Kepada Siapa Kita Harus Bersedekah?

☪️๐€๐’๐–๐€๐‰๐€ ๐‚๐˜๐๐„๐‘๐Ÿ“ก
            ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈

๐Ÿ“• ๐‘ฐ๐’”๐’๐’‚๐’Ž๐’Š๐’„ ๐‘บ๐’„๐’Š๐’†๐’๐’„๐’† ;
๐Ÿ’ฒ๐ŸŒพKEPADA SIAPA KITA HARUS BERSEDEKAH?


๐ŸƒSecara kasat mata, memang harta yang dikeluarkan untuk bersedekah akan berkurang. Namun, bila kita berbicara hakikat, sebenarnya harta kita akan bertambah.

๐ŸƒSedekah tidak akan mengurangi harta sedikit pun. Sebab, Allah pasti akan menggantinya dengan berlipat ganda.

๐ŸƒNamun adakah ketentuan mengenai Kepada siapa kita harus bersedekah? Apakah sama dengan delapan golongan mustahiq dari zakat ataukah berbeda?

๐ŸƒTentang kepada siapa kita harus bersedekah, kita akan berbicara mengenai siapa yang berhak menerima sedekah.

๐ŸƒHal ini dibahas oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab yang menyatakan bahwa ulama telah sepakat bersedekah kepada sanak famili lebih utama sebelum kepada orang lain. 

๐Ÿ‘ณBerikut penjelasannya:
๐Ÿ“Œ“Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak famili, kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Hadis-hadis yang menyebutkan hal tersebut sangat banyak dan terkenal.”

๐ŸƒUraian di atas tidak bisa dibuat alasan bagi orang-orang pelit untuk menutupi kemalasannya bersedekah kepada orang di luar rumah.

๐ŸƒAda sedikit catatan menarik dari Imam Nawawi yang mengutip dari ashabus Syafi’i bahwa skala prioritas sebagaimana urutan-urutan di atas semestinya tetap harus mempertimbangkan tentang kemampuan finansial penerima.

๐ŸƒArtinya, keluarga yang masuk kategori mustahiq zakat lebih utama untuk didahulukan daripada orang lain.

๐Ÿ‘ณHal ini diperkuat dengan penjelasan lebih lanjut:
๐Ÿ“Œ“Menurut sahabat-sahabat kami, disunnahkan pada sedekah yang sunnah, zakat, kaffarah untuk diterimakan kepada sanak kerabat jika memang mereka adalah orang yang masuk kategori mustahiq zakat. Jika mereka masuk kategori tersebut, lebih utama daripada diberikan kepada orang lain.”.
๐Ÿ“•(An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Dรขrul Fikr], juz 6, halaman 220).

๐ŸƒDengan demikian, dapat disimpulkan bahwa memprioritaskan pemberian sedekah kepada sanak kerabat jika memang mereka mempunyai kategori fakir, miskin, atau gharim (orang yang banyak utangnya).

๐ŸƒPengertian ๐Ÿ“Œ“tidak mampu” di sini mengacu pada standar sangat rendah, yaitu batas orang berhak menerima zakat, bukan tidak mampu secara strata sosial yang masing-masing wilayah bisa jadi berbeda sudut pandangnya.

๐ŸƒApabila dalam keluarga tersebut tidak ada orang yang berhak menerima zakat, maka sudah semestinya tidak ada skala prioritas antara keluarga dengan non keluarga.

๐ŸƒNamun, bagi yang masih mempunyai kerabat dan orang terdekat yang membutuhkan bantuan maka lebih baik dengan memperhatikan prioritas yang membutuhkan.

๐ŸƒApabila masih memiliki rezeki yang lebih, barulah bisa digunakan untuk bersedekahkan kepada siapa pun dan di mana pun.

๐ŸƒDari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa sedekah sebenarnya bisa diberikan kepada siapa saja, dalam bentuk apa saja, kapan saja dan di mana saja. Tapi, Allah menganjurkan agar memberikan sedekah kepada orang-orang terdekat.

๐ŸƒJika orang-orang terdekat sudah merasa tercukupi barulah sedekah diberikan kepada orang yang lain yang cakupannya lebih luas seperti masyarakat atau penyalur sedekah.

✍️Yuk jadikan sedekah sebagai ๐Ÿ“Œ‘gaya hidup’ yang akan membuat hidup kita lebih bermanfaat dan Insya Allah selalu mendapat keberkahan dari-Nya. Jangan sampai ketika kita merasa ajal sudah kian dekat, kita baru merasa pentingnya bersedekah.

๐ŸƒBersedekahlah sekarang juga selagi mampu sebab bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat ketika nanti sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya.

           ┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@๐“๐“ท๐“ญ๐“ฒ๐“’๐“ฑ๐“ช๐“ฟ๐“ต๐“ฒ๐“ท๐“ผ
๐ŸŒLink ;
๐Ÿ“ฑhttps://t.me/aswaja_cyber
๐Ÿ“ฑhttps://andichavlins.blogspot.com


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

☮️PENJELASAN STRUKTUR ORGANISASI NAHDATUL ULAMA LENGKAP DENGAN BAGANNYA.

KEUTAMAAN SHALAWAT FATIH

Jenis Pakaian di Masa Nabi Muhammad