PUASA KAUM SUFI ( BAG 4 ) : AL-GHAZALI DAN ASPEK PSIKOLOGIS PUASA
⚛️๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐*๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
๐งPUASA KAUM SUFI ( BAG 4 ) : AL-GHAZALI DAN ASPEK PSIKOLOGIS PUASA
๐Spirit Ramadan dengan berbagai ajaran dan hikmahnya memenuhi ruang semesta manusia.
๐Hari-harinya tampak begitu tenang, lengang.
๐Tak ada kekacauan di ruang-ruang sosial, tak ada kegalauan dan gundah gulana.
๐Seakan dunia berjalan sangat pelan dan nyaman.
๐ทMungkinkah ini efek dari puasa yang melemahkan jiwa-jiwa rendah manusia.
✍️Atau, menguatkan tekadnya guna memenuhi panggilan takwa.
๐งMenahan diri dari bergolaknya nafsu dan perang batin melawan tirani ego.
✍️Segala ibadah tak lain untuk menjalankan kewajiban.
๐คฒLebih dalam daripada itu, ia menjadi ekspresi kesyukuran manusia atas karunia kehidupan.
๐งMelalui ragam ibadah,
☪️Allah mengajarkan manusia bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih atau segala hal, baik dari sisi pemenuhan materi maupun sisi ketenangan dan ketentraman yang tersembunyi dalam jiwa.
๐งBagi kaum sufi, ibadah tidak sekadar pemenuhan kewajiban. Ibadah merupakan ekspresi cintanya kepada Tuhan tanpa batasan, sekaligus menjadi hal terpenting yang meliputi diri dan dunianya.
๐งTiada hari terlewati dan waktu terlampaui tanpa ibadah.
๐งSehingga ia akan tetap beribadah untuk membuktikan cintanya, tanpa terikat dengan janji pahala dan surga serta ancaman dosa, tak terkecuali ibadah puasa.
๐ทPuasa telah menjadi aspek utama dalam rangkain ibadah umat Islam.
✍️Tanpa ibadah yang satu ini, keberislaman kita akan dipertanyakan. Ia menjadi tak sempurna.
✍️Sebegitu pentingkah puasa itu, bahkan jauh sebelum ditetapkannya syariat Muhammad, puasa telah menjadi bagian ibadah kaum-kaum sebelumnya, seperti syariat kaum Nabi Nuh as. serta umat Nasrani dan Yahudi.
๐คLantas ada apa sebenarnya dengan puasa?
✍️Memang, puasa secara sederhana sekadar menahan lapar, dahaga, dan kemaluan.
๐ทNamun, justru menahan sesuatu itu lebih menyedihkan daripada kebolehan yang kita dapatkan.
⛔Larangan mengundang penasaran. Semakin dilarang, maka bertambah rasa ingin tahu manusia.
๐งKarena selain menahan, puasa sejatinya membunuh ego.
๐งEgo manusia ditekan untuk tidak memenuhi keinginannya, melainkan sebatas mempersiapkan bekal kebutuhan perjalanan puasa hingga magrib menjelang.
๐Karena itulah,
๐ณAl-Ghazali menandai ibadah ini dengan satu hadis dari Rasulullah Saw yang menyatakan,
✒️“Puasa adalah setengah kesabaran,”
yang selaras dengan hadis, ✒️“Kesabaran adalah setengah dari keimanan.”
✍️Karena keistimewaanya di hadapan Allah SWT dibanding dengan amalan-amalan lainnya,
☪️Seperti firman-Nya dalam hadis qudsi,
✒️“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjarnya secara Pribadi.”[1]
✍️Sebab, di dalam puasa manusia diuji kesabarannya.
๐คSabar dalam menjalani perintah ketakwaan kepada Allah, dan sabar menjalankan larangan.
๐ทKarena ketika puasa, hati kita senantiasa berontak mempertanyakan manfaat semua ini.
๐Hati serasa mengajak berdebat tentang arti ibadah ini;
๐คKenapa harus menahan? kenapa tidak boleh melakukan ini dan itu?
๐คKenapa tak boleh makan dan minum; untuk apa dan siapakah ibadah ini? Dan seterusnya.
๐Dalam konteks ini,
๐ณMaimun bin Mahran pernah mengatakan bahwa sabar itu ada dua: ✍️Sabar atas musibah, dan ini baik sekali.
✍️Akan tetapi, yang paling utama adalah sabar dari perbuatan maksiat. ✍️Karena yang terakhir ini pada akhirnya akan memperoleh kemenangan dan kesuksesan. Sementara pelakunya akan mendapatkan jejak-jejaknya di dunia sebelum Hari Kiamat, dan pada Hari Kiamat dia akan memperoleh pahala surga (QS Ali ‘Imran [3]: 200)[2]
๐งSabar dalam puasa berarti sabar dalam menjalankan takwa sekaligus sabar dalam rangka menjaga diri dari kemaksiatan.
๐งDengan begitu, kita membunuh ego.
๐งDengan membunuh ego, secara tidak langsung kita telah menjaga hati dari pesakitan.
๐Karena poros segala penyakit tubuh ada dalam kendali hati.
✍️Maka tak heran ada ungkapan, ✒️“Berpuasalah, maka itu menyehatkan.”
๐ทSebab dengan puasa kita mengendalikan aspek lahiriah dan batiniah secara bersamaan.
๐งTermasuk mengendalikan ego yang berpotensi menyengsarakan hati.
✍️Seperti disampaikan Robert Frager,[3] di antaranya ego atau hasrat untuk menceritakan ibadah kita kepada orang lain.
๐งJikalau ibadah lainnya dapat disaksikan oleh orang lain, maka puasa tak ada yang mengetahui kecuali oleh pelaku dan Allah SWT.
✍️Dia pun mengatakan, puasa untuk melemahkan nafs.
✍️Nafs mendorong manusia untuk melakukan segala yang mudah, nyaman, atau menyenangkan, daripada yang benar.
๐ทDengan puasa, maka kebutuhan tidak serta merta kita penuhi. Mengendalikan perintah tirani nafsu, untuk memenuhi ketakwaan.
✍️Ada jeda, ada masa istirahat dari aktivitas nafsu, dan kesempatan ini menjadikan manusia mampu menaklukkan egonya.
✍️Selain itu, puasa juga menampakkan nafs.
๐ทDalam arti, perang batin melawan tirani ego antara membatalkan puasa dan melanjutkannya.
✍️Nafs muncul melalui bisikan-bisikan lembut yang saat demi saat semakin besar.
✍️Tidak hanya keinginan untuk berbuka di siang hari, tapi hasrat untuk bergunjing, mencela, dan memaki, serta meluapkan amarah yang mengurangi nilai ibadah puasa kita.
๐ณFrager juga menjelaskan bahwa puasa memperkuat tekad dan membangkitkan ingatan terhadap Tuhan.
✍️Memperkuat tekad untuk menolak dan memuaskan dorongan makan dan minum.
✍️Dan yang terpenting dari semua ini, setiap kali menolak makan dan minum pada siang hari maka ingatan kita selalu pada perintah Allah SWT. Dengan begitu, puasa mengajarkan kepada kita untuk tidak menjadi budak kebiasaan-kebiasaan kita.[4]
๐ณDemikian ini sangat kontekstual dengan keterangan Al-Ghazali dalam Ihya[5] tentang puasa khusus. Menurutnya,
✒️Puasa khusus merupakan puasanya orang-orang saleh.
✒️Puasa mengendalikan anggota tubuh dari perbuatan dosa, dan kesempurnaannya antara lain dengan enam hal:
๐Pertama, menjaga pandangan;
๐Kedua, menjaga lisan;
๐Ketiga, mengendalikan pendengaran;
๐Keempat, mengendalikan sebagian tubuh lainnya dari perbuatan dosa dan hal-hal yang dibenci, seperti tangan, kaki, perut dari syubhat dan lain-lain. ๐Kelima, tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan halal ketika berbuka;
๐Keenam, setelah berbuka selayaknya hati senantiasa terpaut antara kecemasan (khauf) dan harapan (raja), karena kekhawatiran sekiranya puasanya tidak diterima Allah SWT.
Bersambung…
Catatan kaki:
[1] Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, juz. 1 (Kairo: Dar asy-Sya’b, tt) hlm. 231
[2] Lihat Bab “Fadhlus Shabr an al-Ma’ashi” dalam https://kalemtayeb.com/safahat/item/41158, diakses Sabtu 11 Mei 2019
[3] Robert Frager, Psikologi Sufi, terj.Hasmiyah Rauf (Jakarta: Zaman, 2014), hlm. 234
[4] Ibid., hlm 235
[5] Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, juz. 1…, hlm. 235-236
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar