๐Ÿ”Ÿ. Bagaimanakah Cara Mengenal Allah (Ma’rifatullah) ?

๐ŸŒ๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐Ÿ“–*๐€๐ค๐ข๐๐š๐ก :
☪️*๐€๐‹๐‹๐€๐‡ ๐€๐ƒ๐€ ๐“๐€๐๐๐€ ๐“๐„๐Œ๐๐€๐“ ๐ƒ๐€๐ ๐€๐‘๐€๐‡*
Bagian ๐Ÿ”Ÿ

๐Ÿ”Ÿ. Bagaimanakah Cara Mengenal Allah (Ma’rifatullah) ?

๐Ÿ‘ณAl Imam ar-Rifa’i berkata:
✒️“Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala ada tanpa bagaimana (Sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat”.๐Ÿ‘‡
(๐Ÿ‘ณDisebutkan oleh al Imam ar-Rifa’i
๐Ÿ“šDalam kitabnya Hal AhlalHaqiqah ma’a Allah).
⛔Karena seandainya Allah bertempat niscaya banyak sekali yang menyerupainya.

✍️Maka barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah diterima ibadahnya sebagaimana perkataan
๐Ÿ‘ณAl Imam al Ghazali:
✒️“Tidaklah sah ibadah seseorang kecuali setelah ia mengetahui Allah yang ia sembah”.

๐Ÿ‘ณAl Imam Abu al Muzhaffar al Asfarayini (W. 471 H)
๐Ÿ“šDalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, h. 98
๐Ÿ‘‡Mengutip perkataan
☪️Al Imam Ali ibn Abi Thalib semoga Allah meridlainya bahwa dia berkata tentang Allah :
✒️“Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana dan sesungguhnya yang menciptakan al kayf (sifat-sifat benda) tidak dikatakan bagi-Nya bagaimana”.

๐Ÿ‘ณAl Imam Abu Manshur Al Baghdadi (W. 429 H)
๐Ÿ“šDalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq h. 256,
✍️Berkata:
✒️“Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”.

๐Ÿ‘ณAl Imam Syekh Abd Allah Ba ‘Alawi al Haddad (W. 1132 H)
๐Ÿ“šDalam bagian akhir kitabnya an-Nasha-ih ad-Diniyyah
✍️Menuturkan:
✒️“Aqidah ringkas yang bermanfaat -Insya Allah ta’ala menurut jalan golongan yang selamat. Mereka adalah golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah, golongan mayoritas umat Islam.
✍️Kemudian beliau semoga Allah meridlainya berkata:
✒️“Sesungguhnya Ia (Allah) ta’ala Maha suci dari zaman, tempat dan maha suci dari menyerupai akwan (sifat berkumpul, berpisah, bergerak dan diam) dan tidak diliputi oleh satu arah penjuru maupun semua arah penjuru”.

๐Ÿ‘ณAl Imam Ahmad ibn Hanbal dan
๐Ÿ‘ณAl Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245 H)
๐Ÿ‘‡Salah seorang murid terkemuka
๐Ÿ‘ณAl Imam Malik
✍️Menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid:
✒️“Apapun yang terintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu”.
๐Ÿ‘†
✍️Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh
๐Ÿ‘ณAbu al Fadll at-Tamimi
๐Ÿ“šDalam kitabnya I’tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal
✍️Dan diriwayatkan
๐Ÿ‘‡Dari
๐Ÿ‘ณDzu an-Nun al Mishri
๐Ÿ‘‡Oleh
๐Ÿ‘ณAl Hafizh al Khathib al Baghdadi
๐Ÿ“šDalam Tarikh Baghdad.

☑️Dan ini adalah kaidah yang merupakan Ijma’ (konsensus) para ulama.
☑️Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang bergambar.
☑️Dan Allah adalah pencipta segala gambar dan bentuk, maka Ia tidak ada yang menyerupai-Nya.

✍️Sebagaimana kita tidak bisa membayangkan suatu masa – sedangkan masa adalah makhluk- yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan.
✍️Akan tetapi kita beriman dan membenarkan bahwa cahaya dan kegelapan, keduanya memiliki permulaan.
✍️Keduanya tidak ada kemudian menjadi ada.
✍️Allah-lah yang menciptakan keduanya.
☪️Allah berfirman dalam al Qur’an:
✒️ “… dan yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya”
๐Ÿ“š(Q.S. al An’am: 1)

✍️Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk,
✍️Maka lebih utama kita beriman dan percaya bahwa :
☪️Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak bisa kita bayangkan.

☪️Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Allah meridlainya berkata yang maknanya:
✒️“Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”.
๐Ÿ‘†
☑️Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada tidak seperti makhluk-Nya, tanpa memikirkan tentang Dzat (Hakekat)-Nya.
☑️Adapun berpikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya.
๐Ÿ‘†
✍️Perkataan Sayyidina Abu Bakr semoga Allah meridlainya tersebut diriwayatkan oleh 
๐Ÿ“–Seorang ahli Fiqih dan hadits
๐Ÿ‘ณAl Imam Badr ad-Din az-Zarkasyi as-Syafi’i (W. 794 H) dan lainnya.

✍️Sumber :
๐Ÿ“šBuku “Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang diterbitkan Lembaga LITBANG Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah (SYAHAMAH) 2003.

Bersambung...

๐Ÿ™Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad