๐ณKETIKA PARA ULAMA BASHRAH BERKATA " SAYA TIDAK TAHU "
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
๐ณKETIKA PARA ULAMA BASHRAH BERKATA " SAYA TIDAK TAHU "
๐คตSeorang pejabat kota Kuffah yang terkenal cerdas melakukan kunjungan kerja ke kota Bashrah.
๐ณSaat itu, ia diterima oleh Abu Hatim Sahal bun Muhammad al-Sijistani.
✍️Dalam kesempatan saat itu, sang pejabat langsung mengajukan pertanyaan tentang siapa saja ulama yang ada di Bashrah.
๐คตSang Pejabat Bertanya :
✒️“Wahai Abu Hatim, siapa saja ulama yang ada di Bashrah? "
๐ณIa pun menyebut satu persatu nama ulama-ulama lengkap dengan spesialisasi keilmuan yang dimiliki, tak terkecuali dirinya,
✒️“Saya ahli ilmu Al-Qur’an dan
๐ณAl-Mazini ahli bahasa dan gramatikal Arab.
๐Selain itu, masih ada
๐ณIbn Al-Kalbi yang ahli tulis menulis surat.
๐ณAl-Syadzakuni ahli dalam bidang hadis.
๐ณHilal Al-Ra’yi memiliki spesialisasi ilmu fikih.
๐ณDan Al-Ziyadi yang ahli dalam ilmu al-Ashma’i.”
๐คตSang pejabat, setelah mendengar penjelasan Abu Hatim itu, akhirnya memintanya untuk mengumpulkan ulama-ulama yang barusan disebut itu keesokan harinya.
✍️Sang pejabat ingin bertemu dengan mereka.
✍️Hari esok pun tiba.
๐คตKini, sang pejabat telah berkumpul dengan para ulama Bashrah.
๐คPertemuan itu ia menfaatkan untuk beranya kepada masing-masing dari mereka.
๐
✍️Namun pertanyaan yang diajukan di luar bidang ilmu yang menjadi spesialisasi mereka.
✍️Pertama yang ditanya adalah
Al-Mazini,
๐คตSang Pejabat Bertanya :
✒️“Apakah diperbolehkan membayar kafarat Zihar dengan memerdekakan budak yang matanya buta sebelah?”
๐ณAl-Mazini Merasa bukan bidangnya, ia dengan besar hati berkata sejujurnya dan menolak menjawab pertanyaan itu,
✒️“Maaf, saya ahli bahasa Arab, bukan ahli fikih”.
✍️Sang pejabat pun beralih untuk bertanya kepada Al-Ziyadi.
๐คตPertanyaan yang ia ajukan adalah tentang bagaimana sikap al-Ziyadi, ketika ada seorang istri yang meng-khulu’ (menggugat cerai) suaminya dengan tebusan sepertiga dari mahar sang suami.
๐ณSama seperti al-Mazini, ia tidak menjawab karena memang bukan keahliannya,
✒️“Itu bidang Hilal al-Ra’yi. Bukan bidang saya”
๐Begitu seterusnya.
๐คตSang pejabat bertanya kepada mereka terkait bidang ilmu yang memang bukan spesialisasi mereka. ๐ณIa bertanya masalah hadis kepada Hilal al-Ra’yi;
๐ณBertanya permasalahan qira’at kepada Al-Syadzakuni;
๐ณDan bertanya balagah dan tulis menulis kepada Abu Hatim.
๐ณKetiga ulama ini pun sama:
✍️Sama-sama tidak menjawab pertanyaan itu karena merasa memang bukan bidang keahliannya.
๐คตKarena tidak mendapat pertanyaan dari orang-orang yang ditanya, sang pejabat pun akhirnya berujar:
✒️“Sungguh menyedihkan sekali ada orang yang belajar dalam waktu lama namun hanya menguasai satu bidang ilmu.
✒️Hal ini berdampak kepada ketidakmampuannya menjawab pertanyaan yang di luar bidang ilmu tersebut.
✒️Berbeda dengan di Kuffah. Di sana ada al-Kisa’i yang menguasai banyak disiplin ilmu.
✒️Jika pertanyaan-pertanyaan itu tadi diajukan kepadanya, dia pasti bisa menjawab”.
๐Kisah yang ditulis
๐ณIbnu Jauzi
๐Dalam ‘Uyun al-Hikayat di atas mengajari kita banyak hal.
✍️Terbaca di sana, bahwa tingkat kecerdasan (atau hal-hal yang lain) itu beragam dan memiliki beberapa tingkatan.
๐Juga,
๐คตApa yang dilakukan sang gubernur agaknya bisa diterima.
✍️Dalam arti, apa yang dilakukan sang pejabat dengan membanding-bandingkan ulama Bashrah dengan ulama Kuffah itu bisa jadi dalam rangka untuk memotivasi agar bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
✍️Namun, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, tindakan membanding-bandingkan ulama itu adalah hal yang kurang etis.
✍️Terlepas dari kedua hal di atas, satu hal yang menjadi perhatian penulis, adalah tentang kebesaran hati para ulama Bashrah untuk menyatakan ketidaktahuan mereka terhadap hal-hal yang memang di luar bidang yang mereka kuasai.
✍️Sikap “mengukur diri” ini perlu dimiliki oleh semua orang, terlebih di zaman milenial sekarang ini, dimana dengan mudah setiap orang bisa mengekspresikan diri dalam berpendapat, misalnya dengan membuat tulisan atau rekaman audio/video, dan kemudian menyebarkannya.
✍️Tidak semua pertanyaan yang diajukan kepada kita harus kita jawab. ✍️Kalau memang tidak menguasai bidang itu, alangkah lebih bijaksananya kita berdiam diri dan menganjurkan si penanya untuk bertanya kepada orang yang memang menguasai.
✍️Ketidakmampuan kita dalam segala hal adalah wajar, karena sebagaimana disebutkan di atas, tingkat kecerdasan setiap orang itu berbeda.
✍️Walhasil, kemampuan mengukur diri adalah hal istimewa yang hendaknya dimiliki seseorang.
✍️Dengan demikian, ia tidak serakah dalam menjawab pertanyaan yang memang tidak dia kuasai.
☪️Nabi Muhammad SAW bersabda:
ุฅِุฐَุง ُูุณِّุฏَ ุงูุฃَู
ْุฑُ ุฅَِูู ุบَْูุฑِ ุฃَِِْููู َูุงْูุชَุธِุฑِ ุงูุณَّุงุนَุฉَ
✒️“Jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya!”
๐(HR. al-Bukhari)
๐Sumber:
๐Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. al-Jami’ al-Shahih. Kairo: Dar al-Sya’b, 1987.
๐Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar