🧕MU'ADZAH AL-'ADAWIYYAH, WALI PEREMPUAN GURU PARA TABI'IN
🌏𝐀𝐒𝐖𝐀𝐉𝐀 𝐂𝐘𝐁𝐄𝐑📡
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
🧘*𝑲𝒊𝒔𝒂𝒉 𝑷𝒂𝒓𝒂 𝑺𝒖𝒇𝒊 :
🧕MU'ADZAH AL-'ADAWIYYAH, WALI PEREMPUAN GURU PARA TABI'IN
✍️Nama lengkapnya adalah Mu’adzah binti Abdullah al-‘Adawiyyah al-Bashriyyah (w. 702 M),
👇Istri dari
👳Silah bin Asyyam, seorang tabi’in yang syahid di medan perang.
📜Dalam catatan Imam al-Dzahabi, 📖Silah bin Asyyam hanya meriwayatkan satu hadits (yaitu hadits Ibnu Abbas) karena ia wafat sebelum Ibnu Abbas dalam peperangan.
👳Imam al-Dzahabi menulis:
فسيد كبير، لكنه ما روى سوى حديث واحد عن ابن عباس، ومات شهيدا قبل ابن عباس
✒️“Ia seorang sayyid (ulama) besar, tetapi ia tidak meriwayatkan hadits kecuali satu hadits dari Ibnu Abbas.
Ia mati syahid sebelum Ibnu Abbas” 📚(Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1982, juz 4, h. 509).
🧕Mu’adzah al-‘Adawiyyah adalah seorang ahli ilmu (al-sayyidatul ‘âlimah).
✍️Ia berguru (meriwayatkan) langsung dari :
👳Sayyidina Ali bin Abi Thalib,
🧕Sayyidah ‘Aisyah dan
🧕Hisyam bin Amir.
🧕Ia memiliki banyak murid laki-laki (kalangan tabi’in), seperti :
👳Abu Qilabah al-Jarmiyy,
👳Yazid al-Risyk,
👳‘Ashim al-Ahwal,
👳Umar bin Dzar,
👳Ishaq bin Suwaid,
👳Ayyub al-Sikhtiyaniyy,
dan lain sebagainya.
👳Imam al-Dzahabi menulis:
روت عن علي بن أبي طالب، وعائشة، وهشام بن عامر. حدث عنها أبو قلابة الجرمي، ويزيد الرشك، وعاصم الأحول، وعمر بن ذر، وإسحاق بن سويد، وأيوب السختياني وآخرون
✒️“Mu’adzah meriwayatkan (hadits) dari Ali bin Abu Thalib, ‘Aisyah, Hisyam bin ‘Amir.
Orang-orang yang mengambil riwayat darinya adalah Abu Qilabah al-Jarmiyy, Yazid al-Risyk, ‘Ashim al-Ahwal, Umar bin Dzar, Ishaq bin Suwaid, Ayyub al-Sikhtiyaniyy, dan lain sebagainya”
📚(Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 1982, juz 4, h. 509).
👳Imam Yahya bin Ma’in mengakui ketsiqqahannya (wa tsaqqahâ yahya bin ma’în).
🧕Ia juga memiliki banyak murid perempuan.
👇Dalam penelitian Rkia Elaroui Cornell,
🧕Mu’adzah al-‘Adawiyyah dipandang sebagai orang pertama yang mendirikan mazhab asketisme (tasawuf) untuk perempuan di Bashrah.
🧕Ia mendasarkan teorinya pada catatan Imam Abdurrahman al-Sulami bahwa banyak pelaku tasawuf perempuan yang berkumpul di sekitar Mu’adzah al-‘Adawiyyah dan disebut sebagai “tilmîdzah” (murid).
📚(Rkia Elaroui Cornell, Rabi’a from Narrative to Myth: The Many Faces of Islam’s Most Famous Saint, Rabi’a al-‘Adawiyya, London: Oneworld Academic, 2019, h. 125).
✍️Memang,
👳Jika melacak catatan Imam Abdurrahman al-Sulami,
✍️Ditemukan beberapa nama yang erat kaitannya dengan Mu’adzah al-‘Adawiyyah,
👇Beberapa darinya adalah :
🧕Unaisah binti ‘Amr al-‘Adawiyyah dan
🧕Ummu al-Aswad binti Zaid al-‘Adawiyyah.
🧕Tentang Unaisah al-‘Adawiyyah,
👳Imam al-Sulami menulis:
كانت من أهل البصرة، بلميذة معاذة العدوية
✒️“Unaisah al-‘Adawiyyah merupakan penduduk Bashrah.
Ia adalah murid Mu’adzah al-‘Adawiyyah”
📚(Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzkr al-Niswah al-Mura’abbidât al-Shûfiyyât, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 393).
