WAHABI SALAFI
WAHABI SALAFI
Wahabi Salafi atau Wahabi saja adalah istilah yang diidentikkan pada sebuah gerakan Islam politik yang berdiri di kawasan Najed di semenanjung jazirah Arab pada akhir abad ke-12 hijriah atau abad ke-18 masehi yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703 – 1792) dan Muhammad bin Saud (wafat 1765 M).
Muhammad bin Saud , yang dikenal sebagai Ibnu Saud, adalah Amir daerah Al-Diriyah dan dianggap sebagai pendiri Negara Saudi dan dinasti Saud Pertama.
Keduanya bersekutu untuk menyebarkan gerakannya. Persekutuan keduanya terus dilanjutkan oleh anak cucu mereka bahkan setelah cicit Ibnu Saud yang bernama lengkap Abdulaziz bin Abdul Rahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah ibn Muhammad Al Saud (1876-1953 M) yang juga dikenal sebagai Ibnu Saud berhasil mendirikan kerajaan Arab Saudi (Al-Arabiyah Al-Saudiyah) pada tahun 1932.
Keturunan Muhammad bin Abdul Wahab, yang kemudian dikenal dengan julukan Alus Syeikh dibantu oleh para ulama lain yang berfaham Wahabi mendapat posisi penting dalam pemerintahan baik sebagai pejabat maupun sebagai Dewan Fatwa (Dar Al-Ifta) yang memberikan fatwa tidak saja kepada rakyat tapi juga kepada kerajaan terkait berbagai keputusan besar.
Ulama juga mendapat peran besar dalam yudikatif dan pendidikan.
Tidak heran apabila seluruh universitas negeri di Arab Saudi dipenuhi dengan kurikulum berfaham Wahabi.
Dan tidak aneh kalau para mahasiswa yang belajar di berbagai universitas negeri di Arab Saudi tercuci otaknya dan pulang ke Indonesia sebagai ustadz-ustadz penyebar faham Wahabi yang sangat militan.
Asal Usul Nama Gerakan Wahabi
Kalangan penganut aliran Wahabi tidak mau menyebut dirinya Wahabi, mereka lebih senang menyebut dirinya dengan beberapa nama antara lain: Salafi, Salafiyah, Anshar as Sunnah, Anshar at Tauhid, Jama’ah at Takfir Wal Hijrah, Jam’iyyah an Nur Wal Iman, Al Jama’ah al Islamiyyah, dan lain-lain.
Walaupun sebagian besar pengikut Wahabi di Indonesia tidak mau menyebut dirinya sebagai Wahabi, namun pada dasarnya penamaan tersebut awalnya berasal dari diri mereka sendiri.
Seorang pemuka Wahabi di Qatar bernama Ahmad bin Hajar Al Buthami bin Ali menulis buku dengan judul: As Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuh as Salafiyyah Wa Da’watuh al Islamiyyah.
Buku ini diedit dan sebarluaskan oleh pemuka Wahabi lainnya, yaitu Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
Dicetak tahun 1393 H, penerbit Syarikat Mathabi’ al Jazirah. Pada halaman 105, ia menulis: [فلما التقى الوهابيين في مكة] Ketika aku bertemu dengan orang-orang Wahabi di Mekah.
Bin Baz sendiri tidak keberatan dengan sebutan Wahabi.
Dalam kitab Fatawa Nur ‘ala Al-Darb pada pertanyaan yang ke 6
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه فهو لقب شريف عظيم
Artinya: Pertanya’an ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh: Sebagian manusia menamakan Ulama-ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah engkau ridha dengan nama tersebut? Dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan engkau dengan nama tersebut?
Jawaban: Penamaan tersebut masyhur untuk ulama tauhid yakni Ulama Nejed [Najd].
Mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
Nama itu (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung
Mengapa Wahabi tidak suka disebut Wahabi?
Kelompok Wahabi tidak suka disebut Wahabi dan tidak mau mengakui bahwa mereka adalah Wahabi. Mereka lebih suka disebut Salafi.
Dan selalu berkilah bahwa sebutan Wahabi itu untuk gerakan yang dibuat oleh Abdul Wahab bin Rustum di Afrika.
Ada banyak faktor mengapa mereka tidak mau disebut Wahabi, salah satunya adalah karena stigma nama Wahabi yang identik dengan berbagai hal yang negatif, ekstrim, radikal, tidak toleran dan terorisme. Suatu label yang sangat tidak islami.
Oleh karena itu, ketika ada orang awam yang bertanya kepada mereka siapakah Wahabi dan Khawarij itu, mereka akan berusaha mengelak dan akan menjawab demikian:
Wahabi adalah sebuah gerakan di Afrika yang didirikan oleh Abdul Wahab bin Rustum yang juga disebut dengan kaum Ibadiyah.
Itulah sebabnya ia disebut Wahabi diambil dari nama awalnya.
Istilah Wahabi tidak tepat apabila ditujukan pada gerakan yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab Arab Saudi.
Seandainya ini yang dimaksud, tentu nama gerakannya bukan Wahabi tapi Muhammadi.
Julukan neo-Khawarij lebih tepat ditujukan pada gerakan Abdul Wahab bin Rustum, sedangkan gerakan Muhammad bin Abdul Wahab lebih tepat disebut gerakan Salafi Sunni.
Karena itu, label Neo Khawarij itu ditujukan pada gerakan Wahabi buatan Abdul Wahab bin Rustum, bukan Wahabi buatan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Alasan kaum Wahabi di atas tidak benar, karena:
Mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang lahir pada masa atau setelah berdirinya Wahabi menyebut gerakan yang didirikan Muhammad bin Abdul Wahhab ini dengan nama Wahhabiyah (dalam bahasa Arab), dan Wahhabism (dalam bahasa Inggris), Wahabisme atau Wahabi (dalam bahasa Indonesia).
Menyebut gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan memakai Muhammadi (diambil dari nama awal, seperti klaim mereka) justru tidak tepat.
Karena, nama Muhammad di kalangan orang Arab bukanlah nama yang unik.
Banyak nama orang memakai nama Muhammad. Itulah sebabnya mazhab yang didirikan oleh Ahmad bin Hanbal disebut dengan mazhab Hanbali, bukan Ahmadi.
Mazhab yang didirikan oleh Muhammad bin Idris As-Syafi’i disebut mazhab Syafi’i, bukan mazhab Muhammadi, dan seterusnya.
Ulama Ahlussunah Menyebut mereka Wahabi
Ulama Ahlussunnah Timur Tengah yang menulis buku dan menyebut gerakan buatan Muhammad bin Abdul Wahhab ini dengan sebutan Wahabi sangat banyak bahkan menjadi judul buku mereka.
Yang terkenal antara lain:
Buku Al-Wahhabiyah Tusyawwihul Islam wa Tuakhirul Muslimin (Gerakan Wahabi Mempermalukan Islam dan Membawa Umat Terbelakang) karya sekumpulan ulama Mesir.
Buku Hazihi Hiya Al-Wahhabiyah (Ini Dia Wahabi) karya Muhammad bin Jawwad Mughniyah
Buku Al-Radd alal Wahhabiyah (Penolakan pada Wahabi0 karya Sulaiman bin Abdul Wahab yang kebetulan saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahhab.
Buku-buku lain dapat dilihat di sini.
Metode Penyebaran Faham Wahabi
Faham Wahabi disebarkan dengan beberapa cara, antara lain:
1. Memberi beasiswa pada mahasiswa dalam dan luar negeri untuk belajar di berbagai universitas negeri di Arab Saudi seperti Universitas Ummul Quro Makkah, Universitas Islam Madinah, Universitas Ibnu Saud Riyadh, dll. Cara ini sangat berhasil dan efektif. Mahasiswa lulusan Arab Saudi yang sudah pulang ke Tanah Air yang sudah menempuh studi minimal program Master atau S3 (Doktor) tidak saja berubah menjadi penganut Wahabi fanatik, tapi mereka juga menjadi pendakwah aliran Wahabi yang militan dan penuh dedikasi. Semangat yang tinggi ini tidak lepas dari besarnya dana yang dikucurkan Arab Saudi bagi mereka yang bersedia menyebarkan dakwah Wahabi di tempat mereka.
2. Mendirikan universitas atau sekolah tinggi di luar Arab Saudi dengan biaya penuh dari Arab Saudi dengan pemberian beasiswa penuh pada mahasiswanya. LIPIA yang berlokasi di Jakarta adalah salah satu contohnya.
3. Memberi dana bantuan pada sejumlah pesantren di Indonesia dengan syarat memasukkan faham Wahabi dalam kurikulumnya.
4. Melalui kader Wahabi lulusan Arab Saudi yang mendirikan pesantren dengan bantuan dana besar untuk mencetak santri yang berpola pikir Wahabi.
5. Membeli hak penerbitan kitab-kitab turos, kitab klasik atau kitab kuning, karya ulama salaf, lalu menerbitkannya.dan menyisipkan karya-karya ulama Wahabi ke dalamnya. Contoh, hak penerbitan kitab Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dibagian bawah setiap halaman disisipkan karya Bin Baz sebagai muhaqqiq.
6. Merubah secara sengaja konten kitab salaf Ahlussunnah Wal Jamaah dengan kandungan yang sesuai dengan faham Wahabi. Lihat contohnya di sini.
7. Membeli situs-situs di internet yang memiliki pengunjung tinggi dan menggantinya dengan konten yang sesuai dengan faham Wahabi.
8. Membuat situs-situs tanya jawab agama baik dalam bahasa Arab atau bahasa Indonesia atau keduanya dengan memberi jawaban sesuai faham Wahabi.
Cara Mudah Mengetahui Ajaran Wahabi bagi Kalangan Awam
Dalam bidang fikih umumnya merujuk pada madzhab Hanbali. Yang salah satu ciri khasnya yang menonjol adalah tidak ada qunut waktu shalat subuh, dan tidak najisnya kotoran dan kencing hewan yang halal dimakan (seperti kambing, ayam, sapi). Walaupun dalam bidang tertentu seperti soal talak dan tawasul mereka berbeda pendapat dengan mazhab Hanbali.
Dalam persoalan hukum baru, mereka merujuk pada pandangan ulama fikih kontemporer mereka yaitu Abdullah bin Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Bani (dalam soal hadits), Alus-Syaikh, Saleh Al-Fauzan, dan lain-lain. Banyak dari ulama utama Wahabi ini yang cenderung bermazhab Zhahiri, yaitu mazhab yang tidak mengakui madzhab empat dan tidak mengakui adanya qiyas sebagai salah satu sumber hukum Islam.
Dalam bidang tauhid, mereka mengikuti doktrin Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai kaum mujassimah (menganggap Allah itu punya fisik dan bertempat tinggal seperti makhluk) suatu pandangan yang menurut ulama Ahlussunnah Wal Jamaah dianggap sesat.
Menyebarkan ajaran yang mereka klaim sebagai “kemurnian Islam” seperti era Salafus Sholeh dan mengeritik keras praktik umat Islam yang dianggap tidak murni dengan label bid’ah, syirik, kufur. Suatu klaim yang tidak berdasar. Yang benar adalah ajaran mereka bukan meniru Salafussoleh, tapi meniru Ibnu Taimiyah (abad ke-14 masehi) dan Muhammad bin Abdul Wahab yang baru lahir pada abad ke-18 masehi.
Praktik yang dianggap bid’ah dan syirik oleh Wahabi antara lain tahlil, ziyarah kubur, peringatan Maulid Nabi, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan 1 Muharam, Halal bi Halal, dll.
Menolak kritik dari luar dan menyebut pengeritiknya sebagai Syiah Rafidhah atau konspirasi Zionisme Yahudi atau Freemason.
Ada dua tipe Salafi Wahabi yaitu Wahabi Arab Saudi dan Wahabi Yaman.
Wahabi Arab Saudi cenderung pro pemerintah yang berkuasa sedang Wahabi Yaman cenderung anti-pemerintah dan lebih radikal. Kelompok teroris banyak berasal dari didikan Salafi Yaman ini di bawah pimpinan Muqbil Al-Wadi’iy. Sementara, Wahabi pro Arab Saudi bersikap sebagai simpatisan terhadap Wahabi Yaman.
Wahabi adalah Khawarij Baru menu rut Ash-Showi Ulama Sezaman dengan Pendiri Wahabi
Kaum fanatik Wahabi keberatan kalau mereka disebut Wahabi. Inginnya, mereka disebut Salafi. Namun, penyebutan Wahabi sudah ada sejak Muhammad bin Abdul Wahab membuat aliran tersebut. Bahkan tidak sedikit dari para ulama yang menganggap bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari kelompok Ahlussunnah Wal Jamaah.
Ash-Shawi dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain 3/307 menyatakan bahwa Wahabi adalah sama dengan kaum Khawarij yang suka menghalalkan darah saudaranya sesama muslim. Sedangkan Ibnu Abidin Al-Hanafi dalam kitab Hasyiyah Radd al-Muhtar 4/262 menyatakan bahwa pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab adalah kaum Khawarij modern.
5 Kesalahan Aliran Wahabi Salafi
Setidaknya ada 5 kesalahan Wahabi Salafi yang membuat aliran ini intoleran dan ekstrim pada golongan lain dalam Islam maupun terhadap non-muslim
1. Aqidah tauhid Wahabi berdasar teori dari Ibnu Taimiyah dan dikampanyekan oleh pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab dengan bantuan finansial tak terbatas dari Kerajaan Arab Saudi. Aqidah ini dikenal dengan Tiga Prinsip (Al-Ushul Al-Tsalatsah) yaitu Tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, asma was shifat.
– Membagi tauhid menjadi tiga bagian ini adalah bid’ah terbesar mereka dan senjata utama mereka, ironisnya doktrin ini dijadikan alat untuk mengkafirkan mayoritas umat islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang dalam bertauhid bermadzhab Asy’ariah, Maturidiah. Baca detail: Tauhid Uluhiyah Rububiyah
– Tauhid uluhiyah adalah alat paling ganas untuk mengkafirkan, mensyirikkan dan menyesatkan muslim lain yang tidak ikut golongan mereka. Inilah akar terorisme modern dalam Islam. Baca detail: Tauhid Uluhiyah Rububiyah
– Konsep tauhid Asma was Shifat condong ke tajsim (memfisikkan Allah) yang berlawanan dengan QS Asy-Suro :11. Baca detail: Tauhid Asma wash Shifat
– Menolak adanya ta’wil pada ayat-ayat mutasyabihat, sehingga mereka berkeyakinan bahwa istiwa’nya Allah di ‘Arsy adalah bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy. Mereka pun berkeyakinan bahwa Allah mempunyai wajah dan tangan, mereka juga beranggapan bahwa Allah memegang langit, bumi, pepohonan dengan jari jemariNya. Baca detail: Tauhid Asma wash Shifat
2. Takfiriyah: Inilah kesalahan besar gerakan Wahabi Salafi. Doktrin pengkafiran pada umat Islam yang tidak sesuai dengan ideologi mereka menjadi jalan legitimasi yang mudah bagi pengikutnya untuk melakukan terorisme di seluruh dunia dan dengan perasaan tak berdosa membunuh sesama saudara muslimnya. Doktrin takfiriah ini bersumber dari (a) ideologi tauhid uluhiyah ciptaan Ibnu Taimiyah dan dikembangkan serta disebarkan oleh Ibnu Abdil Wahab; (b) doktrin Al-Wala’ wal Bara’; dan (c) doktrin 10 Pembatal Keislaman.
3. Syirik. Wahabi Salafi dikenal mudah memberi cap syirik pada perilaku sesama muslim yang tidak sesuai dengan doktrin tauhid uluhiyah mereka. Padahal syirik itu mengandung konotasi sama dengan doktrin takfir yakni orang yang dianggap syirik itu keluar dari Islam dan halal darahnya.
Untuk memahami lebih detail kesalahan aqidah Wahabi Salafi, baca artikel mendalam berikut:
Kesalahan konsep tauhid rububiyah Salafi Wahabi
Dokrin syirikisasi berakar dari konsep tauhid rububiyah
Pemahaman yang benar terkait tauhid rububiyah menurut Ahlussunnah
Tauhid rububiyah dan uluhiyah menurut Wahabi Salafi
4. Bid’ah. Doktrin bahwa semua yang tidak ada di zaman Nabi adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat membuat Wahabi secara tidak langsung telah menyesatkan dirinya sendiri karena tidak konsisten antara ucapan dengan perbuatan. Contoh, peringatan maulid Nabi dianggap bid’ah dan sesat, tapi hari kemerdekaan Arab Saudi selalu diperingati tiap tahun. Juga, Wahabi secara rutin memperingati haul kematian Ibnu Utsaimin salah satu tokoh ulama mereka. Dan membangun gedung megah untuk museumnya sementara bekas tempat kelahiran Nabi dijadikan perpustakaan sangat kecil di sisi Baitullah. Lihat museum (mathaf) Ibnu Utsaimin di sini.
Bacaan rujukan:
– Bid’ah itu Baik 1: Berdasar Quran dan Hadits
– Bid’ah itu Baik 2: Pendapat Ibnu Taimiyah
– Bid’ah itu Baik 3: Pendapat Madzhab Empat
Beda Wahabi Salafi, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh dan Syiah
Dengan dana penyebaran yang tak terbatas dari kerajaan Arab Saudi dan para donatur fanatik Wahabi di seluruh dunia, maka inilah gerakan paling berbahaya saat ini yang berpotensi memporakporandakan persatuan Islam dan menjadi sumber utama kelemahan Islam di zaman ini.
Adanya gerakan Wahabi yang menyebar luas saat ini sekaligus menjadi kegembiraan kalangan non-muslim yang ingin melihat umat Islam terpecah belah dengan mudah tanpa perlu adanya campur tangan pihak eksternal.
Di kalangan mahasiswa, kalangan pengikut Wahabi banyak aktif di organisasi seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Sedangkan secara politik praktis mereka umumnya berada di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) baik sebagai fungsionaris partai, kader atau simpatisan. Baca juga: Sikap FPI pada Wahabi dan Syiah
5. Kewajiban membenci kaum kafir dan golongan yang tak seakidah (al-wala’ wal bara’).
Doktrin ini membuat kaum Wahabi Salafi merasa berdosa apabila mereka tidak membenci orang kafir atau sesama muslim yang tidak seakidah dengan mereka. Padahal firman Allah dalam Al Quran Surah Al-Mumtahanan ayat 8 sudah jelas bahwa muslim dibolehkan untuk berinteraksi dengan baik dengan non-muslim yang berperilaku baik. Baca detail: Doktrin Al-Wala’ wal Bara’
ORMAS ISLAM INDONESIA YANG BERAFILIASI SALAFI WAHABI
Ormas Islam di Indonesia yang secara aqidah terinspirasi dengan ajaran Wahabi antara lain:
– Muhammadiyah. Baca: Yunahar Ilyas: Akidah Muhmmadiyah itu sama dengan Wahabi
Walaupun demikian, ada kecenderungan di kalangan elit MD dan sebagian kalangan akar rumput untuk lebih moderat dan sedikit menjauh dari Wahabi yang murni.
– Al-Irsyad didirikan oleh Syekh Ahmad Surkati dari Sudan. Baca: Profil Al-Irsyad dan Biografi Ahmad Surkati
– PERSIS (Persatuan Islam) didirikan oleh A. Hassan Bandung,
– MTA,
– Hidayatullah
– dll.
3 JENIS WAHABI SALAFI
Salafi Wahabi (Sawah) terdiri dari tiga kategori. Yaitu Wahabi ilmi, wahabi sururi, wahabi jihadi. Kendatipun ketiganya menganut ideologi dan akidah induk yang sama, namun mereka memiliki perbedaan signifikan di hilirnya.
Pertama, Wahabi ilmi atau fikri.
Tipe Wahabi ini adalah kalangan Salafi yang fokus pada dakwah penyebaran ideologi dan tidak peduli pada politik. Mereka bahkan tidak tertarik politik. Ciri khasnya, dalam konteks politik, adalah mereka taat pada penguasa.
Kedua, Wahabi sururi.
Wahabi tipe ini dikenal juga dengan sebutan Wahabi politis. Karena mereka aktif mengembangkan ajarannya melalui politik.
Salafi tipe ini bisa dilihat pada sosok partai PKS di mana ajaran Wahabi berkelindan dengan ideologi Ikhwanul Muslimin. Sebagaimana umumnya politisi, mereka bersikap pragmatis dan bahkan oportunis.
Ketiga, Wahabi Jihadi.
Kelompok Wahabi paling ganas, paling ekstrim dan paling berbahaya. Anti penguasa dan anti politik selain politik “islam” versi mereka. ISIS dan Al-Qaidah adalah representasi Wahabi jihadi. Begitu juga Jamaah Islamiyah, JAD dan JAT di Indonesia. Teroris muslim global, termasuk di Tanah Air, berasal dari Wahabi Salafi tipe ketiga ini.
Komentar
Posting Komentar