๐Ÿ‘ณ๐ŸŒ‘INILAH ALASAN KENAPA IMAM ABU HANIFAH TIDAK PERNAH TIDUR MALAM SELAMA 40 TAHUN.

๐ŸŒ๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก

            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐Ÿ“–๐‘ด๐’๐’•๐’Š๐’—๐’‚๐’”๐’Š ๐‘ฐ๐’”๐’๐’‚๐’Ž ;
๐Ÿ‘ณ๐ŸŒ‘INILAH ALASAN KENAPA IMAM ABU HANIFAH TIDAK PERNAH TIDUR MALAM SELAMA 40 TAHUN.

๐Ÿ‘ณSalah satu karomah Imam Abu Hanifah adalah beliau tidak tidur malam selama 40 tahun.
๐Ÿง˜Dan beliau melakukan shalat Shubuh dengan wudhu’ yang ia lakukan untuk melaksanakan shalat Isya’.
๐Ÿ‘‡Artinya,
✍️Selama semalam suntuk beliau tidak tidur dan tidak batal wudhunya.

๐Ÿ“–Berikut kisah yang melatar belakangi sehingga Imam Abu Hanifah tidak pernah tidur di malam hari selama 40 tahun.

๐Ÿ“˜Sebagaimana disebutkan dalam kitab Tadzkiratul Awliya’,
๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah memiliki kebiasaan shalat tiga ratus rakaat setiap malam.

๐ŸƒHingga suatu saat ada orang melintas ketika ia sedang melaksanakan shalat.
๐Ÿง•Seorang wanita berkata pada wanita lainnya:
๐Ÿ“Œ“Orang ini (Imam Hanafi) shalat setiap malam lima ratus rakaat.”

๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah yang mendengar perkataan itu dan dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan pujian tersebut, karena ia hanya melaksanakn shalat tiga ratus rakaat.

๐Ÿง˜Maka sang Imam berniat shalat lima ratus rakaat untuk membenarkan persangkaan wanita tersebut.

๐ŸคผSetelah itu ia shalat lima ratus rakaat setiap malam sampai sekumpulan anak-anak yang tengah bermain melintas dan berkata satu sama lainnya:
๐Ÿ“Œ“Orang ini shalat setiap malam seribu rakaat.”

๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah mendengarnya dan berkata:
✒️“Aku akan shalat, insya Allah, setiap malam seribu rakaat, agar persangkaan anak-anak itu tidak salah.”

๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah melaksanakan shalat seribu rakaat setiap malam cukup lama,
๐Ÿง‘Kemudian sebagian dari murid-muridnya berkata kepadanya:
๐Ÿ“Œ“Orang-orang meyangka bahwa guru tidak tidur di malam hari.”

๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah berkata:
✒️“Aku berjanji tidak akan tidur”.
๐ŸŒ‘⛔Setelah itu, ia meninggalkan tidur malam sama sekali.
๐Ÿง‘(Mendengar itu) murid-muridnya bertanya:
๐Ÿ“Œ“Kenapa wahai guru?”
๐Ÿ‘ณImam Abu Hanifah menjawab:
✒️“Agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang digambarkan Allah SWT dalam Surat Ali Imran

ู„َุง ุชَุญْุณَุจَู†َّ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠَูْุฑَุญُูˆْู†َ ุจِู…َุงٓ ุงَุชَูˆْุง ูˆَّูŠُุญِุจُّูˆْู†َ ุงَู†ْ ูŠُّุญْู…َุฏُูˆْุง ุจِู…َุง ู„َู…ْ ูŠَูْุนَู„ُูˆْุง ูَู„َุง ุชَุญْุณَุจَู†َّู‡ُู…ْ ุจِู…َูَุงุฒَุฉٍ ู…ِّู†َ ุงู„ْุนَุฐَุงุจِۚ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุงَู„ِูŠْู…ٌ

✒️“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih.”
๐Ÿ“š(QS.ฤ€li ‘Imrฤn [3]:188)

✍️Yang dimaksud oleh Imam Abu Hanifah adalah agar
๐Ÿ“Œ‘tuduhan kebaikan’
yang dialamatkan kepadanya oleh orang-orang adalah benar.

✍️Ia merasa malu jika dianggap sebagai orang baik yang banyak melakukan amal akan tetapi ia tidak seperti halnya yang dianggap oleh orang lain.

✍️Karenanya, ia senantiasa memperbaiki amal, bukan karena ingin dipuji, melainkan agar amal yang ia lakukan sama atau bahkan melebihi persangkaan orang kepadanya.

๐Ÿ“–Kisah tentang ini, juga disebutkan dalam
๐Ÿ“˜Siyar Al A’laam Annubala` Juz 6 halaman 399

ูˆุฑูˆู‰ ุจุดุฑ ุจู† ุงู„ูˆู„ูŠุฏ، ุนู† ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุฃุจูŠ ูŠูˆุณู ู‚ุงู„: ุจูŠู†ู…ุง ุฃู†ุง ุฃู…ุดูŠ ู…ุน ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ، ุฅุฐ ุณู…ุนุช ุฑุฌู„ุง ูŠู‚ูˆู„ ู„ุขุฎุฑ: ู‡ุฐุง ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ู„ุง ูŠู†ุงู… ุงู„ู„ูŠู„. ูู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ: ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠุชุญุฏุซ ุนู†ูŠ ุจู…ุง ู„ู… ุฃูุนู„. ููƒุงู† ูŠุญูŠู‰ ุงู„ู„ูŠู„ ุตู„ุงุฉ ูˆุชุถุฑุนุง ูˆุฏุนุงุก

๐Ÿ‘ณBasyar bin Walid menceritakan dari Qadhi Abu Yusuf:
๐Ÿšถsatu saat aku berjalan bersama Imam Abu Hanifah, tiba-tiba saya mendengar seseorang berkata kepada yang lain,
✒️“Inilah Abu Hanifah, dia tidak pernah tidur malam.”
๐Ÿ‘ณLalu Imam Abu Hanifah berkata,
✒️“Demi Allah, dia tidak membicarakan tentang aku dengan apa-apa yang aku tidak pernah lakukan.”
๐Ÿง˜Maka Beliau senantiasa menghidupkan malam dengan melakukan shalat , bertadharru’ dan banyak berdoa.

✍️Begitulah Abu Hanifah. Ini menjadi pelajaran, setidaknya kita tidak merasa bangga dengan pujian yang sebenarnya kita tidak pantas untuk mendapatkannya karena memang kita tidak benar-benar melakukan apa yang membuat orang lain memuji kita.

๐Ÿ™Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a'lamu bishowaab.

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
https://t.me/aswaja_cyber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad