๐ŸŒMENGATUR DUNIA TANPA TERTIPU OLEHNYA

๐ŸŒ๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐Ÿ“–๐‘ด๐’๐’•๐’Š๐’—๐’‚๐’”๐’Š ๐‘ฐ๐’”๐’๐’‚๐’Ž ;
๐ŸŒMENGATUR DUNIA TANPA TERTIPU OLEHNYA

๐ŸŒMengatur dunia itu ada dua macam.
๐Ÿ‘‡Yaitu,
✍️Mengatur dunia untuk dunia semata dan mengatur dunia untuk akhirat.
๐Ÿ•บYang pertama adalah merancang cara mengumpulkan dunia dengan rasa bangga dan cinta kepadanya. Setiap kali dunianya bertambah, ia bertambah lalai terhadap akhirat, tambah terbuai dan tambah terperosok dalam maksiat.
๐Ÿ˜‡Tandanya, dunia tersebut membuatnya lalai dan tidak mengindahkan syariat.

๐Ÿง˜Yang kedua (mengatur dunia untuk akhirat) seperti orang yang mengelola dagangannya agar bisa makan dari hasil yang halal dan baik, agar bisa berinfak kepada fakir miskin, agar bisa menyambung silaturahim, bisa menjaga diri untuk tidak mengemis kepada orang, dan bisa menjaga kehormatan.
๐ŸคTandanya, ia tidak sibuk memperkaya diri, tidak mementingkan dunia, selalu membantu penderitaan kaum muslim, dan memudahkan orang-orang yang berada dalam kesulitan.

✍️Ketahuilah, dunia tidak tercela secara mutlak.
✍️Tidak semua pencari dunia tercela dan mendapat murka.
⛔Yang tercela adalah kalau seseorang sibuk dengan dunia sampai lupa kepada agama, akhirat, dan ibadah sehingga ia pun menjadi budak dan pelayan dunia.

๐Ÿ’ฐPencari dunia yang tercela adalah yang mencari dunia hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk Tuhan, untuk dunia bukan untuk akhirat, untuk dikumpulkan bukan untuk diinfakkan, dan untuk berbangga-bangga bukan untuk memenuhi keperluan.
๐Ÿ‘‡Dengan demikian, manusia terdiri atas dua bagian.
1️⃣Pertama, manusia yang mencari dunia hanya untuk dunia, untuk kebanggan, untuk memperkaya diri, untuk kejahatan dan kekikiran, serta untuk berbuat kerusakan di bumi. 2️⃣Kedua, manusia yang mencari dunia sebagai alat menuju akhirat. Ia jadikan dunia tersebut sebagai sarana untuk taat kepada Tuhannya.

✍️Kami mendengar guru kami,
๐Ÿ‘ณAbul ‘Abbas al-Mursi radiyallahu ‘anhu berkata,
๐Ÿ“Œ“Orang yang mengenal Allah tidak memiliki dunia ataupun akhirat. Sebab, dunianya ia persembahkan untuk akhirat dan akhiratnya adalah untuk Tuhannya.”

๐Ÿ‘ณBegitulah kondisi para sahabat dan generasi salafuna shalih, yang hidup dalam keadaan kaya. Setiap usaha yang mereka lakukan adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
๐Ÿ‘ณDengan harta tersebut mereka tak berorientasi pada dunia, kemewahan, dan kesenangan.
☪️Karena itu Allah melukiskan mereka dengan firman-Nya,
✒️“Muhammad adalah utusan Allah. Orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang kafir dan kasih sayang terhadap sesama mereka.”
๐Ÿ“š(Q.S. Al-Fath : 29)

๐Ÿ‘ณDemikianlah keadaan orang-orang yang Allah cintai.
☪️Allah telah memilih mereka sebagai sahabat, pembela, dan murid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendengar firman Tuhan yang beliau sampaikan.
๐Ÿ‘ณTak ada karunia lebih tinggi daripada yang diberikan kepada para sahabat.
๐Ÿ“ŒMereka telah memberikan kontribusi dan jasa yang sangat berharga kepada setiap muslim sampai hari kiamat.
๐Ÿ“ŒBetapa tidak; merekalah yang menerangkan seluruh hikmah dan hukum yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua.
๐Ÿ“ŒMereka menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram.
๐Ÿ“ŒMereka memahami teks yang bersifat khusus (khashsh) dan yang bersifat umum (‘amm).
๐Ÿ“ŒMereka juga berhasil membuka wilayah-wilayah baru Islam.
๐Ÿ“ŒMereka hancurkan kaum musyrik dan pembangkang.
☪️Oleh karena itu, mereka layak mendapatkan kedudukan seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,
✒️“Para sahabatku laksana bintang gemintang. Yang mana saja kau jadikan panutan, pasti kau akan mendapat hidayah.”
๐Ÿ“–Dalam Al-Qur’an sendiri Allah melukiskan mereka dengan banyak sifat mulia sampai Dia berkata,
✒️“Mereka mencari karunia dan ridha Allah. Mereka membela Allah dan Rasul-Nya. Merekalah orang-orang yang jujur.”
๐Ÿ“š(Q.S. Al-Hasyr : 8).
Itu menunjukkan bahwa ketika mereka mencari dunia, yang mereka tuju adalah ridha dan karunia Allah semata.

๐Ÿ“–Pada ayat yang lain,
☪️Allah berfirman,
✒️“(Mereka) bertasbih di masjid-masjid, tempat yang Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, baik di waktu pagi maupun petang. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari hati dan penglihatan mereka berguncang, (Mereka melakukan itu semua) supaya Allah memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki tanpa batas.”
๐Ÿ“š(Q.S. An-Nur : 36-38)

☪️Allah tidak melarang mereka berusaha, berdagang, atau melakukan jual beli.
๐Ÿ‘ณWalaupun kaya mereka tetap mendapat pujian-Nya selama tetap menunaikan hak-hak Tuhan.
๐Ÿ‘ณMenurut ‘Abdullah ibn ‘Utbah, ketika ‘Utsman ibn ‘Affan radiyallahu ‘anhu terbunuh, ia meninggalkan kekayaan sebanyak seratus ribu lima ratus dinar, satu juta dirham, seribu kuda, seribu sahaya, sumur Aris, Khaybar, dan lembah senilai dua ratus ribu dinar.

๐Ÿ‘ณ‘Amr ibn al-‘Ash juga meninggalkan tiga ratus dinar. Sementara, harta Zubair ibn ‘Awwam senilai lima puluh ribu dinar, seribu kuda, dan seribu sahaya. Lebih-lebih lagi milik ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang sulit untuk dihitung.

๐Ÿ™Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad