Kandungan Penggalan Ayat "Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum Kecuali Mereka Sendiri yang Mengubahnya"

Kandungan Penggalan Ayat "Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum Kecuali Mereka Sendiri yang Mengubahnya"

Lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfadhuunahuu min amrillaah, innallaaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim, wa idzaa araadallaahu biqaumin suu an fa laa maradda lah, wa maa lahum min duunihii miw waal

Artinya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat di atas, sering dipotong pada bagian, "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Penggalan ayat di atas kerap dimaknai sebagai suatu motovasi bahwa kita sebagai manusia harus selalu berusaha untuk meraih apa yang diinginkan. 
Misalnya, ketika kita bercita-cita memiliki mobil, maka kita harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengumpulkan uang yang cukup agar bisa membeli mobil tersebut, tentu dengan cara yang halal.

Dalam tafsir Fidzilalil Qur'an, Said Quthb menjelaskan bahwa Allah selalu mengikuti manusia dengan memerintahkan malaikat penjaga untuk mengawasi apa saja yang dilakukan manusia ketika mereka berusaha mengubah diri dan keadaannya.

Pada hakikatnya memang Allah telah menentukan takdir manusia akan bernasib baik atau bernasib buruk. Tetapi, nasib tersebut berdasarkan ayat di atas akan berubah sesuai dengan apa yang dilakukan manusia itu sendiri.

Nasib yang semula baik bisa saja berubah menjadi buruk ketika manusia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah.

Nasib seperti ini sebagaimana pernah terjadi terhadap umat-umat terdahulu yang semula dalam kemuliaan tetapi secara tiba-tiba berubah menjadi kehancuran karena ulah mereka sendiri.

Misalnya nasib yang dialami oleh umat Nabi Hud as. 
Mereka pada awalnya hidup dalam keadaan baik, penuh dengan kekuatan, dan bergelimang keindahan duniawi. 
Tetapi karena keburukan yang mereka lakukan melampaui batas, maka Allah menimpakan kehinaan kepada mereka.

Seiring waktu berjalan, kaum Nabi Hud semakin menjadi-jadi dalam melakukan kezaliman dan kesyirikan. Karena keangkuhan kaum Nabi Hud itulah Allah kemudian menimpakan sebuah bencana yang membuat mereka binasa.

Hujan yang turun selama tujuh malam delapan hari menerjang wilayah kaum Nabi Hud. Angin kencang dan udara yang teramat dingin menyertai hujan tersebut sehingga mereka yang mendustai Allah tidak terselamatkan.

Kisah tersebut semakin menunjukkan bahwa kita sebagai manusia harus selalu berbuat kebajikan dan tetap di jalan Allah agar kita mendapat nasib yang baik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad