๐☪️SUMBER ILMU TAUHID DAN KEDUDUKANNYA DI ANTARA ILMU - ILMU LAIN
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
☮️.Kategori Ilmu
๐ณImam Al-Ghazali dalam
๐Ar-Risalah Al-Laduniyyah menyatakan bahwa ilmu itu terbagi menjadi dua kategori utama, Yaitu :
1️⃣.Ilmu syar’iy (ilmu keagamaan)
2️⃣.Dan ilmu ‘aqliy (ilmu rasionalitas).
1️⃣. ☮️Ilmu syar’iy (keagamaan) Kemudian terbagi menjadi dua bagian, Yaitu:
๐. Ilmu al-ushul (ilmu pokok-pokok keagamaan),
๐. Dan ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan).
๐. Yang masuk kategori dalam ilmu Al-Ushul sebagai bagian dari ilmu Syar’iy adalah:
๐Ilmu tauhid,
๐Ilmu tafsir (ilmu yang mengkaji tentang Al-Quran dan penafsirannya), ๐Dan ilmu al-akhbar (ilmu yang mengkaji tentang hadits Rasulullah dan pemahamannya).
✍️Ilmu al-ushul terkategori sebagai ilmu teoritis (ilmiyyan).
๐. Ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan) sebagai bagian dari ilmu syar’iy itu terkategori ilmu aplikatif (‘amaliyy).
๐Ilmu ini mencakup tiga hak.
1️⃣. Pertama,
☪️Hak Allah yang meliputi rukun-rukun ibadah semisal :
๐Thaharah,
๐Shalat,
๐Zakat,
๐Haji,
๐Jihad,
๐Dzikir,
๐Dan lain-lain perkara yang wajib dan sunnah.
2️⃣. Kedua,
๐ณHak sebagai hamba Allah, yang mencakup :
๐Interaksi bisnis,
๐Relasi sosial,
๐Dan transaksi antarmanusia.
✍️Jenis pertama dan kedua ini disebut sebagai ilmu fiqih.
✍️Ilmu ini mulia karena manusia tidak akan bisa terlepas darinya.
3️⃣. Ketiga,
๐ณHak diri, yang disebut juga sebagai ilmu akhlak.
✍️Akhlak itu ada yang tercela, dan manusia harus menghilangkannya;
✍️Dan ada yang terpuji, yang mesti menjadi hiasan jiwa manusia.
2️⃣. ☮️Ilmu ‘aqliyy (ilmu rasionalitas) termasuk ilmu yang rumit.
๐Ilmu ini terbagi menjadi tiga tahapan.
1️⃣.Pertama adalah:
๐งฎIlmu ar-riyadhy (matematika, atau ilmu hitungan) dan ilmu mantiqiy (logika).
2️⃣.Kedua adalah:
๐ฌIlmu at-tabiiyy (ilmu alam atau biologi).
3️⃣.Ketiga adalah:
๐ญIlmu nadhar fil mawjud (ilmu penelitian tentang segala hal yang ada).
☮️.Objek Ilmu Tauhid dan Sumbernya
✍️Sebagai ilmu syar’iy,
☪️Ilmu tauhid mengaji tentang zat dan sifat Allah, perihal kenabian, kematian, dan kehidupan, kiamat dan segala hal yang terjadi di hari kiamat.
☪️Kajian utama ilmu tauhid adalah tentang Allah Yang Qadim (terdahulu, tanpa ada pemulaan).
๐ณSyekh Al-Khatib al-Baghdady meriwayatkan bahwa
๐ณImam Junaid al-Baghdady berkata:
ุงูุชَّْูุญِูุฏ ุฅْูุฑَุงุฏُ ุงَููุฏِْูู
ِ ู
ِู ุงูู
ุญุฏุซ
✒️“Tauhid adalah pengesaan Allah Yang Qadim dari menyerupai makhluk-Nya.”
๐
Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, karena yang dikaji adalah Allah, Sang Pencipta, Yang Maha Esa. ✍️Ilmu ini wajib dipelajari oleh setiap yang berakal.
✍️Ulama ilmu ini adalah ulama yang paling utama.
๐Pembahasan ilmu tauhid menurut Ahlussunnah wal Jama'ah harus dilandasi dalil dan argumentasi yang definitif (qath'i) dari al-Qur'an, hadits, ijma' ulama, dan argumentasi akal yang sehat.
๐ณImam al-Ghazali dalam
๐Ar-Risalah al-Laduniyyah mengatakan:
َูุฃَُْูู ุงَّููุธَุฑِ ِْูู َูุฐَุง ุงْูุนِْูู
ِ َูุชَู
َุณََُّْููู ุฃََّููุงً ุจِุขَูุงุชِ ุงِููู ุชَุนَุงَูู ู
َِู ุงُْููุฑْุขِู، ุซُู
َّ ุจِุฃَุฎْุจَุงุฑِ ุงูุฑَّุณُِْูู، ุซُู
َّ ุจِุงูุฏَّูุงَุฆِِู ุงْูุนََِّْูููุฉِ َูุงْูุจَุฑَุงِِْููู ุงَِْูููุงุณَِّูุฉِ.
✒️Ahli nadhar (nalar) dalam ilmu akidah ini pertama kali berpegangan pada ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian dengan hadits-hadits Rasul, dan terakhir pada dalil-dalil rasional dan argumentasi-argumentasi analogis.
✍️Berikut adalah rincian dalil-dalil tersebut secara hirarkis:
1️⃣. ๐Al-Qur'an
๐Al-Qur'an al-Karim adalah pokok dari semua argumentasi dan dalil.
✍️Al-Qur'an adalah dalil yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran.
✍️Al-Qur'an juga merupakan kitab Allah terakhir yang menegaskan pesan-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya.
✍️Allah memerintahkan dalam al-Qur'an agar kaum Muslimin senantiasa mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya:
َูุฅِْู ุชََูุงุฒَุนْุชُู
ْ ِูู ุดَْูุกٍ َูุฑُุฏُُّูู ุฅَِูู ุงِููู َูุงูุฑَّุณُِูู
Artinya:
✒️“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).”
๐(QS. al-Nisa' : 59).
✍️Mengembalikan persoalan kepada Allah, berarti mengembalikannya kepada Al-Qur'an.
✍️Sedangkan mengembalikan persoalan kepada Rasul, berarti mengembalikannya kepada sunnah Rasul yang shahih.
2️⃣. ๐Hadits
๐Hadits adalah dasar kedua dalam penetapan akidah-akidah dalam Islam.
✍️Tetapi tidak semua hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah.
✍️Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakati, dan dapat dipercaya oleh para ulama.
✍️Sedangkan hadits yang perawinya masih diperselisihkan oleh para ulama, tidak dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah sebagaimana kesepakatan para ulama ahli hadits dan fuqaha yang mensucikan Allah dari menyerupai makhluk.
✍️Menurut mereka, dalam menetapkan akidah tidak cukup didasarkan pada hadits yang diriwayatkan melalui jalur yang dha'if, meskipun diperkuat dengan perawi yang lain.
๐ณAl-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi sebagaimana dikutip
๐ณSyekh Abdullah Al-Harary dalam kitabnya
๐Sharihul Bayan menyatakan:
ูุงَ ุชَุซْุจُุชُ ุงูุตَِّูุฉُ ِِููู ุจَِِْููู ุตَุญَุงุจٍِّู ุงَْู ุชَุงุจِุนٍِّู ุฅِูุงَّ ุจِู
َุง ุตَุญَّ ู
َِู ุงْูุงَุญَุงุฏِْูุซِ ุงَّููุจََِّููุฉِ ุงْูู
َุฑُْْููุนَุฉِ ุงْูู
ُุชََِّูู ุนََูู ุชَْูุซِِْูู ุฑَُูุงุชَِูุง، َููุงَ ُูุญْุชَุฌُّ ุจِุงูุถَّุนِِْูู َููุงَ ุจِุงْูู
ُุฎْุชََِูู ِْูู ุชَْูุซِِْูู ุฑَُูุงุชِِู ุญَุชَّู َْูู َูุฑَุฏَ ุฅِุณَْูุงุฏٌ ِِْููู ู
ُุฎْุชٌََูู ِِْููู َูุฌَุงุกَ ุญَุฏِْูุซٌ ุขุฎَุฑُ َูุนْุถِุฏُُู َููุงَ ُูุญْุชَุฌُّ ุจِِู
Artinya:
✒️Sifat Allah tidak dapat ditetapkan berdasarkan pendapat seorang sahabat atau tabi'in.
✒️Sifat Allah hanya dapat ditetapkan berdasarkan hadits-hadits Nabi yang marfu', yang perawinya disepakati dapat dipercaya.
✒️Jadi hadits dha'if dan hadits yang perawinya diperselisihkan tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah ini, sehingga apabila ada sanad yang diperselisihkan, lalu ada hadits lain yang menguatkannya, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.
๐ณAl-Hafizh al-Baihaqi juga mengutip dalam kitabnya
๐Al-Asma' wa al-Shifat dari
๐ณAl-Hafizh Abu Sulaiman al-Khaththabi,
✍️Bahwa sifat Allah itu tidak dapat ditetapkan kecuali berdasarkan nash al-Qur'an atau hadits yang dipastikan keshahihannya.
๐Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits mutawatir, yaitu ;
๐Hadits yang mencapai peringkat tertinggi dalam keshahihan.
✍️Hadits mutawatir ialah hadits yang disampaikan oleh sekelompok orang yang banyak dan berdasarkan penyaksian mereka serta sampai kepada penerima hadits tersebut, baik penerima kedua maupun ketiga, melalui jalur kelompok yang banyak pula.
✍️Hadits yang semacam ini tidak memberikan peluang terjadinya kebohongan.
๐Di bawah hadits mutawatir,
๐Adalah hadits masyhur.
๐Hadits masyhur dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah karena dapat menghasilkan keyakinan sebagaimana halnya hadits mutawatir.
๐Hadits masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari generasi pertama hingga generasi selanjutnya.
๐ณAl-Imam Abu Hanifah dan pengikutnya menetapkan syarat bagi hadits yang dapat dijadikan argumentasi dalam hal-hal akidah harus berupa hadits masyhur.
๐Dalam risalah-risalah yang ditulisnya dalam hal-hal akidah,
๐ณAbu Hanifah membuat hujjah dengan sekitar empat puluh hadits yang tergolong hadits masyhur.
๐Risalah-risalah tersebut dihimpun oleh
๐ณAl-Imam Kamaluddin al-Bayadhi al-Hanafi dalam kitabnya,
๐Isyarat al-Maram min 'Ibarat al-Imam.
✍️Sedangkan hadits-hadits yang peringkatnya di bawah hadits masyhur, maka tidak dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan sifat Allah.
3️⃣. ๐ณIjma' Ulama
๐ณIjma' ulama yang mengikuti ajaran Ahlul Haqq dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah.
✍️Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat Allah itu qadim (tidak ada permulaannya) adalah ijma' ulama yang qath'i.
๐ณDalam konteks ini, al-Imam al-Subki berkata dalam kitabnya
๐Syarh 'Aqidah Ibn al-Hajib:
ุงِุนَْูู
ْ ุฃََّู ุญُْูู
َ ุงْูุฌََูุงِูุฑِ َูุงْูุฃَุนْุฑَุงุถِ َُِّูููุง ุงْูุญُุฏُْูุซُ َูุฅِุฐًุง ุงْูุนَุงَูู
ُ ُُُّููู ุญَุงุฏِุซٌ، َูุนََูู َูุฐَุง ุฅِุฌْู
َุงุนُ ุงْูู
ُุณِْูู
َِْูู ุจَْู ُِّูู ุงْูู
َِِูู َูู
َْู ุฎَุงََูู ِْูู َูุฐَุง ََُููู َูุงِูุฑٌ ِูู
ُุฎَุงََููุชِِู ุงْูุฅِุฌْู
َุงุนَ ุงَْููุทْุนَِّู ุงูู
Artinya:
✒️"Ketahuilah sesungguhnya hukum jauhar dan 'aradh (Jauhar adalah benda terkecil yang tidak dapat terbagi lagi.
✒️Sedangkan 'aradh adalah sifat benda yang keberadaannya harus menempati benda lain) adalah baru. ✒️Oleh karena itu, semua unsur-unsur alam adalah baru.
✒️Hal ini telah menjadi ijma' kaum Muslimin, bahkan ijma' seluruh penganut agama-agama (di luar Islam).
✒️Barangsiapa yang menyalahi kesepakatan ini, maka dia dinyatakan kafir, karena telah menyalahi ijma' yang qath'i."
4️⃣. ๐ง Akal
๐Dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah Ta’ala telah mendorong hamba-hamba-Nya agar merenungkan semua yang ada di alam jagad raya ini, agar dapat mengantar pada keyakinan tentang kemahakuasaan Allah.
☪️Dalam konteks ini Allah berfirman:
ุฃَََููู
ْ َْููุธُุฑُูุง ِูู ู
ََُูููุชِ ุงูุณَّู
َุงَูุงุชِ َูุงْูุฃَุฑْุถِ
✒️Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi.
๐(QS. al-A'raf : 185).
☪️Allah juga berfirman:
ุณَُูุฑِِููู
ْ ุขَูุงุชَِูุง ِูู ุงْูุขَูุงِู َِููู ุฃَُْููุณِِูู
ْ ุญَุชَّٰู َูุชَุจَََّูู َُููู
ْ ุฃََُّูู ุงْูุญَُّู
✒️Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur'an itu adalah benar.
๐(QS. Fushshilat: 53).
✍️Dalam membicarakan sifat-sifat Allah, sifat-sifat Nabi, para Malaikat dan lain-lain, para ulama tauhid tidak hanya bersandar pada penalaran akal semata. Mereka membicarakan hal tersebut dalam konteks membuktikan kebenaran semua yang disampaikan oleh Nabi dengan akal.
๐ณJadi, menurut ulama tauhid,
๐Akal difungsikan sebagai sarana yang dapat membuktikan kebenaran syara', bukan sebagai dasar dalam menetapkan akidah-akidah dalam agama.
✍️Meski demikian, hasil penalaran akal yang sehat tidak akan keluar dan tidak mungkin bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh syara'.
✍️Demikianlah faktanya bahwa masalah tauhid yang bersumber dari Quran dan Hadits itu juga diperkuat dengan dalil-dalil aqli (rasional).
๐Hal demikian setidak-tidaknya karena dengan dua tujuan.
1️⃣Pertama, Agar sesiapa yang menentang masalah tauhid itu agar dapat menerima dan segera meyakininya, atau setidaknya menghentikan penentangannya tersebut. Mereka yang menentang ini adalah kelompok anti Tuhan atau kelompok di luar Ahlussunnah wal Jama’ah yang cenderung mempertanyakan dengan nada memojokkan.
2️⃣Kedua, agar mereka yang masih ragu-ragu dapat segera hilang keraguannya, kemudian tumbuh dalam dirinya suatu keyakinan yang mantap.
✍️Terkait dengan metode Ahlussunnah wal Jama'ah yang menggabungkan antara naql dengan akal tersebut,
๐ณPara ulama memberikan perumpamaan berikut ini.
๐Akal diumpamakan dengan mata yang dapat melihat.
๐Sedangkan dalil-dalil syara' atau naql diumpamakan dengan Matahari yang dapat menerangi.
⚠️Orang yang hanya menggunakan akal tanpa menggunakan dalil-dalil syara' seperti halnya orang yang keluar pada waktu malam hari yang gelap gulita.
๐Ia membuka matanya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya, antara benda yang berwarna putih, hitam, hijau dan lain-lain. Ia berusaha untuk melihat semuanya.
Tetapi selamanya ia tidak akan dapat melihatnya, tanpa ada Matahari yang dapat meneranginya, meskipun ia memiliki mata yang mampu melihat. Sedangkan orang yang menggunakan dalil-dalil syara' tanpa menggunakan akal, seperti halnya orang yang keluar di siang hari dengan suasana terang benderang, tetapi dia tuna netra, atau memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak akan dapat melihat mana benda yang berwarna putih, hijau, merah dan lain-lainnya.
✍️Ahlussunnah Wal-Jama'ah laksana orang yang dapat melihat dan keluar di siang hari yang terang benderang, sehingga semuanya tampak kelihatan dengan nyata, dan akan selamat dalam berjalan mencapai tujuan.
Yusuf Suharto, Tim Narasumber Aswaja NU Center Jatim, dosen Aswaja Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto
๐Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar