Asy-Syeikh Muhammad Al-Ghazali
.👳ASY-SYEIKH MUHAMMAD AL-GHAZALI
✍️Syekh Muhammad al-Ghazali
🌠Akhirnya, bintang yang bersinar terang itu pun padam,
🏔️Gunung yang kokoh itu pun akhirnya runtuh,
🏳️Bendera yang berkibar itu pun akhirnya dilipat,
💥Matahari yang selalu memancarkan sinarnya tersebut pun akhirnya tenggelam,
🏇Sang penunggang kuda yang sekaligus sang pendidik itu pun akhirnya turun dari punggung kuda,
👳Dan akhirnya Asy-Syeikh Ghazali pun meninggal dunia.
🕌Akhirnya, umat Islam pun harus kehilangan pimpinan bagi semua pimpinan,
👳Asy-Syeikhul Islam, imam dakwah dan tokoh Al-Qur’an, Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali.
✒️Akhirnya, pena yang sebelumnya menjelma menjadi sebuah “pedang” tajam yang membabat musuh-musuh Allah swt. itu pun dimasukkan ke dalam sarungnya, pedang yang tidak pernah tumpul, selama kelompok-kelompok munafik dan kesesatan masih berusaha menyebarkan keresahan.
🗣️Akhirnya lisan yang hampir selama enam puluh tahun lantang bersuara dan menggema itu pun terdiam, lisan yang selalu menyerukan dakwah kepada Allah swt., lisan yang mampu menyedot dan mengumpulkan ribuan manusia untuk mendengarkannya, dan lisan yang mampu membentuk barisan-barisan yang siap menerima dakwahnya.
👳Asy-Syeikh Ghazali meninggal dunia di tengah-tengah medan “pertempuran”
⚔️dengan senjata masih di genggaman,
⛵Dengan layar kapal yang masih berkibar belum dilipat, bahkan terus menentang dan melawan ombak serta menerjang badai yang menyerang dari arah kanan dan kiri kapal yang bernama Islam. Sebuah kapal yang hendak ditelan oleh lautan dan hendak ditenggelamkan oleh badai yang sangat kencang.
📺Media-media siaran memberitakan bahwa Asy-Syeikh Ghazali terkena serangan jantung yang kritis, pada saat dirinya sedang menyampaikan ceramah di sebuah symposium dengan tema “Islam dan Barat” yang diadakan di kota Riyadh.
🍂Tentara penunggang kuda itu pun terjatuh dengan “pedang” masih berada di genggaman! Dan saya melihat bahwa Asy-Syeikh Ghazali adalah termasuk syuhada’ insya Allah, karena beliau meninggal pada saat dirinya sedang menyampaikan dakwah dan membela Islam, ditambah lagi beliau meninggal di tempat yang jauh dan asing.
✍️Saya tahu bahwa Asy-Syeikh Ghazali memang mengidap penyakit serangan jantung sejak beberapa tahun.
🥼Para dokter yang menanganinya sebenarnya juga telah menegaskan dan menasihati agar dirinya tidak usah melakukan perjalanan jauh, karena kondisi kesehatannya tidak mendukung dan tidak kuat menahan kelelahan perjalanan.
👳Namun, Asy-Syeikh Ghazali tidak mampu untuk menolak jika diundang untuk menghadiri amal atau kegiatan-kegiatan demi Islam.
Beliau berkata,
✒️“Orang baik hati, jika seandainya dia diundang untuk menghadiri “Tha’nah” (sesuatu yang membahayakannya), maka dia tetap akan menghadiri undangan tersebut.” Oleh karena itu, beberapa bulan yang lalu, Asy-Syeikh al-Ghazali pernah pergi ke Amerika Serikat mewakili lembaga “Majma’ul buhuuts al-Islamiyyah.”
Oleh karena itu, saya juga sempat kaget ketika membaca bahwa Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali menghadiri festival budaya “Al-Janaadariyyah” yang diadakan di ibu kota Kerajaan Arab Saudi, Riyadh, untuk ikut meramaikan symposium yang bertemakan “Islam dan Barat”. Padahal sebelumnya, banyak sekali undangan yang datang kepadanya dari berbagai kawasan – terutama kawasan teluk – yang sangat mengharapkan dirinya berkenan untuk menyampaikan beberapa ceramah untuk meramaikan malam bulan Ramadhan. Namun, dengan halus, Asy-Syeikh Ghazali menolak semua undangan dan meminta maaf kepada semua pihak yang telah mengundangnya, karena dirinya tidak bisa memenuhi undangan mereka tersebut.
Sepertinya, Allah swt. memang telah menakdirkan Asy-Syeikh al-Ghazali untuk pergi menghadiri festival tersebut. Karena ada suatu perkara yang hanya diketahui oleh-Nya, suatu perkara yang memang diinginkan oleh Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali. Semoga Allah swt. merahmatinya. Yaitu bahwa tempat peristirahatan terakhirnya adalah di dekat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan masjid Nabawi yang mulia. Asy-Syeikh al-Ghazali dimakamkan di perkuburan Baqi’ di kota Madinah al-Munawwarah, kota tempat dirinya mengarang sebuah kitab yang berjudul Fiqhus Sirah. Ketika mengarang kitab ini, air matanya bercucuran bercampur dengan tinta, karena kecintaannya yang begitu mendalam kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apa yang telah Asy-Syeikh al-Ghazali dapat ini – meninggal di Riyadh dan dimakamkan di perkuburan Baqi’ dekat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di dekat Masjid Nabawi – tidak akan terwujud kecuali dengan perantara seperti ini. Yaitu kepergiannya menghadiri festival dan menjadi pembicara di sebuah symposium yang bertemakan “Islam dan Barat” yang memang telah ditakdirkan oleh Allah swt.. Dan, Allah swt. adalah Zat Yang berkuasa terhadap urusan-Nya.
Salah satu teman Asy-Syeikh Ghazali Prof. Dr. Muhammad Umar Zubair, yang waktu itu ikut menghadiri upacara pemakaman Asy-Syeikh al-Ghazali mengabarkan kepada saya bahwa makam Asy-Syeikh al-Ghazali berada di tempat yang sangat baik dan strategis, sangat dekat dengan makam Imam Malik dan makam Imam Nafi’, salah satu imam qira’ah tujuh. Semoga Allah swt. selalu merahmati mereka semua.
Saya telah mengenal Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali hampir selama setengah abad lamanya. Dan selama itu saya mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang memiliki otak cerdas, hati yang suci bersih, akhlak yang mulia, tekad yang kuat, dan harga diri yang terjaga. Saya mengenal al-Ghazali dan yang saya tahu beliau adalah sosok yang memiliki kejujuran dan keteguhan iman, ucapan yang tepat dan benar, ikhlas di dalam beramal, kelurusan dan kematangan di dalam berpikir, memiliki budi pekerti yang mulia, memiliki keberanian di dalam kebenaran. Beliau selalu melawan setiap kebatilan, memiliki keteguhan di dalam menunaikan dakwah, menyukai kebaikan dan kebenaran, memiliki ghirah terhadap agama, selalu menjaga sikap adil, sangat benci terhadap segala bentuk kezaliman. Dia juga selalu berdiri bersama-sama kelompok lemah, melawan orang-orang yang angkuh dan bersikap sewenang-wenang, walau bagaimanapun besarnya kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki.
Saya telah mengenal Asy-Syeikh al-Ghazali, dia adalah sosok yang hidup untuk Islam dan hanya untuk Islam semata. Seluruh hidupnya diserahkan hanya untuk Islam, tidak ada sesuatu atau seorang pun yang dia jadikan sekutu bagi Islam di dalam hal ini. Jika diumpamakan Asy-Syeikh al-Ghazali adalah kain tenunan, maka Islam baginya adalah bagaikan benang sari atau benang lungsin dan benang pakaiannya. Jika diumpamakan Asy-Syeikh al-Ghazali adalah waktu, maka Islam adalah waktu pagi dan waktu sorenya dan jika diumpamakan dirinya adalah tempat, maka Islam adalah tempat permulaan dan tempat akhir.
Asy-Syeikh al-Ghazali hidup untuk Islam dan memosisikan dirinya sebagai seorang prajurit Islam yang selalu terjaga untuk menjaga Islam dengan senjata selalu siap di tangan. Dari arah mana pun para musuh ingin mendekati dan menerobos banteng Islam, maka beliau akan segera berteriak dengan suara lantang membangunkan orang-orang yang tertidur dan mengingatkan orang-orang yang sedang lupa dan terlena. Saya melihat Asy-Syeikh al-Ghazali adalah seperti itu, dan Allah swt. adalah Zat Yang mengawasinya dan saya tidak menganggap dirinya adalah orang yang suci di hadapan Allah swt..
Mungkin Anda boleh berbeda pendapat dengan Asy-Syeikh al-Ghazali di dalam satu atau beberapa masalah, mungkin Anda boleh melontarkan kritikan terhadap beberapa pendapat dan pikirannya, akan tetapi Anda tidak mampu untuk meragukan kejujuran, keikhlasan dan ghirahnya. Yang terutama adalah bahwa Asy-Syeikh al-Ghazali merupakan seorang mujtahid, yang bersungguh-sungguh mengerahkan segala kemampuannya untuk memahami agamanya dan berbuat demi kebaikan Islam dengan cara yang menurutnya paling sesuai dan paling benar. Jika benar, maka dia mendapatkan dua pahala, akan tetapi jika salah, maka dia tetap mendapat satu pahala.
Asy-Syaikh al-Ghazali telah mampu meninggalkan warna yang jelas di dalam pemikiran Islam, yang tidak akan bias dihapus oleh pergantian malam dan siang. Yaitu berupa karya-karyanya yang begitu banyak, baik yang dalam bentuk kitab yang jumlahnya mencapai puluhan, atau dalam bentuk tulisan makalah yang jumlahnya mencapai ratusan, atau dalam bentuk khotbah, ceramah dan pelajaran yang pernah disampaikannya maupun dalam bentuk siaran-siaran, baik saran radio maupun televisi yang sudah tidak bisa dihitung lagi jumlahnya.
Di samping itu, Asy-Syeikh al-Ghazali juga memiliki banyak sekali anak didik yang sempat menimba ilmu darinya di universitas-universitas di mana dirinya pernah mengajar, di Universitas Al-Azhar di Mesir, di Universitas Ummul Quraa di Mekah, di fakultas syariah di Qatar, di mana kami sempat bergembira karena beliau mengajar di fakultas ini selama tiga tahun, dan di Universitas al-Amir Abdul Qadir lil ‘uluumil Islaamiyyah di Aljazair, di universitas ini, Asy-Syeikh al-Ghazali sempat mengajar selama lima tahun berturut-turut.
Asy-Syaikh al-Ghazali mengajarkan anak didiknya untuk menyeimbangkan antara akal dan nash, antara kaidah pokok dan cabang, antara akhirat dan dunia. Asy-Syeikh al-Ghazali tidak mau berada di barisan orang-orang yang berupaya membatalkan nash atas nama maslahat, dia tidak ingin berada di barisan orang-orang yang ingin menolak “Al-Manquul” (nash) atas nama “Al-Ma’quul” (akal). Begitu juga, Asy-Syeikh al-Ghazali tidak ingin berada di barisan orang-orang yang berupaya menyulut “Peperangan” antara Islam dan modernisasi, atau antara Islam dan kemajuan. Kepada pihak-pihak yang menuntut agar Islam ikut berkembang dan maju, beliau berkata, “Limaazaa laa tuthaalibuuna at-Tathawwur ayyuslima?!” (Mengapa kalian tidak mencoba sebaliknya, meminta agar apa yang kalian sebut perkembangan dan kemajuan itu mengikuti Islam, kenapa kalian hanya menuntut Islam agar mengikuti perkembangan dan kemajuan?)
Mungkin ada sebagian kalangan yang tidak setuju dan mengkritik beberapa pendapat dan fatwa Asy-Syeikh al-Ghazali, karena memang pendapat dan fatwa-fatwa tersebut tidak sejalan dengan kecenderungan mereka. Akan tetapi, yang saya tahu bahwa Asy-Syeikh al-Ghazali di dalam mengeluarkan fatwa atau pendapat, tidak pernah bertentangan dengan ijma’ atau kesepakatan umat yang diyakini keberadaannya. Hal ini telah saya jelaskan di dalam kitab saya yang membicarakan tentang dirinya.
Dahulu, Asy-Syeikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dituduh telah menerjang ijma’ di dalam masalah seputar talak. Bahkan tentang fatwa ini, salah satu muridnya, al-Hafidz adz-Dzahabi berkata, “Asy-Syeikh Ibnu Taimiyyah memiliki beberapa fatwa, dan karena fatwa-fatwa ini terkubur dan tertutupi luasnya lautan ilmu beliau.”
Jika adz-Dzahabi berpandangan seperti itu, maka saya memiliki pandangan lain, yaitu bahwa fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah ini – karena ini dia disakiti dan dimasukkan penjara dan akhirnya meninggal dunia di dalam penjara – justru dipakai dan diikuti oleh banyak ulama di dalam fatwa-fatwa mereka. Fatwa-fatwa inilah yang akhirnya mampu menyelamatkan keluarga muslim dari jurang kehancuran.
Asy-Syeikh Ghazali dengan terang-terangan menyampaikan apa yang menurutnya hak, dan seorang alim yang takut kepada Allah swt. pasti akan melakukan hal ini, selama dia adalah termasuk,
“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” (al-Ahzaab : 39)
Mungkin, terkadang sekali-kali Asy-Syeikh al-Ghazali mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang agak keras, namun perlu diketahui pula bahwa hal ini tidak lain karena dampak dari rasa panas yang menyala di dada setiap melihat penyelewengan. Karena Asy-Syeikh al-Ghazali memang orang yang paling tidak kuat dan tidak sabar setiap melihat penyelewengan, baik penyelewengan tersebut dilakukan oleh orang Islam sendiri maupun oleh nonmuslim. Setiap Asy-Syeikh al-Ghazali melihat penyelewengan, hatinya merasa panas dan dampaknya bias sampai terbawa di dalam tulisan maupun ungkapan-ungkapan lisannya.
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali menghabiskan seluruh hidupnya untuk memerangi kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam, baik musuh dari dalam maupun dari luar, menentang dan menghadang aliran-alirannya, berusaha menghancurkan pilar-pilarnya, menghancurkan sarang-sarangnya, meruntuhkan tembok-temboknya, menyingkap pihak-pihak yang menjadi agennya. Dalam hal ini, Asy-Syeikh al-Ghazali adalah sosok prajurit perang yang gigih, tidak pernah menyerah, tidak pernah tunduk dan tidak pernah patah semangat.
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali menghabiskan seluruh hidupnya untuk memerangi kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam, baik musuh dari dalam maupun dari luar, menentang dan menghadang aliran-alirannya, berusaha menghancurkan pilar-pilarnya, menghancurkan sarang-sarangnya, meruntuhkan tembok-temboknya, menyingkap pihak-pihak yang menjadi agennya. Dalam hal ini, Asy-Syeikh al-Ghazali adalah sosok prajurit perang yang gigih, tidak pernah menyerah, tidak pernah tunduk dan tidak pernah patah semangat.
Asy-Syeikh al-Ghazali melawan penjajahan, mengungkap hakikatnya dan mengungkap hakikat faktor-faktor yang mendorong mereka melakukan penjajahan yang tidak lain hanyalah faktor “kedengkian” dan “kerakusan”. Dengan gagah berani, Asy-Syeikh al-Ghazali melawan dan menentang gerakan Zionis yang merampas tanah suci Al-Quds, mengusir penduduknya, berencana menghancurkan Masjid Al-Aqsha dan membangun kembali Haikal Sulaiman di atas puing-puingnya.
Asy-Syaikh al-Ghazali melawan dan mengungkap gerakan kristenisasi yang berusaha memalingkan kaum muslimin dari akidah mereka, sehingga mereka menjadi para penyembah salib barat. Asy-Syeikh al-Ghazali melawan gerakan komunis yang dia sebut dengan julukan, “ancaman serbuan merah.”
Sudah sejak lama sebenarnya Asy-Syaikh al-Ghazali selalu memperingatkan akan bahaya komunis dan usaha-usahanya untuk menginvasi negara-negara Islam di kawasan Asia. Beliau melawan peradaban materialisme dengan segala bentuk-bentuk kejelekannya, seperti memperbolehkan perilaku seks bebas, fanatik ras dan usaha-usahanya menyebarkan kekuasaan imperialismenya. Namun Asy-Syeikh al-Ghazali tidak mengingkari bahwa di dalam peradaban materialisme terdapat sisi-sisi positif yang bias diambil manfaatnya.
Asy-Syeikh al-Ghazali melawan dan menentang gerakan sekularisme yang tidak memiliki agama, yang mengimani sebagian isi Al-Qur’an dan mengingkari sebagian yang lain, yang hanya menginginkan Islam secara akidah tanpa syariah, yang menginginkan agama tanpa negara dan mengekor kepada Barat, “Sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali telah memulai “perang” ini sejak lama, yaitu sejak ketika dirinya men-counter pendapat salah satu temannya, Asy-Syeikh Khalid Muhammad Khalid di dalam kitabnya yang berjudul, “Min hunaa na’lam” (dari sini kita mengetahui). Namun ketika men-counter pendapat Asy-Syeikh Kalid, Asy-Syeikh al-Ghazali tidak melakukannya dengan sikap keras, karena ia masih menyimpan prasangka baik terhadapnya. Oleh karena itu, ia menolak ketika sebagian pihak Al Azhar berniat mencabut ijasah ‘aalamiyyah Asy-Syeikh Khalid. Dan husnudzdzan Asy-Syeikh al-Ghazali akhirnya terbukti, Asy-Syeikh Khalid akhirnya “Kembali” lagi ke pangkuan Islam, di mana dia tumbuh dan dididik.
Jika Asy-Syeikh al-Ghazali bersikap lunak terhadap Asy-Syeikh Khalid, namun keadaan bias berubah total, jika sedang berperang melawan kelompok-kelompok pengusung sekulerisme yang secara terang-terangan bersikap memusuhi syariat Islam. Ketika berperang melawan kelompok-kelompok ini, Asy-Syeikh al-Ghazali bias berubah bagaikan kobaran api yang membakar semuanya. Asy-Syeikh al-Ghazali berkata, “Kenapa kita tidak sebut mereka dengan nama mereka yang sesungguhnya? Sesungguhnya mereka adalah kelompok-kelompok murtad!”
Saya mengenal Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali dari dekat, saya mengetahui dan mengenalnya ketika kami sama-sama berada di penjara at-Thuur. Saya juga masih tetap berhubungan dengannya ketika kami sudah keluar dari penjara. Saya sering sekali bertemu dan menemani Asy-Syeikh al-Ghazali baik ketika di rumah maupun ketika sedang melakukan perjalanan.
Ketika sedang berada di kancah pertempuran pemikiran, saya melihat Asy-Syeikh al-Ghazali begitu keras dan tajam. Ia menerjang bagaikan ombak besar, menyambar bagaikan halilintar dan mengaung bagai singa. Sehingga dalam beberapa tulisan Asy-Syeikh al-Ghazali, mungkin Anda menyangkanya seperti seorang prajurit yang sedang bertempur di medan perang, bukan seorang penulis yang sedang membantah pihak lain di dalam suatu masalah. Anda menyangka pena yang berada di genggamannya adalah sebuah pedang atau tombak yang berada di genggaman Ibnul-Walid.
Saya mengenal Asy-Syeikh al-Ghazali dari dekat dan saya tahu dia adalah sosok yang memiliki perasaan yang halus dan lembut, cepat tersentuh dan meneteskan air mata, memiliki hati yang bersih, jiwa yang suci dan murni. Asy-Syeikh al-Ghazali adalah sosok yang memiliki sikap ramah, akhlak mulia, murah senyum, pemurah, ucapannya enak didengar, pandai bercanda, sederhana, tawadhu’, jauh dari sikap yang dibuat-buat, tidak suka sikap pamer dan berlagak.
Jika mendengar atau melihat suatu kejadian yang menyedihkan dan mengharukan, kedua matanya langsung menangis, jika disebut nama Allah swt. dan hari kiamat, dia bergetar dan langsung tertunduk khusyu’. Asy-Syeikh al-Ghazali tidak pernah malu-malu untuk belajar, walaupun dari murid-muridnya sendiri. Asy-Syeikh al-Ghazali selalu mengakui dan menghormati kelebihan-kelebihan orang lain, tidak pernah hasud dan dengki. Dia sangat membenci perilaku zalim dan semena-mena terhadap hamba Allah swt., sehingga beliau pernah berkata, “Saya tidak suka bersikap semena-mena terhadap siapa pun. Dan, sebaliknya saya juga tidak suka jika ada seseorang yang berusaha bersikap semena-mena terhadap saya.”
Asy-Syaikh Muhammad al-Ghazali menjalani hidupnya dengan bebas, baik nurani maupun pemikirannya, baik pena maupun lisannya. Beliau tidak memperbudak diri kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah swt., Zat Yang menciptakannya lalu menyempurnakannya. Asy-Syeikh al-Ghazali tidak pernah menjual hati nurani dan penanya kepada siapa pun. Sudah berapa kali para penguasa mencoba untuk merayu dan membelinya, namun mereka tidak pernah mampu membayar “Harganya”. Bagaimana mungkin mereka membeli seseorang yang dalam hidupnya hanya menginginkan Allah swt. dan pahal surga?
Asy-Syeikh al-Ghazali diiming-imingi dengan berbagai jabatan yang bisa membuat air liur orang-orang yang menjadi budak dunia mengalir, namun sama sekali dirinya tidak pernah tergoyahkan. Beliau tidak pernah tergoda dengan janji-janji manis, dan juga tidak pernah gentar mendengar ancaman-ancaman.
Beliau memang benar-benar ingin meniru sikap Imam Syafi’I r.a. yang pernah berkata,
Aku adalah orang yang jika masih hidup, tetap bisa makan, dan jika mati, memiliki tempat untuk mengubur jasad!
Tekadku adalah tekad para raja, dan jiwaku adalah jiwa orang yang bebas, jiwa yang melihat kehinaan sebagai salah satu bentuk kekufuran.
Ada sesuatu hal yang perlu ditulis di sini, yaitu bahwa Asy-Syeikh al-Ghazali adalah sosok yang menolak untuk tunduk mengikuti kemauan masyarakat awam, seperti halnya beliau juga menolak untuk tunduk kepada kekuasaan para penguasa. Suatu ketika, beliau pernah menulis sebuah makalah, di dalamnya beliau menulis, “Tidak ada genjatan senjata dengan kemauan orang awam.” Asy-Syeikh al-Ghazali tidak ingin menarik dan mendapatkan simpati masyarakat luas dengan cara menggadaikan apa yang menurutnya benar di dalam agama, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai para dai dan masyarakat awam juga mengira bahwa mereka adalah para dai, padahal jauh sekali perbedaan antara dai dan orang yang mengaku dai!
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali telah wafat, namun pemikiran-pemikirannya tidak pernah akan terkubur, karena pemikiran tidak pernah ikut mati karena kematian para pemiliknya. Pemikiran-pemikiran Asy-Syeikh al-Ghazali akan terus hidup dan bersuara lewat karya-karyanya yang sangat berharga, yang tersebar di seluruh kawasan timur dan barat. Kitab-kitab karya Asy-Syeikh al-Ghazali telah dicetak ulang berkali-kali, dan banyak diantaranya yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahsa. Begitu juga, pemikiran-pemikrannya akan tetap hidup di dalam hati para anak didiknya yang tersebar di seluruh penjuru dunia, yang selalu membawa dakwah dan memegang risalahnya.
Saya telah mengarang sebuah buku yang membicarakan tentang Asy-Syeikh al-Ghazali sebagaimana yang saya kenal selama hamper setengah abad. Kitab ini terdiri dari dua ratus delapan puluh enam halaman, dan telah diterbitkan oleh majalah Asy-Syarg Qatar dalam tiga puluh edisi selama bulan Ramadhan tahun 1415 H. Setelah itu, kitab saya ini dicetak dan diterbitkan oleh percetakan Daarul wafaa’ Mesir, dan kitab saya ini beredar ketika diadakan pameran buku internasional di Kairo. Saya tidak tahu, apakah Asy-Syeikh al-Ghazali sempat melihat buku saya ini atau tidak? Kitab tentang dirinya yang saya tulis ini adalah sebagian dari kewajiban saya terhadapnya yang harus ditunaikan dan juga kewajiban orang-orang seperti saya yang pernah menimba ilmu dan mengambil secercah cahaya darinya.
Buku yang saya tulis ini bukanlah sebuah buku sejarah tentang sosok Asy-Syeikh al-Ghazali, karena saya tidak memiiki sarana dan kemampuan seorang ahli sejarah, dan saya juga tidak memiliki maklumat-maklumat yang memadai untuk hal seperti ini. Saya tahu bahwa Asy-Syeikh al-Ghazali – semoga Allah swt. merahmatinya – telah menulis tentang autobiografi dan riwayat kehidupannya sendiri, dan waktu itu saya selalu berdoa kepada Allah swt. agar Asy-Syeikh al-Ghazali dikaruniai umur yang panjang dan berkah, dikaruniai kesehatan dan taufik, agar ia bisa menambahi tulisan-tulisan yang telah ada, sehingga semakin lengkap. Akan tetapi, jika ajal yang telah ditentukan oleh Allah swt. telah datang, maka tidak akan bisa diakhirkan.
Begitu juga, saya mengharap semoga Allah swt. memberikan taufik kepada sebagian putra-putri kami yang sedang belajar di fakultas dakwah dan fakultas-fakultas yang lain, dengan harapan di dalam tulisan-tulisan ilmiah yang mereka kerjakan, mereka mampu memberikan studi-studi tambahan seputar Asy-Syaikh al-Ghazali – semoga Allah swt. merahmatinya – dan seputar karya-karyanya yang bermutu dan beragam, demi menghormati kedudukannya di bidang ilmu pengetahuan, dakwah, dan reformasi.
Di dalam mukadimah buku yang saya tulis tersebut, saya menulis, “Apa yang saya persembahkan hari ini tidak lain sekedar kenangan, isi hati, dan pikiran-pikiran yang berusaha untuk memberikan gambaran tentang sosok Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali. Gambaran itu berdasarkan pengetahuan saya tentang dirinya, berdasarkan apa yang saya ungkap selama saya bersama-sama dengannya, berdasarkan apa yang saya baca dan dengar darinya selama hampir setengah abad.”
Tentu, saya memang tidak sedang menulis biografi atau sejarah tentang Asy-Syaikh al-Ghazali, karena saya memang bukanlah seorang ahli sejarah. Namun saya hanya memberikan isyarat-isyarat tentang ciri atau bentuk kehidupan dan perilaku Asy-Syeikh al-Ghazali yang saya ketahui dan saya lihat secara langsung dari dekat. Dan saya juga tidak yakin bahwa saya telah memberikan sebuah gambaran jelas tentang sosok Asy-Syeikh al-Ghazali, karena memang saya bukanlah orang yang pandai menggambar.
Mungkin ada sebagian kalangan berkata kepada saya, “Anda menulis tentang Asy-Syeikh al-Ghazali dengan menggunakan pena seorang yang mencintainya, tidak dengan pena seorang yang berusaha melakukan kritikan.” Dan saya bersaksi bahwa saya memang mencintai Asy-Syeikh al-Ghazali dan saya ingin menjadikan kecintaan saya kepadanya ini sebagai salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt.. Namun perlu ditegaskan, bahwa saya tidak mengesampingkan kebenaran di dalam tulisan saya ini. Dan tidak layak seseorang merendahkan orang yang dicintainya, hanya ingin menyelamatkan dirinya dari tuduhan bersikap memihak dan tidak adil, karena adil harus diterapkan pada semua orang, baik orang dekat maupun orang jauh, baik kawan maupun lawan,
Allah berfirman,
“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu).” (al-An’aam : 152)
Saya tidak mengingkari bahwa memang kelompok “Islamiyyuun” (Islam kanan) tidak memberikan penghargaan dan penghormatan yang layak terhadap kalangan para pemikir, ulama dan para sastrawan mereka. Padahal kelompok-kelompok liberal dan Marxist (penganut ajaran Karl Marx) membuatkan lingkaran cahaya yang dibesarkan di sekitar tokoh-tokoh mereka, sampai-sampai sesuatu yang kecil bagaikan butiran biji, mereka jadikan sesuatu yang besar sebesar kubah. Bahkan sesuatu seukuran hewan kucing bisa mereka sulap menjadi sebesar hewan unta (maksudnya mereka berlebihan di dalam memberikan penghormatan dan penghargaan kepada tokoh-tokoh mereka). Memang benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair berikut ini,
“Dan kamu tetap memilih di bagian belakang, sebagian mereka (orang-orang yang berkelakuan jelek) menghiasi dan memperindah sebagian yang lain, agar setiap dari mereka membela sebagian yang lain.”
Jika ada pihak yang berkata, “Anda memandang kepada Asy-Syeikh al-Ghazali dengan pandangan kerelaan. Padahal memandang sesuatu dengan pandangan seperti ini tidak bisa objektif, karena tidak mapu melihat kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam sesuatu tersebut.” Menjawab lontaran seperti ini, saya hanya cukup berkata, “Saya sama sekali tidak memiliki persepsi bahwa Asy-Syeikh al-Ghazali adalah sosok yang terlepas dari kekurangan-kekurangan, karena beliau memang bukanlah seorang malaikat yang tersucikan dan juga bukan seorang nabi yang ma’shum dari salah dan dosa. Namun Asy-Syeikh al-Ghazali hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar, seperti manusia biasa lainnya. Akan tetapi, kesalahan dan kekeliruan-kekeliruannya terkubur di dasar samudra kebaikan dan kelebihan-kelebihan yang terdapat pada dirinya.
Jika air yang telah mencapai ukuran dua qullah saja bisa dihukumi tidak membawa najis dan kotoran, apalagi jika air tersebut berupa lautan luas yang tidak akan bisa dikotori dengan air kotor yang hanya satu timba saja?!”
Sungguh, kitab atau kajian yang saya tulis seputar Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali ini menegaskan bahwa kita sebenarnya sedang berada di hadapan salah seorang tokoh besar di ranah pemikiran dan dakwah, di hadapan salah seorang imam besar di dunia dakwah dan gerakan pembaruan. Bahkan, sebenarnya kita sedang berada di hadapan salah satu madrasah dakwah, pemikiran dan reformasi yang sempurna dan istimewa. Sebuah madrasah yang memiliki karakteristik, gaya dan “rasa” tersendiri. Dibutuhkan banyak kajian untuk mengetahui dan menjelskan karakteristik, sikap dan hasil-hasil madrasah ini. Karena al-Ghazali bukan hanya milik dirinya sendiri, bukan hanya milik sekelompok jamaah atau gerakan tertentu dan juga bukan milik kawasan atau bangsa tertentu, akan tetapi Asy-Syeikh al-Ghazali adalah milik seluruh umat Islam.
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali rahimahullah semasa hidup ada sebuah kesadaran yang selamanya menyelimuti hati dan pikirannya. Sebuah kesadaran bahwa beliau adalah salah satu prajurit penjaga agama Islam yang selalu terjaga. Tidak boleh ada musuh yang mencoba mendekati Islam dari arahnya atau tidak boleh ada musuh yang berhasil mendekati Islam gara-gara kelalaiannya. Beliau harus selalu mengawasi dan selalu siap siaga terhadap segala kemungkinan serangan-serangan dari pihak musuh, baik musuh dari dalam maupun dari luar. Bukan hanya bersikap mempertahankan dan menjaga saja, akan tetapi sekaligus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap para musuh. Karena sebaik-baik cara menjaga diri adalah dengan mendahului melakukan penyerangan.
Beliau tidak pernah meletakkan senjatanya dan tidak pernah menikmati enaknya istirahat. Bagaimana beliau mau meletakkan senjata dan beristirahat padahal “Pertempuran” di atas kertas di dunia Islam masih berlangsung, api perang terhadap Islam dan umatnya yang dilancarkan oleh para musuh masih terus berlanjut tidak pernah padam. Darah Islam dihalalkan oleh mereka dan sebagian besar para prajurit lain yang ditugaskan menjaga Islam “tertidur pulas” atau disibukkan dengan perdebatan seputar masalah-masalah yang remeh dan tidak inti!
Takdir telah menuliskan bahwa Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali harus berperang di dua front atau arah yang sama-sama luas.
Pertama, berperang di arah datangnya musuh-musuh Islam yang selalu melakukan segala macam tipu muslihat untuk menghancurkannya, selalu menghendaki kejelekan terhadap Islam dan sangat benci cahaya Islam tersebar dan kembali hidup lagi.
Sebagian dari mereka ini berasal dari luar Islam dan dari luar kawasan Islam, mereka terwujud di dalam kekuatan-kekuatan dunia yang takut terhadap Islam atau membenci Islam, mereka terdiri dari kelompok Yahudi, Kristen, Komunis, dan kelompok paganisme. Memang, agama dan metode yang mereka gunakan berbeda-beda, namun tujuannya sama, yaitu menyerang Islam, menghentikan laju jalannya dan memasang batu serta duri rintangan di jalannya. Mereka adalah orang-orang seperti yang telah Allah swt. firmankan dalam Al-Qur’an,
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.” (Q.S. al-Anfaal : 73)
“Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (Q.S. al-Jaatsiyah : 19)
Yang sangat menyedihkan adalah sebagian yang lainnya lagi dari kelompok ini justru berasal dari dalam Islam sendiri, bahkan dari sebagian putra-putra Islam sendiri dan menyandang nama-nama orang Islam, seperti nama Muhammad, Ahmad, Hasan, Hussein, Umar, Ali dan yang lainnya, namun mereka menginginkan kejelekan bagi Islam, memusuhi para dai Islam dan mengingkari syariat Islam.
Terkadang mungkin mereka memusuhi Islam karena Islam tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka yang terlarang, tidak sejalan dengan sikap-sikap zalim mereka yang selalu siap memangsa, atau karena Islam bertentangan dengan kemaslahatan-kemaslahatan mereka yang terlarang dan tidak sejalan dengan kerakusan-kerakusan mereka.
Kedua, berperang melawan teman-teman sendiri yang bodoh dan tidak memahami Islam dengan baik. Mereka memang memiliki niat baik ingin mendatangkan manfaat bagi Islam, namun yang terjadi adalah sebaliknya, mereka hanya mendatangkan bahaya besar yang sangat merugikan Islam. Mereka mengira bahwa mereka berusaha mengusir sebuah lalat dari wajah Islam, namun yang terjadi adalah mereka malah mencabik-cabik dan melukai wajah Islam itu sendiri!
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali menyebut mereka ini dengan sebutan Ad-du’aatul fattaaniin (para dai yang memalingkan orang dari masalah inti). Mereka menyibukkan orang-orang dengan masalah-masalah yang bersifat cabang dan memalingkan mereka dari masalah-masalah inti dan krusial. Mereka menyibukkan orang-orang dengan masalah-masalah yang masih menjadi perdebatan para ulama dan memalingkan mereka dari masalah-masalah yang telah disepakati, serta menyibukkan orang-orang dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan tubuh luar dan melupakan masalah-masalah yang berkaitan dengan hati.
Dahulu Asy-Syeikh al-Ghazali selalu mengeluhkan tentang para dai yang kebanyakan dari mereka malahan menjadi bencana bagi Islam sendiri dan menjadi debu atau kerikil kecil di dalam “mata” Islam yang menyakitkannya! Mereka tidak mau “membaca” dan tidak mau bersusah payah, dan ada beberapa hakikat kebenaran tidak mereka letakkan pada tempatnya yang semestinya. Tidak ada di antara mereka yang menjadi penyembuh atau paling tidak yang merasa sedih dan menangisi penyakit-penyakit yang ada pada tubuh umat. Karena mereka hanya sibuk dengan perdebatan tentang masa lalu yang jauh, mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan berlaku di sekitar kita dan mereka tidak mengerti bahwa telah terjadi lompatan-lompatan yang begitu hebat yang sedang melanda kehidupan di dunia kita ini.
Jika tubuh yang mengalami kekurangan darah saja akan terjatuh pada awal perjalanan, maka akal yang mengalami kemiskinan ilmu pengetahuan lebih tidak mampu lagi untuk mengejar tuntutan-tuntutan jihad atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh al-Haq (kebenaran).
Sesungguhnya, bahaya yang mengancam masa depan Islam, masa depan umat Islam dan masa depan gerakan pencerahan Islam terdapat pada mereka ini. Oleh karena itu, buku-buku yang ditulis Asy-Syeikh al-Ghazali pada masa-masa akhir kehidupannya hampir semuanya ditujukan untuk mereka ini. Dengan harapan mereka mau belajar. Tersadar dari kelalaian, mengakhiri sikap mengagumi pendapat sendiri dan meremehkan orang lain, mau mencoba belajar bersikap lemah lembut terhadap saudara mukmin yang lain, mau belajar menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
Asy-Syaikh Muhammad al-Ghazali berkata, “Bahaya sebenarnya datang dari kelompok-kelompok terpelajar dan agamis yang sekarang suara kuaknya nyaring pada gelap malam yang sedang menyelimuti dunia Islam. Para musuh Islam – di Eropa dan Amerika – memanfaatkan kedangkalan pemikiran kelompok ini untuk memadamkan gerakan pencerahan baru terhadap agama kita, Islam yang sedang berjuang dengan tubuh penuh luka.”
Peradaban yang sedang menguasai dunia sekarang dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan. Namun, peradaban yang sedang menguasai dunia ini akan tetap berlangsung selama belum ditemukan sebuah peradaban baru yang lebih baik sebagai gantinya!
Namun, apakah peradaban baru yang lebih baik adalah gamis dengan ukuran pendek di atas tumit dan jenggot yang lebat? Ataukah akal yang lebih cerdas, hati yang lebih bersih, akhlak yang lebih mulia, fitrah yang lebih suci dan perilaku yang lebih bijaksana?
Sebagian para pemuda telah berhasil membalik posisi pohon ajaran Islam, bagian-bagian cabang yang ringan mereka balik menjadi batang atau bahkan mereka balik menjadi akar pohon, sedangkan bagian-bagian akar yang urgen mereka balik menjadi daun-daun yang berjatuhan bersamaan dengan hembusan angin.
Kemuliaan Islam adalah jika jiwa dibangun di atas kaidah,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy-Syams : 9-10)
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.” (Q.S. al-Hajj : 41)
Dan realitas ini membuat Asy-Syeikh al-Ghazali sangat takut dan sangat mengkhawatirkan atas nasib masa depan umat, beliau berkata, “Sungguh perasaan takut dan khawatir atas nasib masa depan umat kita menyelimuti hatiku, tatkala aku melihat orang-orang yang menyibukkan diri di dalam bidang hadits – dan mereka tidak memiliki kemampuan fiqih – beralih profesi lagi menjadi ahli politik yang ingin mengubah tatanan masyarakat dan negara sesuai dengan apa yang mereka riwayatkan dan mereka lihat!”
Hal paling aneh yang semakin menghinakan pola pikir keagamaan yang rendah seperti ini adalah kenyataan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti tentang undang-undang pemerintahan, bentuk-bentuk syura (permusyawaratan), system pengelolaan keuangan, tidak mengerti tentang adanya bentuk kezaliman antarkelas masyarakat, tentang problematika pemuda, problematika keluarga, pendidikan akhlak dan yang lain. Kemudian mereka juga sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang pendataan kehidupan sipil, perkembangan pembangunan demi merealisasikan nilai-nilai luhur dan tujuan-tujuan besar yang dibawa oleh Islam.
Akal yang lemah dan tumpul tidak bisa memahami kecuali hal-hal yang remeh saja, jika ada masalah yang remeh, akal seperti ini langsung bangkit dan emosinya muncul. Sikap pro dan kontra akal seperti ini hanya didasarkan atas hal-hal yang remeh saja! Saya menggeleng-gelengkan kepala karena sedih ketika saya melihat dan mengikuti perjalanan dakwah Islam!
Sesungguhnya risalah yang dahulu diterima dan disambut kehadirannya oleh dunia, disambut oleh orang yang kedinginan agar dia bisa mendapatkan kehangatan, disambut oleh orang yang sakit agar dia mendapatkan kesembuhan. Sekarang risalah itu terlihat rendah tidak ada nilainya di hadapan orang lain, sehingga mereka tidak melihat sesuatu yang layak untuk diambil darinya, dan juga risalah itu sekarang terlihat rendah tidak berharga di hadapan para pemiliknya sendiri, sehingga mereka tidak melihat di dalamnya sesuatu yang mampu mengangkat derajat dan menjaga kehormatan mereka.
Pada mukadimah kitab Asy-Syeikh al-Ghazali yang berjudul, Al-Islaam fii wajhiz zahfil ahmar (Islam di Hadapan Ancaman Serdadu Merah), beliau menulis, “Aku tulis lembaran-lembaran kitab ini yang penuh dengan kebenaran-kebenaran ilmiah dan sejarah, di dalamnya aku lukiskan jeritan-jeritan hati yang sangat mengkhawatirkan nasib masa depan agamanya, hati yang sangat menyayangi dan mencemaskan keadaan umatnya. Aku paham, bahwa dengan menulis kitab ini, berarti saya akan menghadapi bentuk-bentuk reaksi permusuhan yang mengerikan dan mematikan! Akan tetapi apalah arti hidup ini, jika kita masih bisa hidup, namun Islam binasa!”
Pada mukadimah kitab yang berjudul Qazaaiful Haq (granat-granat kebenaran), Asy-Syeikh al-Ghazali menulis, “Para musuh Islam menghendaki Islam binasa, mereka ingin memanfaatkan berbagai musibah yang melanda umat Islam agar mereka bisa membangun jiwa-jiwa mereka di atas puing-puing penderitaannya. Intinya, mereka ingin membinasakan sebuah umat dan agamanya. Kami telah bertekad untuk terus bertahan hidup bersama dengan risalah kami yang abadi, atau jika tidak, maka kami telah bertekad untuk mempertahankan risalah kami agar tetap hidup, walaupun hal itu menuntut kami untuk mengorbankan jiwa-jiwa kami, sehingga risalah ini nantinya bisa diwarisi oleh generasi-generasi kami yang akan datang!”
Pada bagian akhir dari mukadimah ini, Asy-Syeikh al-Ghazali menulis, “Sesungguhnya Allah swt. telah menetapkan kepada para pembawa wahyu agar mereka menyampaikannya secara terang-terangan dan menjelaskan hakikat-hakikatnya kepada seluruh manusia.” Hal ini Allah swt. tegaskan dalam firman-Nya,
“Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (Q.S. Ali Imran : 187)
Oleh karena itu, tidak ada pilihan kecuali harus diberitakan, tidak boleh disembunyikan. Aku tahu, bahwa hal ini bisa menimbulkan tantangan-tantangan luar biasa, namun aku berkata seperti apa yang dikatakan oleh teman saya, Umar Baha’uddin al-Amiri,
Keadaan menakutkan tampak di jalan dan tujuanku, namun aku tetap terus berjalan tanpa rasa takut dan gentar. Aku bukanlah orang yang berjiwa lemah, dan aku bukanlah orang yang ragu terhadap Tuhanku. Tidak ada sesuatu yang aku takutkan di dalam kematian, karena Allah adalah segala tujuan dan keinginanku
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Q.S. Ali Imran : 147)
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali tercinta,
Umat Islam kehilangan kamu pada saat dia sedang sangat membutuhkanmu, umat Islam kehilanganmu pada saat peperangan antara Islam dan para musuhnya sedang sengit-sengitnya. Musuh-musuh umat Islam mendatanginya dari segala arah, mereka datang dari atas dan dari bawah, ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati naik menyesak sampai ke tenggorokan dan manusia menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka (menggambarkan bagaimana hebatnya perasaan takut dan perasaan gentar pada waktu itu).
“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat…” (Q.S. al-Ahzaab : 11)
Sungguh kami sangat membutuhkan penamu yang bagaikan pedang, atau pedangmu yang berwujud pena, yang berkelibatan ke sana ke mari membela dan melindungi kebenaran ketika menghadapi kebatilan, membela dan melindungi keimanan ketika menghadapi kekufuran, membela dan melindungi Islam yang sedang dikepung oleh gerakan Yahudi internasional, salibis barat dan paganisme timur, serta membela dan melindungi Islam dari para agen-agen mereka di dalam wilayah Islam sendiri. Yaitu, orang-orang yang mengaku bagian dari Islam, padahal Islam bebas dari mereka.
Asy-Syeikh al-Ghazali, kami kehilanganmu pada saat konspirasi masih mengancam, symposium-simposium terus diadakan untuk menyerang gerakan pencerahan Islam – dengan menggunakan tangan-tangan sebagian putra Islam sendiri – dengan menggunakan slogan-slogan dan tema-tema yang menipu dan bohong belaka. Mereka menggunakan sebutan teroris terbesar, mereka menggunakan tema memberantas kekerasan, padahal mereka adalah pihak yang pertama kali melakukannya dan dengan menggunakan slogan memberantas gerakan ekstrem, padahal sebenarnya merekalah pihak-pihak yang menciptakannya.
Mereka menginginkan agar api jihad padam tidak menyala lagi, mereka menginginkan agar lilin dakwah Islam tidak lagi hidup menerangi dan mereka menginginkan agar suara gerakan pencerahan Islam tidak lagi nyaring. Namun, kami belajar darimu bahwa rencana Allah swt. lebih kuat dari pada rencana mereka, dan tipu daya Allah swt. lebih cepat dari pada tipu daya mereka.
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Q.S. al-Anfaal : 30)
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (Q.S. at-Taubah : 32)
Asy-Syeikh Muhammad al-Ghazali tercinta,
Kami tidak menemukan kata-kata yang pantas untuk kami ucapkan kepadamu sebagai kata perpisahan, kami hanya bisa berkata, “Sungguh, mata kami menangis, hati kami sedih, dan kami tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah swt., “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”
🤲Ya Allah...
ampunilah Asy-Syeikh al-Ghazali, kasihilah dia, tempatkan dia di surga firdaus yang paling tinggi, terimalah dia sebagai bagian dari golongan hamba-hamba-Mu yang ikhlas. Berilah dia balasan pahala yang paling baik seperti yang Engkau berikan kepada para Imam yang benar dan jujur, bangkitkan dan giringlah dia bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau beri karunia, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang amat teguh kepercayaannya), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Berilah kami pahala di dalam musibah kami ini, berilah kami ganti yang baik, ya Allah. Janganlah Engkau halangi kami dari mendapatkan pahalanya. Janganlah Engkau menurunkan fitnah kepada kami setelah kepergiannya, dan ampunilah kami dan dia. Aamiin.
✍️( Ditulis oleh Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam kitab Fi Wadaa’ il A’laam )
Komentar
Posting Komentar