☪️ALLAH SWT DI SEPERTIGA MALAM TERAKHIR TURUN KE LANGIT DUNIA, APA MAKNA SESUNGGUHNYA " TURUN " ?
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
☪️ALLAH SWT DI SEPERTIGA MALAM TERAKHIR TURUN KE LANGIT DUNIA, APA MAKNA SESUNGGUHNYA " TURUN " ?
๐Dalam sebuah hadis sahih dikatakan,
✒️"Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir.
☪️Allah SWT berfirman,
✒️"Siapa pun yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni."
๐(HR. Bukhari dan Muslim)
๐Hadis di atas memunculkan beberapa penafsiran terhadap makna sesungguhnya kata "turun".
๐ณPendapat pertama.
✍️Mengatakan bahwa kata turun dalam arti yang sebenarnya (pergerakan suatu benda dari atas ke bawah).
๐Jadi,
Mereka menganggap bahwa Allah Swt ketika sepertiga malam terakhir akan turun dari langit ke bumi.
๐ณAhli hadis Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari memaparkan tentang perdebatan makna turun tersebut.
✒️"Ada beberapa perbedaan pendapat tentang makna 'turun'. ✒️Sebagian kalangan ada yang mengartikannya secara lahirnya dan secara hakikat (makna sebenarnya) mereka adalah kaum Musyabbihah. ✒️Allah Maha Suci dari perkataan mereka.
✍️Sebagian lagi mengingkari kesahihan seluruh hadis-hadis yang berbicara tentang nuzul.
๐
Mereka adalah golongan Khawarij dan Muktazilah.
๐คAnehnya, mereka mentakwil ayat dalam Al-Qur’an yang seperti itu tetapi mengingkari hadis, baik karena tidak tahu atau memang menentang.
✍️Sebagian lagi ada yang membacanya sesuai redaksi yang ada sambil mengimaninya secara global dengan tetap menyucikan Allah ta'ala dari tata cara dan penyerupaan. Mereka adalah mayoritas Salaf."
๐(Fathul Bary, juz III, hlm. 30).
๐ณSementara itu, pendapat kedua dari kalangan Ahlussunnah wal jamaah mengartikan kata 'turun' bukan dalam arti yang sesungguhnya melainkan hanya sebuah kiasan.
✍️Sebab, apabila Allah turun dari atas ke bawah laiknya suatu benda, maka itu sama saja bertentangan dengan sifat wajib Allah yang berbeda dengan makhluknya.
๐ณImam Ibnu Hajar menukil pendapat Imam Baidhawi (salah seorang tokoh Ahlussunnah) untuk memecahkan perbedaan pendapat di atas.
✍️Ia menulis,
✒️"Al-Baidhawi berkata, 'Tatkala sudah pasti dengan dalil-dalil yang tak terbantahkan (qath’i) bahwa Allah adalah Maha Suci dari sifat fisikal (jismiyah) dan sifat batasan (tahayyuz), maka tak mungkin kata turun bermakna pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih rendah.
๐
Maka yang dimaksud turun dalam hal ini adalah turunnya cahaya kasih sayang”.
๐(Fathul Bary, juz III, hlm. 31).
๐ณHal senada juga dikatakan oleh Imam Malik yang diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi sebagai berikut:
✍️"Dari Ibnu Adiyy, telah bercerita kepada kami Harun bin Hassan, telah bercerita kepada kami Shalih bin Ayyub, telah bercerita kepada kami Habib bin Abi Habib, telah bercerita kepada kami Malik bin Anas.
๐ณMalik berkata,
✒️"Telah turun urusan Tuhan kita, adapun Tuhan kita maka tetap tidak berubah."
๐(Siyar A’laam an-Nubalaa’, juz VIII, hlm. 105).
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar