SIAPAKAH YANG DI SEBUT SUFI?


SIAPAKAH YANG DI SEBUT SUFI?

Orang-orang yang mempelajari secara mendalam dan mengamalkan ilmu tasawuf parada umumnya disebut sufi. 
Tasawuf bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, namun ia masih dalam bagian ajaran Islam.

Ditinjau dari segi bahasa, akar kata tasawuf berasal dari shuuf, makna secara leksikal sama dengan kain wol yang kasar. 
Menurut ulama salaf, istilah tersebut sebagai julukan terhadap para sahabat yang fakir (miskin) sehingga pakaian yang dikenakanpun hanyalah kain wol yang kasar. 
Sebagaimana lajimnya pada saat itu, bahwa orang-orang yang mengenakan pakaian seperti itu hanyalah orang-orang yang sangat miskin. 
Meskipun demikian, para sahabat yang sangat miskin secara lahiriah itu ternyata kaya secara batiniah.
Hatinya lebih tenteram, damai dan aman karena mereka bersandar kepada akidah, mereka serahkan kehidupannya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan jiwa kepada Allah itu menimbulkan sifat qanaah dalam hatinya, dan mereka tidak lagi punya keinginan berhidup mewah dan larut dalam permainan duniawi.

Ada pendapat lain, pada saat itu sebagian ulama ada yang mengartikan kata shuuf sebagai beranda atau bangunan tambahan, yaitu beranda Masjid Nabi di Madinah. Sehingga para sahabat yang tergabung dalam persaudaraan itu kemudian mendapat julukan Ahl Al-Shuffah atau Kaum Beranda yang mengamalkan ibadah dan kesalihan di masjid tersebut, dan pengabdian serta loyalitasnya terhadap Islam tidak diragukan lagi.

Lalu, menurut Abu Nashr al-Sarraj dalam Kitab al-Luma' dijelaskan bahwa kata shuuf telah dikenal pada masa hidupnya Hasan Al-Bashri. 
Pada saat itu orang-orang mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari bulu domba (wol kasar) putih, juga pakaian yang sering dipakai oleh RasuluLlah Saw dan para ahl shuffah, adalah sebagai simbol bagi kezuhudan dan orientasi kepada kehidupan sederhana.
Setelah mendapatkan banyak simpatisan dan pengikut, para guru sufi tersebut mulai menyebut diri mereka sebagai kaum sufi dan menyebut disiplin ilmu yang mereka ajarkan sebagai tashawwuf. 
Yang kemudian akhirnya, kata sufi itu melekat pada para penempuh 'jalan spiritual' tersebut, terlepas dari apakah mereka mengenakan pakaian wol kasar berwarna putih atau tidak.

Pada perkembangan selanjutnya, dari pendapat-pendapat tersebut muncul pendapat lain, seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldum, bahwa "tasawuf adalah bagian dari ajaran Islam yang bertujuan agar seseorang tekun beribadah dan memutuskan hubungan dengan selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi, serta membenci sesuatu yang memperdaya manusia, kenikmatan harta benda dan kemewahannya, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam khalwat dan ibadah".

Dengan demikian, maka ilmu tasawuf semata-mata bertujuan sebagai kesempurnaan ibadah bagi seorang hamba terhadap Tuhannya. 
Agar tujuan ibadahnya itu benar-benar sebagai ibadah (hakikat ibadah), maka seseorang harus memutuskan hubungan dengan selain Allah. 
Artinya, segala sesuatu itu harus disandarkan kepada Allah, tidak kepada makhluk, dan jangan berharap apapun kepada manusia.

Jalan yang ditempuh selain itu, seseorang harus berhati-hati dalam menyikapi hidup, karena banyak permainan hidup justru akan menyeret orang-orang menjadi binasa (sesat). Harta benda dan kemewahan merupakan permainan hidup yang terkadang dapat menyeret pemiliknya kepada kebinasaan (kesesatan). Dengan menempuh jalan sufi, diharapkan seseorang tidak terperdaya oleh harta benda dan kemewahan, namun ia justru dapat memanfaatkan harta benda dan kemewahannya sebagaimana dicontohkan oleh RasuluLlah Saw.

Dalam tasawuf dikenal istilah uzlah, yang artinya memisahkan diri atau menyepi. 
Terhadap Uzlah tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa uzlah tidak harus menyepi ke dalam goa, pergi ke atas bukit atau ke hutan lebat.
Namun uzlah, dapat diartikan sebagai pemisahan diri dan proteksi dari keadaan sosial yang terkadang menyeret kearah maksiat. 
Dengan perkataan lain, bahwa ber-uzlah berarti tidak larut dalam kemaksiatan.

Dari pendapat dan pengertian di atas, pengertian tasawuf dapat disederhanakan, yaitu bahwa tasawuf bertujuan dalam rangka menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Selanjutnya, apabila dijabarkan secara rinci, maka lahirlah apa yang disebut ajaran tasawuf dan orang-orang yang menekuninya disebut sufi.

Tasawuf bukanlah ajaran mistik yang mengarah kepada klenik dan perdukunan, dimana selama ini orang awam menganggap bahwa dengan belajar ilmu tasawuf, ia akan menjadi manusia khos, yang mengerti hal-hal gaib, dapat menyingkap takdir, bisa berhubungan dengan roh-roh orang-orang yang sudah mati, dan banyak cerita-cerita yang cenderung menyesatkan. 
Oleh karenanya, pemahaman tentang ajaran tasawuf perlu diluruskan.

Dengan demikian, maka sesungguhnya ajaran tasawuf tidak menyuguhkan tentang keajaiban-keajaiban yang dipamer-pamerkan. Justru ulama yang telah sampai pada tingkat ma'rifat, ia semakin arif, ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk. 
Semakin tinggi derajat kesufiannya semakin tidak diketahui orang bahwa ia akhli ibadah. 
Dan dalam Islam sufi yang pertama adalah Nabi Muhammad Saw.

Semoga bermanfaat.

Sumber, Munajat Sufi, Imam Al Ghazali Penyunting Muhammad Nuh, MitraPress, 2009 (Dengan perubahan teks seperlunya)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad