli ke hadapan Khalifah.
👳As-Syibli, tetap dalam gejolak ekstasinya, berjalan seperti orang mabuk. Mereka menuduh As-Syibli telah melakukan pembunuhan.

✒️“As-Syibli, apa pembelaanmu?”
👑tanya Khalifah.
👳As-Syibli menjawab,
✒️“Jiwanya, yang terbakar sempurna oleh kobaran api cinta, tak sabar menghadap keagungan Allah.
✒️Jiwanya, yang keras disiplinnya, telah terbebas dari keburukan badaniah.
✒️Jiwanya, yang telah sampai pada batas kesabarannya sehingga tak mampu menahan lebih lama lagi, dikunjungi secara berturut-turut oleh para utusan Tuhannya yang mendesak.
✒️Kilatan cahaya keindahan dari kunjungan ini menembus inti jiwanya.
✒️Jiwanya, seperti burung, terbang keluar sangkarnya, keluar tubuhnya. Apa salah As-Syibli dalam hal ini?

✒️“Segera kembalikan As-Syibli ke rumahnya,”
☝️👑perintah Khalifah.
✒️“Kata-katanya telah membuat batinku terguncang sedemikian rupa hingga aku bisa terjatuh dari singgasanaku ini!”

👳Ketika ajalnya hampir tiba, pandangan matanya tampak murung. Ia minta segenggam abu, kemudian ditaburkannya di kepalanya. Ia gelisah.

✒️“Mengapa engkau gelisah?”
☝️tanya salah seorang sahabatnya.

👳Maka jawab Syibli:
✒️“Aku iri kepada Iblis. Di sini aku duduk dalam dahaga, tapi dia memberi nikmat kepada yang lain.
☪️Allah telah berfirman:
✒️“Sesungguhnya laknat-Ku kepadamu hingga hari kiamat (QS, 38:78).
✒️Aku iri karena Iblislah yang mendapatkan kutukan Allah itu.
✒️Meskipun berupa kutukan, bukanlah kutukan itu dari Dia dan dari kekuasaan-Nya?”

👳Apakah yang diketahui oleh si laknat mengenai nilai kutukan itu?
👳Mengapa Allah tidak mengutuk pemimpin-pemimpin kaum muslimin dengan membuat mereka menginjak mahkota di singgasana-Nya?
💎Hanya ahli permatalah yang mengetahui nilai permata.
👑Jika seorang Raja mengenakan gelang manik dari kristal, itu akan tampak seperti permata.
🥦Tapi jika pedagang sayur mengenakan cincin setempel dari permata, cincin itu akan tampak sebagai manik dari kaca.”

👳Setelah beberapa saat tenang, Syibli kembali gelisah.
✒️“Mengapa engkau gelisah lagi?”
☝️tanya sahabatnya.

👳Maka jawabnya,
✒️“Angin sedang berembus dari dua arah.
✒️Yang satu angin kasih sayang, yang lain angin kemurkaan.
✒️Siapa saja yang ingin terhembus oleh angin kasih sayang, tercapailah harapannya.
✒️Dan siapa yang terembus angin kemurkaan, tertutuplah penglihatannya.
 ✒️Kepada siapakah angin bertiup?
✒️Bila angin kasih sayang berembus ke arahku karena akan tercapai harapan itu, aku dapat menanggung segala penderitaan dan jerih payah.
✒️Jika angin kemurkaan berembus ke arahku, penderitaan ini tidak ada artinya dibanding bencana yang akan menimpaku.
✒️Tidak ada yang lebih berat dalam batinku daripada uang satu dirham yang kuambil dari seseorang secara aniaya.
✒️Walaupun untuk itu aku telah menyedekahkan 1000 dirham, batinku tidak memperoleh ketenangan.
✒️Berikan air kepadaku untuk bersuci!”

👳Maka para sahabatnya pun mengambil air untuknya. Usai bersuci, Asy-Syibli pun wafat dengan tenang.

✍️Sumber Kisah Alkisah Nomor 09 / 25 April – 8 Mei 2005.

             ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

✍️Semoga bermanfaat….
Silahkan di share tanpa merubah konten. 
Salam Santun.🙏
🧘@𝒯𝒾𝓃𝓉𝒶 𝒮𝓊𝒻𝒾.
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad