☮️๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐'๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ '๐๐๐๐๐Bagian 3️⃣
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐ฆ*๐พโ๐๐ง๐๐๐โ ๐ผ๐ ๐๐๐ :
☮️๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐'๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ '๐๐๐๐๐
Bagian 3️⃣
๐Tahun 1929-1942
๐Pada tanggal 5 September 1929 Jam’iyyah NU mengajukan Anggaran Dasar (Statuten) dan Anggaran Rumah Tangga (Huishoudelijk Reglemen) yang telah disusun kepada Pemerintah Hindia Belanda.
✍️Dan pada tanggal 6 Februari 1930 mendapat pengesahan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai organisasi resmi dengan nama: ☮️“PERKUMPULAN NAHDLATUL ULAMA” untuk jangka waktu 29 tahun terhitung sejak berdiri, yaitu: 31 Januari 1926.
☮️Hoofbestuur (Pengurus Besar) Nahdlatul Ulama’ juga berusaha membuat lambang NU dengan jalan meminta kepada para Kyai untuk melakukan istikharah.
๐ณDan ternyata Almarhum KH. Ridlwan Abdullah, Bubutan Surabaya berhasil.
☄️Dalam mimpi, beliau melihat gambar lambang itu secara lengkap seperti lambang yang sekarang; tanpa mengetahui makna simbol-simbol yang terdapat dalam lambang tersebut satu-persatu.
☮️Setelah berdiri secara resmi, Nahdlatul Ulama’ mendapat sambutan dari seluruh masyarakat Indonesia yang sebagian besar berhaluan salah satu dari madzhab empat. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat, 4 sampai 5 bulan, sudah terbentuk 35 cabang.
✍️Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang antara lain:
✒️Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ dipimpin oleh para ulama’ yang menjadi guru dari para kyai yang tersebar di seluruh Nusantara, khususnya Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.
✒️Kesadaran ummat Islam Indonesia akan keperluan organisasi Islam sebagai tempat menyalurkan aspirasi dan sebagai kekuatan sosial yang tangguh dalam menghadapi tantangan dari luar.
✒️Sebagai organisasi sosial yang harus menangani semua kepentingan masyarakat, Nahdlatul Ulama’ memandang sangat perlu untuk membentuk kader-kader yang terdiri dari generasi muda yang sanggup melaksanakan keputusan-keputusan yang telah diambil oleh NU.
๐Untuk itu, pada tanggal 12 Februari 1938, atas prakarsa KH.Abdul Wahid Hasyim selaku konsul Jawa Timur, diselenggarakan konferensi Daerah Jawa Timur yang menelorkan keputusan untuk menyelenggarakan pendidikan formal, yaitu mendirikan madrasah-madrasah, disamping sistem pendidikan pondok pesantren.
☮️Madrasah-madrasah yang didirikan itu terdiri dari dua macam, yaitu:
Madrasah Umum, yang terdiri dari :
Madrasah Awwaliyah, dengan masa belajar 2 tahun.
Madrasah Ibtidaiyyah, dengan masa belajar 3 tahun.
Madrasah Tsanawiyyah, dengan masa belajar 3 tahun.
Madrasah Mu’allimin Wustha, dengan masa belajar 2 tahun.
Madrasah Mu’allimin ‘Ulya, dengan masa belajar 3 tahun.
Madrasah Kejuruan (Ikhtishashiyyah), yang terdiri dari :
Madrasah Qudlat (Hukum).
Madrasah Tijarah (Dagang).
Madrasah Nijarah (Pertukangan).
Madrasah Zira’ah (Pertanian).
Madrasah Fuqara’ (untuk orang-orang fakir).
Madrasah Khusus.
☮️Kelahiran Al Majlis Al Islamiy Al A’la (MIAI).
๐ค Pada masa penjajahan Belanda, ummat Islam Indonesia selalu mendapat tekanan-tekanan dari pemerintah penjajah Belanda, disamping penghinaan-penghinaan yang dilakukan oleh golongan di luar Islam kepada agama Islam, Al Qur’an dan Nabi Besar Muhammad saw..
✍️Untuk menghadapi hal tersebut, maka Nahdlatul Ulama’ memandang perlu untuk mempersatukan seluruh potensi ummat Islam di Indonesia.
๐Pada tahun 1937 Nahdlatul Ulama’ telah memelopori persatuan ummat Islam di seluruh Indonesia dengan membidani kelahiran dari Al Majlis al Islamiy al A’la Indonesia (MIAI), dengan susunan dewan sebagai berikut:
Ketua Dewan :
KH. Abdul Wahid Hasyim, dari NU
Wakil Ketua Dewan:
W. Wondoamiseno, dari PSII
Sekretaris (ketua):
H. Fakih Usman, dari Muhammadiyah
Penulis:
S.A. Bahresy, dari PAI
Bendahara:
1. S. Umar Hubeis, dari Al Irsyad
2. K.H. Mas Mansur, dari Muhammadiyah
3. Dr. Sukiman, dari PII
๐Adapun tujuan perjuangan yang akan dicapai oleh MIAI antara lain sebagai berikut:
✒️Menggabungkan segala perhimpunan ummat Islam Indonesia untuk bekerja bersama-sama.
✒️Berusaha mengadakan perdamaian apabila timbul pertikaian di antara golongan ummat Islam Indonesia, baik yang telah tergabung dalam MIAImaupun belum.
✒️Merapatkan hubungan antara ummat Islam Indonesia dengan ummat Islam di luar negeri.
✒️Berdaya upaya untuk keselamatan agama Islam dan ummatnya.
✒️Membangun Konggres Muslimin Indonesia (KMI) sesuai dengan pasal 1 Anggaran Dasar MIAI.
๐Tahun 1942-1952
Kelahiran Majlis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI).
๐ค Pada masa penjajahan Jepang, MIAI masih diberi hak hidup oleh Pemerintah Penjajah Jepang.
☮️Malah suara MIAI tetap diijinkan untuk terbit selama isinya mengenai hal-hal berikut:
✒️Menyadarkan rakyat atas keimanan yang sebenar-benarnya dan berusaha dengan sekuat tenaga bagi kemakmuran bersama.
✒️Penerangan-penerangan dan tafsir Al Qur’an.
✒️Khutbah-khutbah dan pidato-pidato keagamaan yang penting dari para ulama’ atau kyai yang terkenal.
✒️Memberi keterangan kepada rakyat, bagaimana daya upaya Dai Nippon yang sesungguhnya untuk membangunkan Asia Timur Raya.
✒️Memperkenalkan kebudayaan Dai Nippon dengan jalan berangsur-angsur.
๐
Akan tetapi setelah Letnan Jendral Okazaki selaku Gunseikan pada tanggal 7 Desember 1942 berpidato di hadapan para ulama’ dari seluruh Indonesia yang dipanggil ke istana Gambir Jakarta, yang isinya antara lain:
✒️Akan memberikan kedudukan yang baik kepada pemuda-pemuda yang telah dididik secara agama, tanpa membeda-bedakan dengan golongan lain asal saja memiliki kecakapan yang cukup dengan jabatan yang akan dipegangnya, maka sekali lagi Nahdlatul Ulama’ tampil ke depan untuk memelopori kalahiran dari Majlis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) sebagai organisasi yang dianggap mampu membereskan segala macam persoalan kemasyarakatan; baik yang bersifat sosial maupun yang bersifat politik, agar keinginan untuk menuju Indonesia Merdeka, bebas dari segala macam penjajahan segera dapat dilaksanakan.
✒️Dan setelah Masyumi lahir, maka MIAI pun dibubarkan.
Bersambung....
๐Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar