Tenanglah Soal Rezeki
Tenanglah Soal Rezeki
✍️Ini adalah salah satu tulisan dari Syaikh Ibnu ‘Atha’illah rahimahullah yang tertuang dalam salah satu bab di kitab Bahjat al-Nufus.
🤔Sebuah nasihat yang patut kita renungi, nasihat tentang ‘apa yang perlu disikapi dengan tenang dan apa yang lebih patut untuk kita risaukan’.
🤲Semoga kita tidak masuk ke dalam golongan orang-orang yang tertipu. Amin.
👳Berkata Syaikh Ibnu ‘Atha’illah :
🚶Betapa banyak hal yang tersembunyi dalam dirimu.
🤔Bila kau cermati secara seksama barulah engkau bisa melihatnya.
⛔Yang paling berbahaya adalah dosa ragu kepada Allah.
🌧️Sesungguhnya ragu terhadap rezeki berarti ragu terhadap Dzat Yang Memberikan Rezeki.
🌏Sesungguhnya dunia ini terlalu hina untuk dirisaukan.
😶Kalau engkau sadar, pastilah engkau merisaukan sesuatu yang lebih besar, yaitu masalah akhirat.
😒Orang yang merisaukan masalah kecil lalu melupakan masalah besar berarti ia bodoh.
🏃Karena itu, lakukanlah kewajiban untuk melaksanakan ibadah dan semua perintah Tuhan, Dia pun akan menjalankan apa yang menjadi kewajiban-Nya terhadapmu.
🥰Kalau kumbang, tokek, dan cacing saja diberi rezeki, akankah engkau dilupakan?
☪️Allah berfirman,
✒️“Serulah keluargamu untuk shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak menuntut rezeki darimu. Kamilah yang memberimu rezeki. Balasan yang baik akan diberikan kepada yang bertakwa.”
📚(Q.S. Thaha : 132)
🤫Kalau engkau menyaksikan orang yang risau karena rezeki, ketahuilah bahwa sebetulnya ia jauh dari Allah. 👇Seandainya ada yang berkata kepadamu,
📌“Besok kamu tak usah bekerja. Cukup kamu kerjakan ini saja, saya akan memberimu sepuluh dirham,” pastilah engkau percaya dan mematuhi perintahnya.
👉Padahal, ia makhluk yang fakir, tak bisa memberi manfaat ataupun mudharat.
🤔Lalu mengapa engkau tidak merasa cukup dengan Allah Yang Mahakaya dan Mahamulia yang telah menjamin rezekimu sepanjang hidup?
☪️Allah berfirman,
✒️“Tidak ada makhluk melata di muka bumi kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di Lauhul Mahfuz.”
📚(Q.S. Hud : 6)
🤭Siapa bergembira karena mendapat dunia, ia betul-betul dungu. 😂Lebih dungu lagi orang yang sedih ketika kehilangan dunia.
🐍Ia tak ubahnya seperti orang yang didatangi ular yang siap menggigit. Tiba-tiba ular tersebut pergi dan ia diselamatkan oleh Allah dari ular tersebut, namun ia sedih karena ular itu tak jadi menggigitnya.
👇Di antara tanda kelalaian dan pendeknya akal ialah kalau engkau merasa risau dengan sesuatu yang belum pasti, serta khawatir jatuh miskin sebelum kemiskinan itu tiba.
🤔Sementara itu, di sisi lain, engkau tidak pernah risau dengan sesuatu yang pasti terjadi,
👉yaitu mati.
🤔Engkau bertanya-tanya,📌“Bagaimana kondisi keluarga besok?”
📌“Bagaimana keadaan sampai akhir bulan?”
📌“Bagaimana kita mencari penghasilan tahun ini?”
💞Padahal kasih dan karunia Allah bisa datang dari arah yang tak terduga dan tak kau ketahui.
👿Yang dicuri adalah seorang pencuri atau dirampas oleh seseorang perampok memang merupakan rezekinya. Selama engkau hidup rezekimu takkan berkurang sedikit pun.
🤭Sungguh bodoh dan dungu bila engkau mencemaskan hal yang kecil dan melupakan sesuatu yang besar.
😢Yang mestinya kau cemaskan adalah akankah engkau mati dalam keadaan muslim atau kafir?
😰Akankah engkau bahagia atau celaka?
🔥Risaukanlah neraka yang kekal abadi itu.
📝Risaukanlah apakah pada hari kiamat engkau akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri.
🤔Inilah yang seharusnya kau risaukan.
⛔Jangan merisaukan masalah sesuap nasi yang hendak kau makan atau seteguk minuman yang akan kau minum.
🤔Mungkinkah Sang Majikan yang menjadikanmu pelayan takkan memberi makan?
🤔Mungkinkah engkau yang sedang berada dalam tempat jamuan tak dilayani dan disia-siakan?
🧘Ketaatan yang paling disukai adalah yakin pada-Nya.
☪️Allah berfirman,
✒️“Datangilah rumah-rumah itu dari pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.”
📚(Q.S. Al-Baqarah : 189).
☪️Pintu rezeki itu terletak pada ketaatan kepada Sang Pemberi rezeki.
🤔Bagaimana mungkin rezeki-Nya diminta tetapi disertai oleh maksiat? Bagaimana mungkin karunia-Nya dimohon dengan cara menentang-Nya?
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
✒️“‘Apa yang di sisi Allah tak mungkin diperoleh dengan membuat-Nya murka.”
👇Artinya,
✒️Rezeki-Nya hanya bisa diminta dengan ridha dan taat kepada-Nya.
☪️Itu sesuai dengan firman Allah,
✒️“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar untuknya dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya.”
📚(Ath-Thalaq : 2-3)
👳Karena itu, Syaikh Abul ‘Abbas al-Mursi berkata dalam hizibnya,
📌“Yang disebut rezeki menyenangkan adalah yang tak membuat kita terhijab di dunia, serta tak dihisab, tak ditanya, dan tak dihukum di akhirat. Pemilik rezeki tersebut berada dalam hamparan ilmu tauhid dan syariat. Mereka selamat dari hawa nafsu, syahwat, dan rasa tamak.”
😒Orang yang risau dengan urusan dunia dan lalai terhadap urusan akhirat,
🦁seperti orang yang didatangi binatang buas yang siap menerkam
🐝tapi ia malah sibuk mengusir lalat dari wajahnya daripada berlindung dari terkaman binatang buas tadi.
🤫Tentu saja orang tersebut sangat dungu dan tak punya akal.
Seandainya berakal, pastilah ia sibuk berlindung dari serangan singa ketimbang memikirkan lalat kecil yang tidak ada artinya.
🤔Demikian keadaan orang yang risau dengan urusan dunia sehingga lupa berbekal untuk akhirat. Itu menunjukkan kebodohannya. Seandainya cerdas, niscaya ia kan bersiap-siap menuju negeri akhirat. Sebab, di sana nanti ia akan ditanya di hadapan Allah.
🤸Janganlah kau sibuk dengan masalah rezeki. Sebab, rezeki dunia kalau diukur dengan akhirat, seperti lalat kecil dikur dengan singa yang sedang menyerang.
👳Keberadaan seorang hamba Allah di dunia ini seperti anak kecil bersama ibunya.
🤱Sang ibu tak akan membiarkan anaknya tak terurus. Ia akan mengasuhnya dengan baik. Ia juga tak pernah membiarkan anak itu terlantar.
🧘Demikian pula kondisi seorang hamba beriman bersama Allah.
☪️Allah-lah yang memberinya nafkah secara baik. Ia akan diberi berbagai kenikmatan sekaligus dilindungi dari berbagai ujian.
🧘Seorang hamba yang bersama Allah tak ubahnya seperti pelayan upahan yang dibawa oleh raja ke istananya. Pelayan itu pun disuruh bekerja. Tentu, tak mungkin raja tersebut mendatangkan seorang pelayan lalu disuruh bekerja di istananya tanpa diberi makan. Dalam hal ini, Allah jauh lebih pemurah dari raja tersebut.
🧘Begitulah kondisi hamba dan Allah. Istana tersebut adalah istana-Nya, sedangkan pelayan upahan itu adalah engkau sendiri, wahai orang beriman. Pekerjaan yang diperintahkan kepadamu adalah ketaatan.
Upahnya adalah surga pada hari kiamat.
Allah tak pernah menyuruhmu melakukan suatu perbuatan dan tak pernah memberikan sesuatu kecuali untuk kebaikan.
🧓Diceritakan bahwa ada seorang penggali kubur yang bertaubat kepada Allah.
Kemudian suatu hari ia berkata kepada gurunya,
📌“Wahai guruku, kira-kira aku sudah menggali seribu kubur.
📌Kusaksikan wajah mereka berpaling dari kiblat.”
Mendengar hal tersebut, gurunya itu berkomentar,
📌“Wahai anakku, itu terjadi karena mereka ragu dalam masalah rezeki.”
🌏Mengatur Dunia Tanpa Tertipu Olehnya
Mengatur dunia itu ada dua macam. Yaitu, mengatur dunia untuk dunia semata dan mengatur dunia untuk akhirat. Yang pertama adalah merancang cara mengumpulkan dunia dengan rasa bangga dan cinta kepadanya. Setiap kali dunianya bertambah, ia bertambah lalai terhadap akhirat, tambah terbuai dan tambah terperosok dalam maksiat. Tandanya, dunia tersebut membuatnya lalai dan tidak mengindahkan syariat.
Sementara yang kedua (mengatur dunia untuk akhirat) seperti orang yang mengelola dagangannya agar bisa makan dari hasil yang halal dan baik, agar bisa berinfak kepada fakir miskin, agar bisa menyambung silaturahim, bisa menjaga diri untuk tidak mengemis kepada orang, dan bisa menjaga kehormatan. Tandanya, ia tidak sibuk memperkaya diri, tidak mementingkan dunia, selalu membantu penderitaan kaum muslim, dan memudahkan orang-orang yang berada dalam kesulitan.
Ketahuilah, dunia tidak tercela secara mutlak. Tidak semua pencari dunia tercela dan mendapat murka. Yang tercela adalah kalau seseorang sibuk dengan dunia sampai lupa kepada agama, akhirat, dan ibadah sehingga ia pun menjadi budak dan pelayan dunia.
Pencari dunia yang tercela adalah yang mencari dunia hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk Tuhan, untuk dunia bukan untuk akhirat, untuk dikumpulkan bukan untuk diinfakkan, dan untuk berbangga-bangga bukan untuk memenuhi keperluan. Dengan demikian, manusia terdiri atas dua bagian. Pertama, manusia yang mencari dunia hanya untuk dunia, untuk kebanggan, untuk memperkaya diri, untuk kejahatan dan kekikiran, serta untuk berbuat kerusakan di bumi. Kedua, manusia yang mencari dunia sebagai alat menuju akhirat. Ia jadikan dunia tersebut sebagai sarana untuk taat kepada Tuhannya.
Kami mendengar guru kami, Abul ‘Abbas al-Mursi radiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang mengenal Allah tidak memiliki dunia ataupun akhirat. Sebab, dunianya ia persembahkan untuk akhirat dan akhiratnya adalah untuk Tuhannya.”
Begitulah kondisi para sahabat dan generasi salafuna shalih, yang hidup dalam keadaan kaya. Setiap usaha yang mereka lakukan adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dengan harta tersebut mereka tak berorientasi pada dunia, kemewahan, dan kesenangan. Karena itu Allah melukiskan mereka dengan firman-Nya, “Muhammad adalah utusan Allah. Orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang kafir dan kasih sayang terhadap sesama mereka.” (Q.S. Al-Fath : 29)
Demikianlah keadaan orang-orang yang Allah cintai. Allah telah memilih mereka sebagai sahabat, pembela, dan murid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendengar firman Tuhan yang beliau sampaikan. Tak ada karunia lebih tinggi daripada yang diberikan kepada para sahabat. Mereka telah memberikan kontribusi dan jasa yang sangat berharga kepada setiap muslim sampai hari kiamat. Betapa tidak; merekalah yang menerangkan seluruh hikmah dan hukum yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua. Mereka menjelaskna mana yang halal dan mana yang haram. Mereka memahami teks yang bersifat khusus (khashsh) dan yang bersifat umum (‘amm). Mereka juga berhasil membuka wilayah-wilayah baru Islam. Mereka hancurkan kaum musyrik dan pembangkang. Oleh karena itu, mereka layak mendapatkan kedudukan seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, “Para sahabatku laksana bintang gemintang. Yang mana saja kau jadikan panutan, pasti kau akan mendapat hidayah.” Dalam Al-Qur’an sendiri Allah melukiskan mereka dengan banyak sifat mulia sampai Dia berkata, “Mereka mencari karunia dan ridha Allah. Mereka membela Allah dan Rasul-Nya. Merekalah orang-orang yang jujur.” (Q.S. Al-Hasyr : 8). Itu menunjukkan bahwa ketika mereka mencari dunia, yang mereka tuju adalah ridha dan karunia Allah semata.
Pada ayat yang lain, Allah berfirman, “(Mereka) bertasbih di masjid-masjid, tempat yang Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, baik di waktu pagi maupun petang. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari hati dan penglihatan mereka berguncang, (Mereka melakukan itu semua) supaya Allah memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki tanpa batas.” (Q.S. An-Nur : 36-38)
Allah tidak melarang mereka berusaha, berdagang, atau melakukan jual beli. Walaupun kaya mereka tetap mendapat pujian-Nya selama tetap menunaikan hak-hak Tuhan. Menurut ‘Abdullah ibn ‘Utbah, ketika ‘Utsman ibn ‘Affan radiyallahu ‘anhu terbunuh, ia meninggalkan kekayaan sebanyak seratus ribu lima ratus dinar, satu juta dirham, seribu kuda, seribu sahaya, sumur Aris, Khaybar, dan lembah senilai dua ratus ribu dinar.
‘Amr ibn al-‘Ash juga meninggalkan tiga ratus dinar. Sementara, harta Zubair ibn ‘Awwam senilai lima puluh ribu dinar, seribu kuda, dan seribu sahaya. Lebih-lebih lagi milik ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang sulit untuk dihitung.
🕺💃Dunia ada di tangan mereka, tidak di qalbu mereka. Mereka bersabar ketika harta tersebut lepas, serta bersyukur kepada Allah ketika harta itu didapat. Memang di awal-awal, Allah menguji mereka dengan kefakiran agar cahaya mereka sempurna, batin mereka suci. Kemudian barulah mereka diberi. Seandainya mereka diberi sebelum diuji, barangkali harta tersebut akan menjadi fokus perhatian dan kesibukkan mereka. Namun, ketika harta tersebut diberikan setelah keyakinan terpatri dalam hati, mereka bisa mempergunakannya secara cerdas dan amanah.
☪️Mereka laksanakan firman Allah,
✒️“Infakkanlah sebagian dari harta yang Allah titipkan pada kalian.”
📚(Q.S. Al-Hadid : 7)
👳Bukti nyata bahwa mereka tidak mencintai dunia bisa ditunjukkan oleh sikap Abu Bakr radiyallahu ‘anhu ketika memberikan seluruh hartanya dalam peperangan.
👳Juga oleh sikap ‘Umar radiyallahu ‘anhu ketika memberikan separuh hartanya,
👳Oleh sikap ‘Abdurrahman ibn ‘Auf ketika memberikan tujuh ratus untanya,
👳Oleh sikap ‘Utsman ibn ‘Affan radiyallahu ‘anhu ketika memberikan bekal dari hartanya kepada pasukan yang sedang dalam kondisi sulit,
👳Serta oleh sikap para sahabat lainnya yang menunjukkan kebaikan dan kedermawanan mereka.
Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang melukiskan kesucian lahir batin mereka di samping kemuliaan dan keagungan mereka.
🕺💃Janganlah Tamak Pada Dunia
✍️Wahai saudaraku, jika engkau diberi harta dunia, lalu engkau tidak mensyukurinya serta lalai terhadap akhirat berarti harta tersebut merupakan ujian bagimu.
☪️Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
✒️“Dunia yang sedikit saja bisa membuat lalai terhadap akhirat.”
Lalu bagaimana dengan harta yang banyak?
💘Janganlah tergila-gila dengan dunia sebab suatu saat dunia akan menceraikanmu. Engkaulah yang seharusnya menceraikannya sebelum ia meminta cerai. Jika engkau lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, ibaratnya engkau sama seperti orang yang beristri dua; yang satu sudah tua dan suka berkhianat, sementara yang lain masih muda, cantik, dan setia. Jika engkau lebih memilih istri yang tua, jelek, dan suka berkhianat itu daripada istri yang muda, cantik, dan setia, berarti engkaulah sangat bodoh. Yang tua itu adalah dunia, sedangkan yang muda adalah akhirat.
👴Dunia ini seperti orang tua yang sedang menderita penyakit lepra dan kusta, tetapi penyakitnya itu dibungkus dengan baju sutra yang bagus. Orang beriman akan menjauh darinya karena mengetahui hakikat yang sebenarnya.
✍️Ketahuilah, orang yang bisa mengetahui rahasia sesuatu adalah orang yang amanah dan bisa dipercaya. Engkau penuhi semua jatahmu dalam hal makan, minum, pakaian, dan perhiasan. Bukankah ini sudah cukup sehingga engkau tak perlu lagi mencintai dunia? Orang yang mencintai dunia berarti telah mengkhianati amanah, takkan diberi tau rahasia yang ada.
🌏Pergunakanlah dunia sebagai sarana untuk sampai ke akhirat.
🧘Perbanyaklah zikir agar cahaya Tuhan turun padamu. Dunia ini ibarat orang yang sedang pergi ke ladang. Bila ia bekerja keras di ladang tersebut sambil mengumpulkan bahan makanan untuk keperluan nanti, maka ia tergolong cerdas dan pintar. Sebab, ia bekerja untuk sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri pada saatnya nanti. Begitulah keadaan orang yang beramal saleh di dunia. Sementara engkau sibuk mengumpulkan ular-ular syahwat dan kalajengking maksiat sehingga engkau pun binasa olehnya.
🤔Wahai saudaraku, fokuskanlah perhatian pada alam akhirat dan berpalinglah dari dunia.
⚠️Waspadalah suatu saat dunia ini akan melepaskan diri dan meninggalkan para penghuninya.
🕺💃Orang yang sibuk dengan dunia sehingga lalai untuk taat dan ibadah kepada Allah seperti seorang yang diutus oleh majikannya ke daerah asing untuk membuatkan beberapa baju baginya.
Lalu pelayan itu pun pergi ke daerah tersebut dan sesampai di sana ia bertanya,
📌“Di mana saya akan tinggal? Siapa yang akan saya nikahi?” Ia sibuk dengan itu semua sehingga lalai dalam mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh majikan. Ketika dipanggil pulang dan si majikan mengetahui bahwa ia sama sekali tidak menyediakan apa yang ia perintahkan, sebagai balasannya pelayan itu akan mendapat murka dan pemutusan hubungan darinya. Itulah balasan bagi orang yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga lalai terhadap hak sang majikan.
👳Begitu pula denganmu, wahai orang beriman. Allah telah mengirimmu ke dunia ini. Dia memerintahkanmu untuk mengabdi pada-Nya dan di lain sisi Dia yang akan mengurus semua kebutuhanmu. Namun, jika engkau sibuk mengurus diri sendiri sehingga lalai dari Tuhan berarti engkau telah menyimpang dari jalur petunjuk dan meniti jalan kebinasaan.
🌏Manusia di dunia ini seperti seorang hamba yang disuruh majikannya untuk pergi ke daerah tertentu,
📌“Pergilah engkau ke negeri ini. Rancanglah segala sesuatunya untuk pergi dari negeri tersebut ke negeri lain. Serta jangan lupa membawa bekal.”
Tentu saja ketika sang majikan memberi perintah untuk melakukan hal itu, ia membolehkan hambanya untuk memakan apa yang ia butuhkan guna mendukung tubuhnya dalam mencari bekal.
Demikian pula keadaan seorang hamba bersama Allah. Allah menciptakannya di dunia ini dan memerintahkannya untuk berbekal menuju alam akhirat.
☪️Allah berfirman,
✒️“Berbekallah. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”
📚(Q.S. Al-Baqarah : 196).
Jadi, ketika Allah memerintahkan manusia berbekal untuk akhirat, Dia membolehkannya mengambil dari dunia sebatas keperluan.
✍️Ketahuilah bahwa nilaimu senilai kesibukanmu. Jika engkau sibuk memperhatikan dunia, engkau tidak mempunyai nilai. Sebab, dunia seperti bangkai yang tak berharga. Sementara jika engkau sibuk dengan akhirat berarti engkau termasuk orang yang berbahagia, yang memiliki perhatian tinggi.
⛔Jangan Pula Risau Akan Dunia
🕺💃Orang yang risau terhadap dunia — yang menghabiskan malamnya dengan sibuk memikirkan keadaannya.
👳🧘Dan orang yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah serta berlapang hati seperti dua macam pelayan.
🧘Yang satu sibuk memenuhi perintah majikannya. Ia tidak peduli kepada pakaian yang bagus atau kepada makanan yang enak. Yang ada di benaknya adalah bagaimana mengabdi kepada sang majikan. Jatah dan bagian yang diambilnya sebatas yang direstui majikan.
🤸Sementara pelayan yang lain, setiap kali dibutuhkan oleh majikan, ia malah sibuk dengan urusannya sendiri. Ia sibuk mencuci dan merapikan bajunya, sibuk mengendarai kendaraannya, sibuk memperindah bajunya, serta sibuk memasak makanannya. Pelayan yang pertama tentu saja lebih mendapat perhatian majikan ketimbang yang kedua. Si majikan tidak membeli pelayan tersebut kecuali untuk mengabdi, bukan untuk mengurus dirinya sendiri.
🧘Pelayan yang pertama seperti hamba yang saleh dan mendapat taufik. Ia senantiasa lebih sibuk menunaikan hak-hak Tuhan dan mengerjakan perintah-Nya ketimbang memperhatikan keinginan dan tuntutan pribadi.
☪️Dalam kondisi semacam itu, Allah-lah yang akan mengurusi kebutuhannya dan memberinya berbagai karunia.
Sebab, ia telah bersungguh-sungguh dalam bertawakal, setia dalam mengabdi, ikhlas dalam melakukan ketaatan.
☪️Allah berfirman,
✒️“Siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya. Sungguh Allah berkuasa untuk mewujudkan urusan-Nya. Telah Allah tetapkan ketentuan atas segala sesuatu.”
📚(Q.S. Ath-Thalaq : 3).
🤸Orang yang terbuai dengan dunia lupa kepada akhirat, ia akan selalu sibuk mencari dunia serta berupaya sekuat tenaga guna mencapai maksud dan keinginannya.
👳Dari Anas radiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
✒️“Orang yang risau terhadap akhirat akan Allah beri kekayaan dalam kalbunya, akan Allah kumpulkan kemuliaan pada dirinya, serta dunia akan mendatanginya tanpa disangka-sangka. Sementara orang yang risau terhadap dunia, Allah berikan kemiskinan dalam pandangannya, Allah lucuti kemuliaannya, dan dunia akan mendatanginya sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan.
Di waktu petang, ia merasa fakir, di waktu pagi juga demikian. Tidaklah seorang hamba mendatangi Allah disertai kalbunya kecuali Dia akan membuat kalbu kaum mukmin mengasihi dan menyayanginya. Selain itu, Allah sangat cepat dalam memberikan kebaikan untuknya.”
📚(H.R. At-Tirmidzi)
Komentar
Posting Komentar