9️⃣. Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐*๐๐ค๐ข๐๐๐ก :
☪️*๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐*
Bagian 9️⃣
๐ณAl Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H)
๐Dalam al Burhan al Mu- ayyad berkata:
✒️“Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
✍️Mutasyabihat artinya :
✒️Nash-nash al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara dhahirnya,
✒️Karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya),
✒️Akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur’an pada ayat-ayat yang Muhkamat,
✒️Yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab,
✒️Yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya.
๐Ayat Istiwa’
✍️Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah :
☪️Firman Allah ta’ala surat Thaha ayat 5 :
✒️“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah.Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
๐
๐⛔Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk jalasa) atau bersemayam atau berada di atas ‘Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya.
⛔Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita,
๐งKarena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh ;
๐ณAl Hafizh al Bayhaqi (W. 458 H),
๐ณAl Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H)
๐ณDan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya.
✍️Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna.
✍️Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat.
✍️Berdasarkan ini,
⛔Maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut.
☑️Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai).
✍️Dengan ini diketahui :
⛔Bahwa tidak boleh berpegangan kepada ”al Qur’an dan Terjemahnya” yang dicetak oleh Saudi Arabia karena di dalamnya banyak terdapat penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti ketika mereka menerjemahkan istawa dengan bersemayam, padahal Allah maha suci dari duduk, bersemayam dan semua sifat makhluk.
✍️Mereka juga menafsirkan Kursi dalam surat al Baqarah: 255 dengan tempat letak telapak kaki-Nya, padahal Allah maha suci dari anggota badan, kecil maupun besar, seperti ditegaskan oleh al Imam ath-Thahawi dalam al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah.
☪️Al Imam Ali semoga Allah meridlainya mengatakan:
✒️“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
✍️Maka ayat tersebut di atas (surat Thaha: 5)๐
☑️Boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai) yakni Allah menguasai ‘Arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. ✍️Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi Allah.
☪️Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka ‘Abdul Qahir dan ‘Abdul Qahhar.
❎Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd aljalis (aljalis adalah nama bagi yang duduk). ๐งKarena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat.
๐
Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy adalah merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan).
✍️Dalam ayat ini, Allah menyebut ‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.
๐Riwayat yang Sahih dari Imam Malik tentang Ayat Istiwa’
๐ณAl Imam Malik ditanya mengenai ayat tersebut di atas, kemudian beliau menjawab:
✒️“Dan tidak boleh dikatakan bagaimana dan al kayf / bagaimana (sifat-sifat benda) mustahil bagi Allah”.
๐(diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat)
๐
๐ณMaksud perkataan al Imam Malik tersebut,
☑️Bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti duduk, bersemayam dan sebagainya.
❎Sedangkan riwayat yang mengatakan wal Kayf Majhul adalah tidak benar.
๐ณPenegasan Imam Syafi’i
๐Tentang
๐งOrang yang Berkeyakinan Allah duduk di atas ‘Arsy
๐ณIbn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan
๐Dalam karyanya Najm al Muhtadi
๐Menukil perkataan
๐ณAl Imam al Qadli Najm ad-Din
๐Dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih
๐Bahwa ia menukil dari
๐ณAl Qadli Husayn (W. 462 H)
✒️Bahwa al Imam asy-Syafi’i menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
๐ณUlama Ahlussunnah yang Mentakwil Istiwa’
✍️Kalangan yang mentakwil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.
๐Di antaranya adalah :
๐ณAl Imam ‘Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak (W. 237 H)
๐Dalam kitabnya Gharib al Qur’an wa Tafsiruhu,
๐ณAl Imam Abu Manshur al Maturidi al Hanafi (W. 333 H)
๐Dalam kitabnya Ta’wilat Ahlussunnah Wal Jama’ah,
๐ณAz-Zajjaj, seorang pakar bahasa Arab (W. 340 H)
๐Dalam kitabnya Isytiqaq Asma Allah,
๐ณAl Ghazali asy-Syafi’i (W. 505 H)
๐Dalam al Ihya,
๐ณAl Hafizh Ibn al Jawzi al Hanbali (W. 597 H)
๐Dalam kitabnya Dafu Syubah at-Tasybih,
๐ณAl Imam Abu ‘Amr ibn al Hajib al Maliki (W. 646 H)
๐Dalam al Amaali an-Nahwiyyah,
๐ณSyekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i (W. 1285-1338 H)
๐Dalam Mawhibah dzi al Fadll,
๐ณSyekh Muhammad Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i (W. 1314 H- 1897)
๐Dalam kitabnya at-Tafsir al Munir dan masih banyak lagi yang lainnya.
๐งInkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa’ secara Zhahirnya
✍️Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah :
๐“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
๐
๐Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya:
๐“ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”.
✍️Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan.
๐
๐Akan tetapi makna ayat di atas bahwa :
๐Seorang musafir yang sedang melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangan,
☑️Ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah
๐Sebagaimana yang dikatakan oleh ๐ณMujahid (W. 102 H) murid Ibn Abbas.
๐Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh
๐ณAl Hafizh al Bayhaqi
๐Dalam al Asma’ Wa ash-Shifat.
๐
Mereka yang meyakini bahwa Allah ada di atas ‘Arsy sesuai dengan zhahir ayat Istiwa’ dan pada saat yang sama ia meyakini bahwa Allah ada di bumi sesuai zhahir ayat 115 surat al Baqarah ini.
✍️Dua keyakinan yang saling bertentangan ini diakibatkan oleh pemahaman secara zhahir terhadap ayat Mutasyabihat.
✍️Jika ia memahami ayat 115 surat al Baqarah ini tidak secara zhahirnya, mestinya ia juga memahami ayat istiwa tidak’ secara zhahirnya.
๐Ayat 35 Surat an-Nur
✍️Dan begitulah seluruh ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya.
☪️Seperti firman Allah ta’ala dalam surat an-Nur: 35
✒️“Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.”
๐
⛔Tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk.
☪️Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya.
๐Tetapi makna ayat ini,
☪️Bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang.
๐Atau maknanya,
☪️Bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin, yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan.
✍️Sebagaimana yang dikatakan oleh
๐ณ‘Abdullah ibn Abbas semoga Allah meridlainya salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.
๐Takwil ini diriwayatkan oleh
๐ณAl Bayhaqi dalam al Asma’ Wa as-Shifat.
✍️Dengan demikian kita
⚠️Wajib mewaspadai kitab
๐Mawlid al ‘Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa
⛔“Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad, maka ia menjadi Muhammad”.๐
✍️Ini adalah kekufuran wal ‘iyadzu billah karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bagian dari-Nya.
๐⛔Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada
๐ณAl Hafizh Ibn al Jawzi,
๐
Tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama
๐ค Brockelmann.
✍️Sumber :
๐Buku “Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang diterbitkan Lembaga LITBANG Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah (SYAHAMAH) 2003.
Bersambung...
๐Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar