KAJIAN TENTANG “CELANA CINGKRANG”, SUNNAHKAH?
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
๐ถKAJIAN TENTANG “CELANA CINGKRANG”, SUNNAHKAH?
๐Tidak ada hadits Nabi Memakai Celana Cingkrang
✍️Perlu diketahui bahwasanya IZAR (kain/sarung) di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki2, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
๐ณDari Al-Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :
ุณَู
ِุนْุชُ ุนَู
َّุชِู ، ุชُุญَุฏِّุซُ ุนَْู ุนَู
َِّูุง َูุงَู : ุจََْููุง ุฃََูุง ุฃَู
ْุดِู ุจِุงูู
َุฏَِْููุฉِ ، ุฅِุฐَุง ุฅِْูุณَุงٌู ุฎَِْููู َُُْูููู : « ุงِุฑَْูุนْ ุฅِุฒَุงุฑََู ، َูุฅَُِّูู ุฃََْููู» َูุฅِุฐَุง َُูู ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ َُْูููุชُ : َูุง ุฑَุณَُْูู ุงِููู ุฅَِّูู
َุง َِูู ุจُุฑْุฏَุฉٌ ู
َْูุญَุงุกُ) َูุงَู : « ุฃَู
َّุง ََูู َِّูู ุฃُุณَْูุฉٌ ؟ » ََููุธَุฑْุชُ َูุฅِุฐَุง ุฅِุฒَุงุฑَُู ุฅَِูู ِูุตِْู ุณَุงَِْููู
๐ณSaya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yg berkata,
๐ง“Ketika saya sedang berjalan kaki di kota Madinah,
Tiba2 seorang laki2 di belakangku berkata,
✒️’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’
☪️Ternyata orang yg berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
๐งAku berkata,
✒️Sesungguhnya yg kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yg bergaris-garis hitam dan putih”.
☪️Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
✒️“Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?”
๐งAku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.”
๐(Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan)
๐ณDari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata,
๐“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya.
☪️Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َูุฐَุง ู
َْูุถِุนُ ุงูุฅِุฒَุงุฑِ َูุฅِْู ุฃَุจِْูุชَ َูุฃَุณََْูู َูุฅِْู ุฃَุจِْูุชَ َููุงَ ุญََّู ِููุฅِْุฒَุงุฑِ ِูู ุงَْููุนْุจَِْูู
✒️“Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.”
๐(Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70)
๐Dari dua hadits ini terlihat bahwa IZAR (kain/sarung dan bukan CELANA) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis.
✍️Boleh bagi seseorang menurunkan kainnya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki.
๐ถAsal mula penggunaan celana cingkrang seperti yg dipakai oleh sebagian komunitas muslim saat ini adalah untuk menghindari larangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
☪️Karena dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ุนَْู ุนَุจْุฏِ ุงَِّููู ุจِْู ุนُู
َุฑَ ุฑَุถَِู ุงَُّููู ุนَُْููู
َุง َูุงَู َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ ู
َْู ุฌَุฑَّ ุซَْูุจَُู ุฎَُููุงَุกَ َูู
ْ َْููุธُุฑْ ุงَُّููู ุฅَِِْููู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ ََููุงَู ุฃَุจُู ุจَْูุฑٍ ุฅَِّู ุฃَุญَุฏَ ุดَِّْูู ุซَْูุจِู َูุณْุชَุฑْุฎِู ุฅِูุงَّ ุฃَْู ุฃَุชَุนَุงَูุฏَ ุฐََِูู ู
ُِْูู ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ ุฅََِّูู َูุณْุชَ ุชَุตَْูุนُ ุฐََِูู ุฎَُููุงَุกَ (ุตุญูุญ ุงูุจุฎุงุฑู، 3392)
๐ณDari Abdullah bin Umar ra berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
☪️“Barang siapa yg memanjangkan pakaiannya hingga ke tanah karena sombong, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya (memperdulikannya) pada hari kiamat”
๐ณKemudian sahabat Abu Bakar bertanya,
๐sesungguhnya bajuku panjang namun aku sudah terbiasa dengan model seperti itu.
☪️Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
✒️“Sesungguhnya engkau tidak melakukannya karena sombong.”
๐(HR. Bukhari)
๐Juga hadits berikut yg mungkin dijadikan rujukan penyuka celana cingkrang
ุนู ุงุจู ุนุจุงุณ ุฑุถู ุงููู ุนููู
ุง ูุงูุณู
ุนุช ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุฎุทุจ ุจุนุฑูุงุช ู
ู ูู
ูุฌุฏ ุงููุนููู ููููุจุณ ุงูุฎููู ูู
ู ูู
ูุฌุฏ ุฅุฒุงุฑุง ููููุจุณ ุณุฑุงููู ููู
ุญุฑู
๐ณDari Ibnu ‘Abbas ra berkata: ✒️”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami saat dipadang ‘Arafah.
☪️Beliau bersabda:
✒️”Barang siapa yg tidak mempunyai sepasang sandal maka pakailah sepasang sepatu, Barang siapa yg tidak mempunyai sarung maka pakailah celana bagi yg berihrom.”
๐(Shahih Al-Bukhari bab memakai sepatu bagi yg sedang ihrom jika tdk memiliki sandal)
ูุงู ุงููุฑุทุจู : ุฃุฎุฐ ุจุธุงูุฑ ูุฐุง ุงูุญุฏูุซ ุฃุญู
ุฏ ูุฃุฌุงุฒ ูุจุณ ุงูุฎู ูุงูุณุฑุงููู ููู
ุญุฑู
ุงูุฐู ูุง ูุฌุฏ ุงููุนููู ูุงูุฅุฒุงุฑ ุนูู ุญุงูู
✍️Menurut Imam Al-Qurthubi jika melihat zhahir ini hadits dari Imam Ahmad tentang kebolehan memakai sepatu jika tdk punya sandal dan boleh memakai celana jika tdk memiliki kain bagi yg sedang ihrom.
๐คIkhwan fillah,
☪️Ketahuilah bahwa pakaian kesukaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.
๐Jadi memakai gamis adalah suatu yg disunnahkan.
Namun kadang memakainya melihat keadaan masyarakat, jangan sampai terjerumus dalam pakaian yg tampil beda (pakaian syuhroh).
๐งDari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
َูุงَู ุฃَุญَุจَّ ุงูุซَِّูุงุจِ ุฅَِูู ุฑَุณُِูู ุงَِّููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
– ุงَْููู
ِูุตُ
๐“Pakaian yg paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.”
๐(HR. Tirmidzi dan Abu Daud )
๐Hadits di atas disebutkan
๐ณOleh Imam Nawawi
๐Dalam Riyadhus Sholihin di mana hadits tersebut menunjukkan bahwa pakaian yg paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian gamis.
๐งSyaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata,๐
Karena gamis di sini lebih menutupi diri dibanding dengan pakaian yg dua pasang yaitu izar (pakaian bawah) dan rida’ (pakaian atas).
Namun๐
Para sahabat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memakai pakaian atas dan bawah seperti itu.
Terkadang๐
Mereka mengenakan gamis.
☪️Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyukai gamis karena lebih menutupi. Karena pakaian gamis hanyalah satu dan mengenakannya pun hanya sekali.
Memakai gamis di sini lebih mudah dibanding menggunakan pakaian atas bawah, di mana yg dipakai adalah bagian celana terlebih dahulu lalu memakai pakaian bagian atas.
⛔LARANGAN BERPENAMPILAN BEDA DARI MASYARAKAT SEKITAR
✍️Namun ada catatan yg diberikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin,
๐Akan tetapi jika engkau berada di daerah (negeri) yg terbiasa memakai pakaian atasan dan bawahan, memakai semisal mereka tidaklah masalah. Yang terpenting adalah jangan sampai menyelisihi pakaian masyarakat di negeri kalian agar tidak terjerumus dalam larangan memakai pakaian yg tampil beda. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang pakaian syuhroh (pakaian yg tampil beda).
๐(Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 284-285, terbitan Madarul Wathon).
☪️Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู
َْู َูุจِุณَ ุซَْูุจَ ุดُْูุฑَุฉٍ ุฃَْูุจَุณَُู ุงَُّููู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ ุซَْูุจًุง ู
ِุซَُْูู
✒️“Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat”
๐(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah )
๐งSyaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin menerangkan,
ุฃู ู
ูุงููุฉ ุงูุนุงุฏุงุช ูู ุบูุฑ ุงูู
ุญุฑู
ูู ุงูุณูุฉ؛ ูุฃู ู
ุฎุงููุฉ ุงูุนุงุฏุงุช ุชุฌุนู ุฐูู ุดูุฑุฉ، ูุงููุจู ุตّูู ุงููู ุนููู ูุณّูู
ููู ุนู ูุจุงุณ ุงูุดูุฑุฉ ، ููููู ู
ุง ุฎุงูู ุงูุนุงุฏุฉ ู
ูููุงً ุนูู.
ูุจูุงุกً ุนูู ุฐูู ูููู: ูู ู
ู ุงูุณูุฉ ุฃู ูุชุนู
ู
ุงูุฅูุณุงู؟ ูููุจุณ ุฅุฒุงุฑุงً ูุฑุฏุงุกً؟
ุงูุฌูุงุจ: ุฅู ููุง ูู ุจูุฏ ููุนููู ุฐูู ููู ู
ู ุงูุณูุฉ، ูุฅุฐุง ููุง ูู ุจูุฏ ูุง ูุนุฑููู ุฐูู، ููุง ูุฃููููู ูููุณ ู
ู ุงูุณูุฉ.
๐“Mencocoki kebiasaan masyarakat dalam hal yg bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yg ada berarti menjadi hal yg syuhroh (suatu yg tampil beda). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian syuhroh. Jadi sesuatu yg menyelishi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan.
๐คBerdasarkan hal itu, apakah yg disunnahkan mengikuti kebiasaan masyarakat lantas memakai pakaian atasan dan bawahan?
✍️Jawabannya, jika di negeri tersebut yg ada adalah memakai pakaian seperti itu, maka itu bagian dari sunnah. Jika mereka di negeri tersebut tidak mengenalnya bahkan tidak menyukainya, maka itu bukanlah sunnah.”
๐(Syarhul Mumthi’, 6: 109, terbitan Dar Ibnul Jauzi).
✍️Kesimpulannya yg merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
๐1. Sunnah memakai izar (kain/sarung) setengah betis atau diatas mata kaki.
๐2. Boleh memakai izar menutup mata kaki asal tidak sombong sebagaimana Abu Bakar biasa memakainya dan dibolehkan oleh Nabi.
๐3. Boleh memakai sirwal (celana panjang) saat beribadah. Namun pakaian kesukaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah qamish (baju kurung panjang)
๐4. Larangan memakai pakaian suhroh (pakaian yg beda daripada umumnya) termasuk larangan memakai celana cingkrang di masjid yg mayoritas memakai sarung atau memakai celana yg tidak cingkrang.
๐5. Belum ditemukan riwayat yg menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai celana panjang, apalagi celana cingkrang.
๐Jadi buat ikhwan salafi wahabi dan semisalnya, janganlah bangga dengan celana cingkrang yg katanya nyunnah demi menghindari isbal.
๐คKetahuilah sesungguhnya qomish/gamis pakaian sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
⛔Dan berpakaianlah yg umum dimana kita berada biar tidak suhroh karena itu dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar