🧘PUASA KAUM SUFI ( BAG 7 ) :📚PSIKOLOGI PUASA DALAM IHYA ULUMUDDIN ( 3 )

⚛️𝐀𝐒𝐖𝐀𝐉𝐀 𝐂𝐘𝐁𝐄𝐑📡

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

🕌*𝑴𝒐𝒕𝒊𝒗𝒂𝒔𝒊 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 ;
🧘PUASA KAUM SUFI ( BAG 7 ) :
📚PSIKOLOGI PUASA DALAM IHYA ULUMUDDIN ( 3 )

😷Puasa mengekspresikan takut (khauf) melalui kekhusyukan dan ketundukan.
☪️Menepati perintah Tuhan untuk menggapai janji-janji pahala dan surga, dipuncaki harapan perjumpaan dengan al-Haqq.
😷Puasa menanamkan satu harapan (raja`) keabadian.
🤗Harapan kebahagiaan dunia dan akhirat.
🤗Harapan untuk dapat mempersembahkan yang terbaik dari ibadah manusia yang berlumur dosa. 🤗Harapan untuk merengkuh rahmat Tuhan, dan Tuhan merengkuh kita dengan kasih sayang-Nya (radhiyallah wa radhu anhu).

🌙Ramadan dengan seperangkat keistimewaan di dalamnya mengajak kita merenung.
🤲Berdoa dan bermunajat mengekspresikan harapan atas karunia dan rahmat Tuhan.
🤲Seluruh umat berharap yang terbaik dari bulan terbaik.
🤲Tak diragukan lagi, ada harapan besar (raja) berpadu dengan kekhawatiran (khauf) yang terejawantah dalam doa-doa mereka tatkala berbuka,
✒️“Semoga ditetapkan pahala puasa kami, jika Allah menghendaki (wa tsabatal ajru, insyaAllah.)”
🤔Di dalam batin mereka tersirat tanda tanya, akankah puasa kami diterima?
☪️Namun, satu kesadaran yang dibangun Nabi untuk memotivasi umat bahwa ada tiga doa yang tak tertolak; 1️⃣. Pemimpin yang adil.
2️⃣. Orang yang berpuasa ketika dia berbuka.
3️⃣. Orang yang terzalimi.

🤲Dalam doa, ada ekspresi harapan (raja), yaitu ketika seseorang membersitkan dalam hatinya, lalu mengungkapkannya lewat lisan.
🤲Dia berharap yang terjadi tidak sebaliknya.
🤲Ada optimisme untuk meraih yang terbaik.
🤲Kata “semoga” menjadi clue bahwa harapan melampaui pesimisme.
🤲Sesaat sebelum kata ini disuarakan, ada kekhawatiran sekaligus ketakutan dengan apa yang telah dikerjakannya gagal, tak diterima Tuhan.
✍️Dengan begitu, optimisme umat yang tersimpan dalam batinnya menjelma satu kedinamisan untuk terus melanjutkan kehidupan.

👳Ini pula yang dipesankan Al-Ghazali ketika membincangkan poin terakhir atau keenam dalam puasa khusus.
👇Menurutnya,
🍞Setelah berbuka puasa,
💙Selayaknya hati manusia terpaut dalam kegelisahan antara ketakutan (khauf) dan harapan (raja) karena ketidaktahuannya;
🤔Apakah puasanya diterima hingga dia termasuk orang-orang dekat (al-muqarrabin)
⛔Atau puasanya tak diterima dan bergabungan dengan golongan yang dibenci (al-mamqutin).
✍️Dan sepatutnya hal ini juga dilakukan pada setiap ibadah yang baru selesai dilakukannya.[1]

🧘Terma takut (khauf) dan harap (raja) menjadi istilah kunci dalam tahapan tasawuf.
✍️Dalam tataran awam, ini penting dipahami sebagai upaya menanamkan perasaan takut kepada Allah, bukan selainnya.
✍️Terma khauf atau takut ini tidak boleh dipisahkan dengan raja atau harapan.
✍️Keduanya ibarat keping mata uang yang satu sama lain saling memberikan nilai.
✍️Takut (khauf) disertai harapan (raja) supaya manusia dapat menyaksikan sifat kasih dan sayang Allah mendahului segala sesuatu, ☪️Sebagaimana firman Allah SWT dalam sebauh hadis qudsi, ✒️“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”

👳Imam Al-Qusyairi memberikan pengertian takut atau khauf dengan mengatakan:
✒️Adalah problematika yang berkenaan dengan peristiwa yang akan datang.
✒️Sebab seseorang hanya akan takut sekiranya sesuatu yang tak diharapkan menimpanya, atau sesuatu yang diinginkan luput darinya. ✒️Demikian ini berkaitan dengan masa yang akan datang.
✒️Sedangkan berkaitan dengan hal yang telah terjadi, takut kepada Allah berarti takut akan hukuman-Nya di dunia maupun di akhirat.
☪️Karena itu, Allah mewajibkan takut kepada hamba-Nya dalam firman-Nya,
✒️“Maka takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.”
📚(QS Ali Imran [3]: 175)[2]

👳Yahya bin Mudz dalam Jawahir At-Tashawwuf mengatakan,
✒️“Duhai nestapanya manusia, sekiranya dia takut kepada neraka sebesar takutnya kepada kemiskinan, niscaya dia akan masuk surga.[3] ✒️Namun, tidak hanya takut (khauf) an sich.
✍️Dalam berbagai referensi tasawuf, terma ini selalu berdampingan dengan raja atau harap[an].
🤲Harapan berarti keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkan menjadi kenyataan.
✍️Kebalikan dari takut, harapan memberikan kedinamisan dan menghidupkan.
🤲Harapan mendorong lahirnya optimisme untuk mengejar dan mewujudkannya.
🤲Tanpa ada harapan, hal itu akan menjelma angan-angan yang tidak akan menggerakkan, tapi menciptakan kemalasan.[4]

👳Al-Ghazali melanjutkan keterangannya dengan satu riwayat dari👇
👳Al-Hasan Al-Bashari.
👳Dia mengatakan:
✒️“Pada suatu kesempatan dia melewali suatu kaum yang sedang tertawa terbahak-bahak,
👇Lalu dia berkata:
✒️‘Sejatinya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai tempat persembunyian bagi makhluk-Nya, di mana mereka berlomba-lomba untuk menaati-Nya.
✒️Sehingga, bergegaslah suatu kaum hingga mereka memperoleh kemenangan; dan tertinggallah kaum lainnya, dan mereka pun mendapatkan kerugian.
✒️Karena itu, sangat mengherankan bagi orang yang tertawa dan bermain-main pada hari ini, di mana orang-orang yang bergegas memperoleh kemenangan, dan orang-orang yang berjalan sia-sia akan merugi.
✒️Demi Allah, seandainya tutup itu tersingkap, sungguh orang-orang baik akan berbuat kebaikan dan orang jahat akan tetap dengan kejahatan mereka.”

✍️Dia pun membubuhkan penjelasan bahwa kegembiraan orang-orang yang amalannya diterima akan menjauhkannya dari bermain-main dan senda gurau.
✍️Sedangkan kesedihan orang yang tertolak amalannya akan menutup pintu tertawanya.[5]
✍️Pernyataan ini menjadi satu kesadaran bahwa orang-orang yang bergembira karena amalannya diterima akan meluapkan kegembiraannya dengan asyik masyuk dalam ketaatan.
🤗Kegembiraannya itu diperoleh dengan keistiqamahan dan ketundukan kepada Tuhan.
🤲Dan harapannya dibangun dengan kepatuhan, bukan dengan angan-angan kosong.
⛔Sementara mereka yang amalannya tertolak akan menutup pintu tawanya.
✍️Dia mulai sadar dan menumbuhkan takut (khauf) dengan kesedihanya, dan mengekspresikan harap (raja) dengan menutup tertawanya untuk menghadang amalan-amalan selanjutnya.

👳Ini sejalan dengan ungkapan Syah Al-Kirmani,
✒️“Tanda adanya harapan dengan ketaatan yang baik kepada Tuhan.”[6] 🤲Berharap disertai amalan terbaik yang sanggup dia lakukan, karena amalan menjadi simbol optimisme bagi orang yang memiliki harapan.
👳Seperti sepenggal perbincangan Ahnal bin Qais dan seorang kakek tentang puasa.
👳Ahnal bin Qais berkata:
✒️“Engkau sudah tua, dan puasa itu melemahkanmu, wahai Kakek.”
👳Sang Kakek menjawab, ✒️“Ketahuilah, aku ini sedang mempersiapkan perjalanan jauh.
✒️Dan bersabar atas ketaatan kepada Allah itu lebih ringan ketimbang bersabar terhadap azab-Nya.”
✍️Demikian maksud puasa batin menurut al-Ghazali.[7]

👇Walaupun begitu,
👳Al-Ghazali tetap memberi warning dalam menyikapi takut (khauf) dan harap (raja).[8]
👳Dia mengatakan bahwa ungkapan ✒️“Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
✒️Maka kami bisa berharap pada ampunan-Nya” seringkali disalahpahami.
✍️Tak jarang kata ini justru menjadi ketertipuan orang-orang beriman yang durhaka.
✍️Mereka hanya berharap tanpa melanggengkan amalan.
✍️Jika harapan tidak didahului amal, berarti itu merupakan bentuk ketertipuan.
✍️Harapan (raja) itu ada tiada lain untuk mendinginkan panasnya takut (khauf) dan putus asa.
✍️Namun yang terpenting, menggabungkan keduanya tanpa melalaikan dorongan untuk mencari amalan berlimpah.

✍️Pada dasarnya, ungkapan yang dimaksud Al-Ghazali di atas merupakan bentuk harapan (raja) terbaik, namun disalahpahami dengan hanya harapan tapi mengabaikan amal.
✍️Bisa jadi ini karena mengandalkan kebaikan dan kezuhudan para pendahulunya.
👺Setan membisikkan tipuan melalui runtutan analogi;
👇
✍️Siapa yang mencintai seseorang, dia juga mencintai anak-anaknya.
✍️Dan Allah mencintai nenek moyang mereka, berarti Dia juga mencintai mereka.
✍️Dengan itu, mereka tak perlu menjalankan ketaatan dan mengandalkan keyakinan ini, hingga tertipu karena Allah SWT.
✍️Dengan mengandalkan nasab dan kedekatan, hingga seseorang mengandalkannya tanpa memperhatikan amalannya sendiri.
👳Ini, kata Al-Ghazali, seperti orang yang menganggap dirinya bisa kenyang karena orang tuanya telah makan; atau dahaganya bisa hilang sebab orang tuanya telah minum.[9]

👳Kesesuain antara perhatian Al-Ghazali dalam masalah ini seperti pengalaman perjumpaan
👳Imam Thawus dan Imam Ali bin Al-Husain.[10]
👳Thawus berkisah,
✒️“Pada satu kesempatan, saya pernah melihat sesorang yang sedang shalat di bawah saluran air di Masjidil Haram.
✒️Dia berdoa dengan khusyuk dan menangis.
✒️Ketika telah menyelesaikan shalatnya, aku pun menghampirinya. ☪️Ternyata orang itu adalah Ali bin Al-Husain ra.
👳Kemudian aku berkata,
✒️“Duhai keturunan Rasulullah Saw., aku melihatmu seperti ini dan itu.
✒️Dan engkau memiliki tiga harapan yang kelak memberikan keamanan dari rasa takut:
👇Pertama,
Engkau cicit Rasulullah Saw.;
👇Kedua,
Syafaat dari kakekmu;
👇Ketiga,
Rahmat dan kasih sayang Allah.” ☪️Kemudian Imam Ali bin Al-Husain menimpalinya,
✒️“Meski aku ini cicit Rasulullah, tapi belum bisa menjadi jaminan keamananku di akhirat kelak. ☪️Bukankah kau telah mendengar firman Allah,
✒️“Bilamana sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak bisa lagi saling bertanya di antara mereka.”
📚(QS Al-Mukminun [23]: 101). ✒️Syafaat kakekku, belum tentu menjamin,
☪️Sebab Allah berfirman,
✒️“… dan mereka tiada memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”
📚(QS Al-Anbiya [21]: 28).
☪️Sedangkan rahmat Allah SWT., seperti firman-Nya,
✒️“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
📚(QS al-Araf [7]: 56).
✒️Sementara aku sendiri tak tahu, apakah termasuk golongan orang yang berbuat baik (atau bukan).”

😷Maka, dengan puasa, kita menunjukkan rasa takut (khauf) melalui kekhusyukan dan ketundukan. ✍️Menepati perintah Tuhan untuk menggapai janji-janji pahala dan surga, dan dipuncaki lewat harapan perjumpaan dengan al-Haqq.
😷Dengan puasa pula menanamkan satu harapan (raja) keabadian. Harapan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
✍️Harapan untuk dapat mempersembahkan yang terbaik dari ibadah manusia yang berlumur dosa. Harapan untuk dapat merengkuh rahmat Tuhan, dan Tuhan merengkuh kita dengan kasih dan sayang-Nya (radhiyallah wa radhu anhu). 

Bersambung…

Catatan kaki: 
[1] Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz. 1 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1982), hlm.  235
[2] Imam al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah (Kairo: Dar Jawami’ al-Kalim, tt), hlm. 156
[3] Yahya bin Mu’adzar-Razi, Jawahir at-Tashawwuf, tahqiq: Said Harun Asyur (Kairo: Makabahal-Adab, 1423 H/ 2002 M), hlm. 58
[4] Ibid., hlm. 162
[5] Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz. 1 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1982), hlm.  235
[6] Lihat Imam al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah., hlm. 163
[7] Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz. 1., hlm.  236
[8] Imam al-Ghazali, “Al-Kasyfu wa at-Tabyin” dalam Majmu’ Rasail al-Imam al-Ghazali., hlm.
[9] Ibid
[10] Yahya bin Mu’adzar-Razi, Jawahir at-Tashawwuf, hlm. 59

🙏Semoga bermanfaat….

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ 𝓐𝓷𝓭𝓲𝓒𝓱𝓪𝓿𝓵𝓲𝓷𝓼
https://t.me/aswaja_cyber


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad