AQIDAH SALAF YANG SHAHIH

AQIDAH SALAF YANG SHAHIH (bukan salaf palsu)

Seperti telah diketahui bahwasanya mazhab salaf didalam sifat Allah adalah mentafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah), sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Baihaqi yang dinukil oleh Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani :

عن السلف في التفويض والأءمة بعدهم في التأويل

Dari ulama salaf di dalam tafwidh dan para imam sesudah mereka didalam takwil.

Kitab Fathul Baari.

Cara mentafwidh para ulama salaf adalah tidak mentakwil dengan makna majaz dan menetapkan sifat sesuai lafadz yang warid disertai meniadakan makna hakikatnya yang diketahui di dalam bahasa, sehingga tidak diketahui makna hakikatnya dan tidak diketahui apa yang dimaksud dengan nya.

Sebagaimana dikatakan oleh imam nawawi :

ولا نعلم حقيقة معنى ذلك والمراد به
Kami tidak tau makna hakikat yang demikian dan kami tidak tau apa yang dimaksud dengannya.

Kitab Al Majmu' Syarah Al Muhadzab.

Contoh nya dikatakan :

"Allah di atas arsy Nya", disertai keyakinan didalam hati meniadakan batasan dari nya, Sehingga maknanya bukan "berada menetap di atas arsy ", karena makna demikian mewajibkan adanya batasan, yaitu batas bawah, perbatasan antara yang di atas dengan yang di bawah.

Sebagaimana yang dikatakan oleh imam ahmad bin hanbal :

ربنا على عرشه بلا حد

rabb kami di atas arsy Nya dengan tidak ada batasan.

Kitab Al uluw Lil Aliyyil Goffar. Al Imam Al Hafidz Adz Dzahabi.

Maka dari itu Imam Ahmad bin Hanbal berkata :

ولا كيف ولا معنى
tidak ada gambaran dan tidak ada makna.

Kitab As Sunnah riwayat Al Khollal

Contoh yang lain, dikatakan :

"Al yad adalah sifat bagi allah ta'ala", kemudian dikatakan : "maknanya bukan jarihah (anggota badan )."
Sebagaimana perkataan abu hanifah :
اليد صفة لله تعالى.....
al yad adalah sifat bagi Allah ta'ala
...وليست جارحة
dan maknanya bukan jarihah
kitab al fiqhul akbar.

Sedangkan makna hakikat al yad yang diketahui didalam bahasa adalah jarihah.

Makna tersebut ditiadakan sehingga tidak diketahui lagi makn,a hakikat nya dan maksudnya apa. Maka dari itu imam abu hanifah melarang mengatakan sifat al yad dengan bahasa selain arab, maksudnya dilarang menterjemahkan lafadz al yad kedalam bahasa selain arab tatkala disandarkan kepada sifat Allah ta'ala :

ﻭﻛﻞ ﺷﻲء ﺫﻛﺮﻩ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﺑﺎﻟﻔﺎﺭﺳﻴﺔ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ اﺳﻤﻪ ﻓﺠﺎﺋﺰ اﻟﻘﻮﻝ ﺑﻪ ﺳﻮﻯ اﻟﻴﺪ ﺑﺎﻟﻔﺎﺭﺳﻴﺔ

Semua yang telah ulama tuturkan dengan bahasa persia dari sifat sifat allah azza wa jalla adalah boleh berkata dengan nya, kecuali mengatakan sifat al yad dengan bahasa persia.

Kitab Al Fiqhul Akbar.

Contoh yang lain, dikatakan : "nuzul (turun) adalah sifat bagi allah ta'ala". Kemudian dikatakan : maknanya bukan berpindah, bergerak atau menghilang dari satu tempat ke tempat lain.

Sehingga tidak diketahui makna hakikat dari sifat nuzul. Dan tidak ada gambaran nya. Karena makna nuzul (turun) yang diketahui di dalam bahasa adalah berpindah, bergerak atau menghilang dari atas ke bawah.

Imam Baihaqi berkata :

ﻗﻠﺖ: ﻓﻘﺪ ﺑﻴﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺤﻨﻈﻠﻲ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﺤﻜﺎﻳﺔ
aku berkata : Al Imam Ishaq bin ibrahim al handzoliy telah menjelaskan didalam hikayat ini :

 ﺃﻥ اﻟﻨﺰﻭﻝ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻟﻔﻌﻞ، ﺛﻢ ﺇﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﻧﺰﻭﻻ ﺑﻼ ﻛﻴﻒ، ﻭﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺩﻻﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻴﻪ الانتقال ﻭاﻟﺰﻭاﻝ

sesungguhnya nuzul menurutnya adalah sebagian dari sifat sifat perbuatan, kemudian ia menjadikan nya sifat nuzul dengan tidak ada gambaran, dan didalam yg demikian itu adalah pentunjuk atas sesungguhnya ia tidak meyakini didalamnya makna berpindah dan menghilang.

Kitab Al A! sma wa sifat. Imam Baihaqiy.

Sama hal nya dengan sifat yang semakna dengan lafadz nuzul, yaitu al majiy' (datang) didalam firman Allah ta'ala :

وجاء ربك والملك صفا صفا
telah datang rabb mu dan malaikat berbaris baris.

Imam Ibnu Abdil Barr berkata :

ﻭﻟﻴﺲ ﻣﺠﻴﺌﻪ ﺣﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﺯﻭاﻻ ﻭﻻ انتقالا

sifat datang Allah bukan bermakna bergerak dan bukan menghilang dan bukan berpindah

ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﺠﺎﺋﻲ ﺟﺴﻤﺎ ﺃﻭ ﺟﻮﻫﺮا
karena yg demikian itu pastinya hanya ada jika yang datang adalah jisim atau jauhar.

ﻓﻠﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺠﺴﻢ ﻭﻻ ﺟﻮﻫﺮ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺠﻴﺌﻪ ﺣﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﻧﻘﻠﺔ
tatkala telah ditetapkan sesungguhnya Allah bukan jisim dan jauhar, maka sifat datang Allah tidak mewajibkan makna bergerak dan bukan berpindah.

Kitab At Tamhid li maa fil muwatho' Al Imam Ibnu Abdil Barr.

Sedangkan Salafi, mereka tidak mentakwil, tidak pula mentafwidh, lantas mereka ikut pemahaman siapa ?

Jelas jawaban nya adalah mengikuti pemahaman ulama yg mewajibkan jisim bagi sesembahan mereka, sehingga mereka mewajibkan adanya batasan, batas akhir, dan mewajibkan ada jarak antara dirinya yang dibumi dengan zat yang disembah oleh nya, dan sudah pasti yang disembah oleh mereka bukan lah Allah. Karena allah suci dari batasan dan batas akhir.

Al Imam Abu ja'far Ath Thahawiy berkata :

وتعالى عن الحدود والغاية
maha suci Allah dari batasan batasan dan batas akhir.

Kitab matan akidah Thahawiyyah.

Al Hafidz Adz Dzahabi Rahimahullah murid Ibnu Taimiyyah yang berpaling dari akidah gurunya yang menolak tafwidh makna menjelaskan akidah Imam Malik di dalam biografi Imam Malik yang beliau tulis di dalam kitab Siyar A'lam An Nubala :

ﻓﻘﻮﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﺑﺎﺑﻪ اﻹﻗﺮاﺭ ﻭاﻹﻣﺮاﺭ ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺋﻠﻪ اﻟﺼﺎﺩﻕ اﻟﻤﻌﺼﻮﻡ
Penjelasan kami di dalam sifat Allah yang demikian itu dan di dalam bab nya : berikrar dan membiarkan dan mentafwidh maknanya kepada yang mengatakannya yang shodiq (tidak diragukan kebenaran ucapannya) lagi ma'shum (terjaga dari dosa).

Imam Adz Dzahabi berdalil dengan perkataan Imam Malik :

ﻭاﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺭﻭاﻳﺔ اﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﺼﻔﺎﺕ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﻛﻤﺎ ﺟﺎءﺕ ﺑﻼ ﺗﻔﺴﻴﺮ
Dan yang dihafal riwayat sohih dari Imam Malik Rahimahullah adalah riwayat Al Walid bin Muslim, bahwa sesungguhnya ia bertanya pada Imam Malik tentang hadits-hadits sifat, lalu Imam Malik berkata : Aku membiarkannya (tanpa takwil) sebagaimana ia telah datang dengan tidak menjelaskan maknanya.

Kitab Siyar A'lam An Nubala. Al Imam Al Hafidz Adz Dzahabi.

Imam Baihaqi berdalil dengan perkataan para ulama salaf seperti Al Imam Sufyan Bin Uyainah dengan sanadnya di dalam kitab Al Asma Wa sifat :

ﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﺴﺮﻩ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻔﺎﺭﺳﻴﺔ
Tidak bisa bagi seseorang menjelaskan maknanya dengan bahasa arab dan tidak bisa juga dengan bahasa persia.
Di dalam riwayat yang lain :

ﻓﺘﻔﺴﻴﺮﻩ ﻗﺮاءﺗﻪ، ﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﺴﺮﻩ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺃﻭ ﺭﺳﻠﻪ ﺻﻠﻮاﺕ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ
Penjelasan maknanya adalah membacanya, tidak bisa bagi seseorang menjelaskan maknanya kecuali Allah tabaarak wa ta'ala atau rasul-rasul Nya sholawatullaahi 'alaihim.
Di dalam riwayat yang lain dari ulama salaf Al Imam Abu Ubaid :

ﻭﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻲ اﻟﺮﻭاﻳﺔ ﻫﻲ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺣﻖ، ﺣﻤﻠﻬﺎ اﻟﺜﻘﺎﺕ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ، ﻏﻴﺮ ﺃﻧﺎ ﺇﺫا ﺳﺌﻠﻨﺎ ﻋﻦ ﺗﻔﺴﻴﺮﻫﺎ ﻻ ﻧﻔﺴﺮﻫﺎ ﻭﻣﺎ ﺃﺩﺭﻛﻨﺎ ﺃﺣﺪا ﻳﻔﺴﺮها
Dan hadits-hadits ini di dalam riwayat yang demikian disisi kami adalah haq. Orang-orang tsiqoh (terpercaya) telah meriwayatkannya, sebagian dari mereka dari sebagian yang lain. Pengecualian. Apabila seseorang bertanya kepada kami tentang penjelasan maknanya, maka kami tidak menjelaskan maknanya dan kami tidak mengetahui jika ada seseorang yang menjelaskan maknanya.
Kemudian dari ulama salaf yang lain. Riwayat Imam Syaiban An Nahwiy dari Imam Qatadah ketika ditanya tentang surat Az Zumar ayat 67, Imam Syaiban An Nahwiy berkata :

ﻟﻢ ﻳﻔﺴﺮها ﻗﺘﺎﺩﺓ
Imam Qatadah tidak menjelaskan maknanya.

Semua perkataan salaf tersebut sesuai firman Allah :

وما يعلم تأويله إلا الله
dan tidak ada yang tahu penjelasan maknanya kecuali Allah. Surat Ali Imron ayat 7.

Adapun para ulama salaf yang menetapkan sifat Al Uluw (tinggi di atas), maksudnya bukan meyakini Allah berada di atas atau menetap di atas. Karena menetap atau bertempat adalah sebagian dari sifat jisim. Sifat Al Uluw ditetapkan karena lafadznya ada di dalam Al Qur'an dan Sunnah. Selain itu, ketinggian di atas adalah isyarat kepada kemuliaan Allah Ta'ala, karena arah atas adalah yang paling mulia daripada arah-arah selainnya.

Wahabi berkata bahwa Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari meyakini Allah berada/menetap di atas Arsy. Mereka berhujjah dengan kitab Al Ibanah.
Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari berkata :

ورأينا اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻳﺮﻓﻌﻮﻥ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﺇﺫا ﺩﻋﻮا ﻧﺤﻮ اﻟﺴﻤﺎء؛
Dan kami melihat kaum muslimin seluruhnya mengangkat tangan mereka apabila mereka berdoa ke arah langit
ﻷﻥ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺴﺘﻮ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺮﺵ اﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻓﻮﻕ اﻟﺴﻤﺎﻭاﺕ، 
Karena Allah Ta'ala adalah yang tinggi di atas Arsy, yang mana arsy adalah di atas langit-langit
ﻓﻠﻮﻻ ﺃﻥ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺮﺵ ﻟﻢ ﻳﺮﻓﻌﻮا ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻧﺤﻮ اﻟﻌﺮﺵ
Apabila Allah Azza wa jalla bukan di atas Arsy, niscaya mereka tidak akan mengangkat tangan tangan mereka ke arah Arsy.

Kitab Al Ibanah.

Jawabannya :

Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari berkata :
وأنه مستو ﻋﻠﻰ ﻋﺮﺷﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﺑﻼ ﻛﻴﻒ ﻭﻻ اﺳﺘﻘﺮاﺭ،
Dan sesungguhnya Allah adalah yang tinggi di atas Arsy Nya maha suci Allah, dengan tidak ada kaif dan bukan menetap (di atas Arsy).

Kitab Al Ibanah.

Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari berkata :
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺤﺪﻳﺚ: ﻟﻴﺲ ﺑﺠﺴﻢ
Ahlussunnah dan Ashabul haidts berkata : Allah bukan jisim.

Kitab Maqalat Al Islamiyyin.

Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari berkata :

ﻭﻫﺬا ﻳﺴﺘﺤﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ (ﻛﻤﺎ ﻻ ﻳﺠﺐ) ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻧﻔﺲ اﻟﺒﺎﺭﻱ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺟﺴﻤﺎ ﺃﻭ ﺟﻮﻫﺮا، ﺃﻭ ﻣﺤﺪﻭﺩا، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺩﻭﻥ ﻣﻜﺎﻥ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ
Dan hal ini adalah yang mustahil bagi Allah, sebagaimana tidak wajib bahwasanya zat Allah adalah jisim atau jauhar atau yang dibatasi , atau di dalam tempat bukan tempat mahluk, atau di dalam selain yang demikian itu

Kitab Risalatun ila ahli tsagr.

Imam Baihaqiy berkata :

ﻓﻌﻠﻰ ﻗﻮﻝ ﺃﺑﻲ اﻟﺤﺴﻦ اﻷﺷﻌﺮﻱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﺈﻥ اﻟﺤﺮﻛﺔ ﻭاﻟﺴﻜﻮﻥ ﻭاﻻﺳﺘﻘﺮاﺭ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻷﺟﺴﺎﻡ
Berdasarkan perkataan Abu Al Hasan Al Asy'ariy Radhiallaahu 'anhu, sesungguhnya bergerak, diam dan menetap adalah sebagian dari sifat-sifat jisim.

Kitab Al Asma Wa Sifat. Imam Baihaqiy.

Jadi jelas sekarang. Imam Abu Al Hasan Al Asy'ariy menetapkan sifat tinggi di atas arsy tapi tidak meyakini makna menetap di atas arsy/berada di atas arsy. Karena menetap adalah sebagian dari sifat jisim. Dan ahlussunnah meyakini Allah bukan jisim.
Doa mengangkat tangan ke atas adalah isyarat ketinggian Allah di atas Arsy, karena tinggi di atas itu menampakkan sifat keagungan rububiyyah dan uluhiyyah.

Sebagaimana perkataan Abu Hanifah :

ﻭاﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﺪﻋﻰ ﻣﻦ اﻋﻠﻰ ﻻ ﻣﻦ ﺃﺳﻔﻞ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﻭﺻﻒ اﻟﺮﺑﻮﺑﻴﺔ ﻭاﻷﻟﻮﻫﻴﺔ
Dan Allah ta'ala diseru dari atas (diseru dengan arah atas) bukan dari bawah, karena arah bawah bukan sebagian dari sifat keagungan rububiyyah dan uluhiyyah.

Kitab Al Fiqhul Akbar.

Juga bukan berarti Allah berposisi di arah atas sebagaimana keyakinan Salafi

قال الإمام أبو جعفر الطحاوي  المولود سنة 227 والمتوفى سنة 321 هـ : "تعالى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات"

Al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi semoga Allah meridlainya (227-321 H) berkata: "Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut". 

Matan Aqidah Tahawiyyah.

Imam Ibnu Bathal berkata :
ﻭﺃﻣﺎ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﺳﺘﻮﻯ ﻋﻼ ﻓﻬﻮ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻫﻮ اﻟﻤﺬﻫﺐ اﻟﺤﻖ ﻭﻗﻮﻝ ﺃﻫﻞ اﻟﺴﻨﺔ ﻷﻥ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺻﻒ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﺎﻟﻌﻠﻰ
Dan adapun tafsir istawa dengan makna tinggi, maka yang demikian adalah yang sohih, dan yang demikian adalah madzhab yang haq dan perkataan ahlussunnah. Karena Allah subhanahu telah mensifati zatnya dengan ketinggian.
ﻭﻗﺎﻟﺖ اﻟﺠﺴﻤﻴﺔ ﻣﻌﻨﺎﻩ اﻻﺳﺘﻘﺮاﺭ
Sedangkan golongan mujassimah berkata makna istawa adalah menetap/berada (di atas Arsy).
ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻝ اﻟﻤﺠﺴﻤﺔ ﻓﻔﺎﺳﺪ ﺃﻳﻀﺎ ﻷﻥ اﻻﺳﺘﻘﺮاﺭ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻷﺟﺴﺎﻡ ﻭﻳﻠﺰﻡ ﻣﻨﻪ اﻟﺤﻠﻮﻝ ﻭاﻟﺘﻨﺎﻫﻲ ﻭﻫﻮ ﻣﺤﺎﻝ ﻓﻲ ﺣﻖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻﺋﻖ ﺑﺎﻟﻤﺨﻠﻮﻗﺎﺕ
Dan adapun perkataan mujassimah adalah perkataan yang rusak (menyimpang) juga. Karena menetap (di atas Arsy) adalah sebagian dari sifat-sifat jisim, dan mewajibkan darinya hulul dan memiliki batas akhir. Yang demikian mustahil di dalam haq Allah dan yang layak bagi mahluk-mahluk.

Dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari.

Imam Baihaqiy berkata :
ﻭﺣﻜﻰ اﻷﺳﺘﺎﺫ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﻓﻮﺭﻙ ﻫﺬﻩ اﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: اﺳﺘﻮﻯ ﺑﻤﻌﻨﻰ: ﻋﻼ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﻭﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﻋﻠﻮا ﺑﺎﻟﻤﺴﺎﻓﺔ ﻭاﻟﺘﺤﻴﺰ ﻭاﻟﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﻣﺘﻤﻜﻨﺎ ﻓﻴﻪ
Al Ustadz Abu Bakar bin Furok telah menghikayatkan thariqoh ini dari sebagian para ulama sahabat kami (termasuk Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari), beliau berkata :
Istawa dengan makna tinggi, kemudian beliau berkata : dan tidak menghendaki dengan yang demikian itu tinggi dengan jarak (dari bumi) dan menetap (di atas Arsy) dan keberadaan di dalam tempat yang menetap di dalamnya.

Kitab Al Asma Wa Sifat. Imam Baihaqiy.

Katakan pada orang yang meyakini Allah berada di atas Arsy : Silahkan antum meyakini keyakinan antum itu, tapi janganlah mengaku sesuai manhaj salaf. Karena itu menjadi dusta dan fitnah yang sangat keji terhadap ulama salaf dan seluruh kaum muslimin ahlussunnah wal jama'ah.

Sebagaimana telah diketahui bahwa jumhur salaf menempuh jalan tafwidh makna, akan tetapi ada sebagian yg mentakwil, salah satunya adalah Imam malik bin annas. Beliau menempuh jalan tafwidh dan takwil, didalam sifat istawa imam malik mentafwidh dan didalam hadits allah turun kelangit dunia imam malik mentakwil.
Al Hafidz Adz dzahabi menjelaskan tafwidh Imam Malik didalam sifat istawa.
ﻓﻗﻮﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﺑﺎﺑﻪ اﻹﻗﺮاﺭ ﻭاﻹﻣﺮاﺭ ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺋﻠﻪ اﻟﺼﺎﺩﻕ اﻟﻤﻌﺼﻮﻡ
Penjelasan kami didalam yg demikian itu dan didalam babnya adalah berikrar (mengakui), membiarkan dan mentafwidh maknanya kepada yg mengatakannya yg tidak diragukan kebenarannya lagi maksum.

Kitab siyar a'lam an nubala. Biografi Imam Malik.

Kemudian takwil Imam Malik bisa diketahui dari penuturan beberapa ulama ahli hadits sebagai berikut :
Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata :

ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻳﻠﻴﻖ ﻣﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﻛﻼﻡ اﻟﻌﺮﺏ
Sebagian dari para ulama adalah ulama yg mentakwilnya berdasarkan makna yg layak, musta'mal didalam bahasa arab. (Sudah mahsyur takwil tersebut didalam sastra arab)
 ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻓﺮﻁ ﻓﻲ اﻟﺘﺄﻭﻳﻞ ﺣﺘﻰ ﻛﺎﺩ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ ﺇﻟﻰ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ اﻟﺘﺤﺮﻳﻒ
Dan Sebagian dari mereka adalah orang yg berlebihan didalam mentakwil sehingga hampir saja ia keluar menuju semacam tahrif (memalingkan makna)
ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻓﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻗﺮﻳﺒﺎ ﻣﺴﺘﻌﻤﻼ ﻓﻲ ﻛﻼﻡ اﻟﻌﺮﺏ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻌﻴﺪا ﻣﻬﺠﻮﺭا ﻓﺄﻭﻝ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻭﻓﻮﺽ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﻭﻫﻮ ﻣﻨﻘﻮﻝ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺟﺰﻡ ﺑﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﺑﻦ ﺩﻗﻴﻖ اﻟﻌﻴﺪ
Dan sebagian dari mereka adalah ulama yg memisahkan antara takwilnya yg dekat, yg digunakan didalam sastra arab dan takwil yg jauh, yg dilarang, maka ia mentakwil sebagian dan mentafwidh sebagian yg lain, dan yg demikian itu adalah yg dinukil dari imam malik, dan telah menetapkan dengan pendapat demikian ulama muta'akhirin ibnu daqiq al 'id.

Kitab fathul baari. Ibnu Hajar Al Asqalani.

Imam Nawawi berkata :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺗﻨﺰﻝ ﺭﺣﻤﺘﻪ ﻭﺃﻣﺮﻩ ﻭﻣﻼﺋﻜﺘﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻌﻞ اﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻛﺬا ﺇﺫا ﻓﻌﻠﻪ ﺃﺗﺒﺎﻋﻪ ﺑﺄﻣﺮﻩ
Salah satunya adalah takwil Imam Malik bin Annas dan selainnya, maknanya adalah turun rahmat nya dan perintah nya dan para malaikatnya, sebagaimana dikatakan : sultan melakukan sesuatu, apabila pengikutnya telah mengerjakannya dengan perintahnya.
Kitab Al Minhaj Syarah Sohih Muslim. Imam Nawawi.

Imam Ibnu Abdil Bar berkata :
ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻷﺛﺮ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﻧﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﺗﻨﺰﻝ ﺭﺣﻤﺘﻪ ﻭﺭﻭﻯ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺣﺒﻴﺐ ﻛﺎﺗﺐ ﻣﻠﻚ ﻭﻏﻴﺮﻩ
Sungguh telah berkata sekelompok ahli hadits juga, sesungguhnya maknanya turun perintah Nya dan turun rahmat Nya, dan telah diriwayatkan yg demikian itu dari hubaib, juru tulis Imam Malik dan selainnya.
ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻯ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﺒﻠﻲ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺛﻘﺎﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺎﻟﻘﻴﺮﻭاﻥ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺟﺎﻣﻊ ﺑﻦ ﺳﻮاﺩﺓ ﺑﻤﺼﺮ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻄﺮﻑ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻧﻪ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻓﻲ اﻟﻠﻴﻞ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺎء اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﻳﺘﻨﺰﻝ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻗﺪ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﺃﻧﻪ ﺗﺘﻨﺰﻝ ﺭﺣﻤﺘﻪ ﻭﻗﻀﺎﺅﻩ ﺑﺎﻟﻌﻔﻮ ﻭاﻻﺳﺘﺠﺎﺑﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻩ 
Sungguh telah meriwayatkan muhammad bin 'aliy al jabaliy, ia adalah orang yg tsiqoh didaerah qirwani, ia berkata telah menceritakan kepada kami jami' bin sawadah di mesir, ia berkata : telah menceritakan kepada kami mathraf dari imam malik bin annas, sesungguhnya ia ditanya tentang hadits Allah turun dimalam hari kelangit dunia, Imam Malik berkata : Maknanya turun perintah Nya. Ada beberapa kemungkinan makna sebagaimana imam malik berkata berdasarkan makna turun rahmat Nya dan ketetapan Nya dengan ampunan dan menjawab do'a, dan yg demikian itu sebagian dari perintah Nya.

Kitab At Tamhid li ma fil muwatho'

Al Hafidz Adz Dzahabi berkata :
ﻭﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﻋﺪﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﺑﻦ ﺣﺴﺎﻥ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺻﺎﻟﺢ ﺑﻦ ﺃﻳﻮﺏ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺣﺒﻴﺐ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺒﻴﺐ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﻳﺘﻨﺰﻝ ﺭﺑﻨﺎ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻣﺮﻩ ﻓﺄﻣﺎ ﻫﻮ ﻓﺪاﺋﻢ ﻻ ﻳﺰﻭﻝ ﻗﺎﻝ ﺻﺎﻟﺢ ﻓﺬﻛﺮﺕ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺑﻜﻴﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺴﻦ ﻭاﻟﻠﻪ ﻭﻟﻢ ﺃﺳﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ
Ibnu 'adiy berkata : telah menceritakan kepada kami muhammad bin harun bin hasan, telah menceritakan kepada kami sholih bin ayyub, telah menceritakan kepada kami hubaib bin abi hubaib, telah menceritakan kepada ku Imam Malik, ia berkata : Turun Rabb kami Tabaarak wa ta'ala, maksudnya perintah Nya, adapun Allah adalah yg kekal tidak binasa. Sholih berkata : aku menuturkan yg demikian itu kepada yahya bin bakir, ia berkata : sanadnya hasan demi Allah. Dan aku tidak mendengarnya dari Imam Malik.
ﻗﻠﺖ ﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﺣﺒﻴﺐ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻭاﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺭﻭاﻳﺔ اﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺴﻠﻢ، ﺃﻧﻪ ﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﺼﻔﺎﺕ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﻛﻤﺎ ﺟﺎءﺕ ﺑﻼ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻟﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻗﻮﻻﻥ ﺇﻥ ﺻﺤﺖ ﺭﻭاﻳﺔ ﺣﺒﻴﺐ
Aku (Adz Dzahabiy) berkata : Aku tidak mengenal Sholih, dan hubaib sudah mahsyur, sedangkan yg dihafal dari Imam Malik Rahimahullah adalah riwayat Al Walid bin muslim, sesungguhnya ia bertanya pada Imam Malik tentang hadits hadits sifat, Imam Malik berkata : Aku membiarkannya sebagaimana datang nya tanpa menjelaskan makna. Maka ada 2 qoul (Takwil dan tafwidh) bagi Imam Malik didalam masalah yg demikian jika sohih riwayat hubaib.

Kitab Siyar A'lam An Nubala.

Ditulis oleh : Abdurrachman Asy Syafi'iy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad