Gerakan Salafi Ibnu Taimiyah
Gerakan Salafi Ibnu Taimiyah
Adapun istilah Salafi sebagai suatu nama aliran dalam Islam merupakan suatu gerakan Islam yang muncul di akhir abad ke-7 hijriah atau abad ke-13 masehi yang dipelopori Ibnu Taimiyah (661 – 728 H/1263 – 1328 M) sebagai reaksi atas reformasi rasional (ilmu kalam) yang dipelopori oleh Al-Asy’ari atas akidah Ahli Hadits. Ibnu Taimiyah, yang notabene merupakan ahli fiqih madzhab Hanbali, menganggap bahwa pembaharuan semacam ini keluar dari sunnah.
๐Bantahan Aswaja :
๐๐[19]Ibnu Taimiyah da;a, Al-Fatwa Al-Hamwiyah Al-Kubro, menulis panjang lebar tentang ilmu kalam Al-Asy’ari dan responsnya.
Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah berusaha menghidupkan kembali akidah ahli hadits sebagai perlawanan terhadap doktrin takwil yang dilakukan ulama tauhid Asy’ariyah atas hadits-hadits yang digunakan sebagai dasar akidah mereka. Ibnu Taimiyah memberi nama gerakan ini dengan Manhaj Salafis Sholeh. Maka dakwahnya dikenal dengan sebutan Salafi. Karena ia mengajak untuk kembali ke jalur Salafus Soleh dan berpegang pada Al-Quran dan Sunnah.
๐Bantahan Aswaja :
๐[20]Istilah berpegang teguh pada Quran dan Sunnah sebenarnya suatu jargon yang bisa disalahpahami oleh kalangan awam dan bisa bersifat kontradiktif. Karena, secara faktual Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdil Wahab dan para ulama Salafi Wahabi sama-sama menggunakan akal untuk mendukung pendapatnya. Sekedar contoh, konsep pembagian tauhid menjadi tiga yaitu uluhiyah, rububiyah, asma was shifat adalah konsep buatan Ibnu Taiimiyah dan tidak ada dalam Al Quran maupun Sunnah. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir, menyebut konsep ini bid’ah yang sesat.)
Menurut Ibnu Taimiyah, Asy’ariyah dan kelompok lain mulai melenceng dari jalan Salafus Sholeh karena mengamalkan suatu akidah baru yang tidak dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal dan ulama sebelumnya. Seperti melakukan perjalanan khusus untuk ziarah kubur Rasulullah, memperingati maulid Nabi, tabarruk dan tawasul pada Nabi dan Ahli Bait Nabi. Ziarah kubur, menurut Ibnu Taimiyah, adalah bid’ah dan syirik yang bertentangan dengan akidah tauhid.[21]
Reformasi yang dilakukan Ibnu Taimiyah dan kekuatan argumennya membuatnya memperoleh banyak pengikut. Di kalangan mereka ia mendapat julukan Syaikhul Islam. Akan tetapi dakwahnya tidak mendapat sambutan luas di kalangan Islam mainstream. Pengaruhnya terbatas pada sejumlah kawasan di Syam dan Mesir. Bahkan, ia mendapat perlawanan sengit dari sejumlah ulama Ahlussunnah berpengaruh. Ia dipenjara di Mesir selama 1.5 tahun karena ideologi tajsim dan tasybihnya. Ia kembali ditahan di Damaskus. Ajaran Salafi ala Ibnu Taimiyah mengalami kemandekan dan hanya diikuti oleh sebagian kecil orang sejak awal sampai akhir hayatnya. [22]
Gerakan Salafi baru mulai menyebar dengan cepat setelah dakwah Ibnu Taimiyah ini diambil alih dan diteruskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya lima abad kemudian. Ini semua berkat bantuan finansial tak terbatas dari kerajaan Arab Saudi untuk menyebarkan faham ini ke seluruh dunia.
Komentar
Posting Komentar