🧕Sementara Ummu al-Aswad al-‘Adawiyyah merupakan orang yang disusuinya sejak kecil (kânat mu’âdzah qad ardla’athâ).
👳Imam Abdurrahma al-Sulami mencatat salah satu nasihat yang diberikan Mu’adzah al-‘Adawiyyah kepada Ummu al-Aswad:
قالت أم الأسود: قالت لي معاذة العدوية: لا تفسدي رضاعي بأكل الحرام, فإني جهدت جهدي حين أرضعتك ألا آكل إلا حلالا, فاجتهدي بعد ذلك ألا تأكلي إلا حلالا, لعلك توفقين لخدمة سيدك والرضا بقضائه
Terjemah bebas:
✍️“Ummu al-Aswab berkata:
🧕Mu’adzah al-‘Adawiyyah berkata kepadaku:
✒️“Jangan kau cemari (atau rusak) persusuanku dengan makanan haram. Karena aku telah bersungguh-suggung semampuku untuk tidak memakan (sesuatu) kecuali (terjamin) kehalalannya ketika menyusuimu. Maka dari itu, kau harus berjuang dengan sunguh-sungguh untuk tidak memakan (sesuatu) kecuali (terjamin) kehalalannya.
Semoga kau berhasil berkhidmah kepada Tuhanmu dan ridha dengan ketetapanNya.”
📚(Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzkr al-Niswah al-Mura’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 406)
🧕Mua’dzah al-‘Adawiyyah, dalam catatan Imam al-Sulami,
👇Merupakan teman karib
🧕Rabi’ah al-‘Adawiyyah (kânat min aqrân râbi’ah), dan ia tidak pernah memandang langit selama empat puluh tahun lamanya.
ولم ترفع بصرها إلي السماء أربعين سنة
✒️“Mu’adzah al-‘Adawiyyah tidak pernah mengangkat pandangannya ke langit selamat empat puluh tahun.” 📚(Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzkr al-Niswah al-Mura’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 391)
🧕Itu karena ia merasa tak pantas memandang ke atas.
🧕Ia merasa dirinya selalu kotor dan penuh dosa. Dan begitula ia.
🧕Mu’adzah selalu berhati-hati dalam berperilaku.
🧕Ia menahan diri dari memakan sesuatu yang syubhat, dan menjaga diri dari ketakabburan dan ujub.
🧕Ia benar-benar merasakan bahwa memandang ke atas (ke langit) merupakan bentuk ketidak-sopanan kepada Tuhan dan kesombongan dirinya.
✍️Di sisi lain, perbuatannya juga bisa dimaknai sebagai bentuk pelatihan diri, yaitu pelatihan yang bermain di wilayah psikologis.
✍️Penjelasannya begini, andai kita sepakat bahwa memandang ke atas adalah kesombongan, dengan menahan diri untuk melakukannya, kita secara sadar tengah melatih diri kita untuk jauh dari kesombongan.
✍️Dengan begitu, kita akan selalu diingatkan oleh diri kita sendiri ketika sinyal-sinyal kesombongan itu mendatangi kita.
🧕Mu’adzah al-‘Adawiyyah dikenal dengan ketabahannya, sehingga tidak aneh jika nasihatnya kepada Ummu al-Aswad adalah,
✒️“Semoga kau ridha dengan ketetapan Tuhan.”
Karena ia sendiri menyambut ketetapan Tuhan dengan riang gembira.
📖Dalam sebuah riwayat diceritakan:
ولما استشهد زوجها صلة وابنها في بعض الحروب، اجتمع النساء عندها، فقالت: مرحبا بكن، إن كنتن جئتن للهناء، وإن كنتن جئتن لغير ذلك فارجعن
✒️“Ketika (datang kabar) kesyahidan suaminya, Silah, dan anaknya dalam peperangan, berkumpullah para wanita di sisinya,
🧕kemudian Mu’adzah berkata: ✒️“Selamat datang kepada kalian jika kalian datang untuk berbahagia.
Tapi, jika kalian datang untuk selain itu (berbela-sungkawa), maka pulanglah.”
📚(Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 1982, juz 4, h. 509)
🧕Ia memandang kesyahidan suami dan anaknya sebagai karunia Allah, sehingga tidak pantas disesali, apalagi ditangisi.
🧕Karena itu, ia tegas mengatakan, ✒️“Selamat datang jika kalian datang untuk berbagi kebahagiaan, tapi jika kalian datang untuk bersedih, pulanglah.”
✍️Mu’adzah al-‘Adawiyyah wafat pada tahun 83 Hijriah atau 702 Masehi. Guru para ulama ini, meninggalkan pelajaran penting bagi kita semua.
🙏Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ 𝓐𝓷𝓭𝓲𝓒𝓱𝓪𝓿𝓵𝓲𝓷𝓼
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar