๐ด๐ซKAUM SUFI DAN JIHAD PERANG SALIB
☪️๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐ ๐๐๐ฌ๐ฌ๐๐ฐ๐ฎ๐ ;
๐ด๐ซKAUM SUFI DAN JIHAD PERANG SALIB
✍️Syekh Abul Hasan As Syadzily meski berusia lanjut & buta ikut bersama Mujahidin
✍️Risalah Al Qushairiyah dan Serangan Pasukan Salib ke Mesir
๐Pada pertengahan abad ke tujuh hijriyah,di kota Manshurah terlihat kesibukan yang amat luar biasa.
Gerakan manusia tidak pernah berhenti. Penduduk Mesir kala itu sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh yang telah menguasai kota pesisir Dimyath, yang mencoba untuk menguasai seluruh negeri. Ya, penduduk Mesir sedang bersiap menghadapi sebuah pertempuran!
๐Bangunan-bangunan pertahanan telah didirikan, peralatan-peralatan juga telah dipersiapkan sedangkan pasukan sudah bersiap dalam barisan mereka. Adapun Sultan Dhahir Baibars pemimpin Mesir waktu itu hampir tidak memejamkan matanya karena kesibukannya.
๐Di sisi lain, Louis IX penguasa Perancis sedang memimpin pasukan Salib, yang bertekad untuk menghancurkan Arab dan Islam melalui perang pamungkas di Al Manshurah. Mereka bergerak sampai tepi perbatasan kota Al Manshurah, bahkan telah menguasai sebagian dari wilayahnya.
๐Waktu itu, keyakinan akan pertolongan Allah tertanam di dada para mujahidin, yang membuat mereka mampu menahan lelah untuk terus bekerja pada siang hari dan malamnya. Hal ini bukanlah perkara mudah, karena sebagian dari mereka adalah warga sipil sedangkan tentara jumlahnya terbatas.
๐Namun Mesir waktu itu mempunyai para ulama besar yang memiliki keikhlasan untuk berjihad di jalan Allah. Mereka antara lain,
๐Syeikh Al Islam Izuddin bin Abdissalam,
๐Majduddin Al Qausyairi,
๐Muhyiddin bin Suraqah,
๐Majuddin Al Akhmimi,
๐Abu Hasan As Syadzili serta para ulama lainnya.
Para ulama itu melakukan tugas yang juga tidak jauh dari mara bahaya, dimana mereka datang dari berbagai wilayah di Mesir untuk bergabung bersama mujahidin di Al Manshurah. Syeikh sufi Abu Hasan As Syadzili, meski usianya sudah udzur dan dalam kondisi buta, ia merupakan ulama yang datang pertama kali ke Al Manshurah.
๐Mereka itulah para ulama sufi atau sufi ulama yang bergabung di tenda-tenda pasukan untuk membimbing dan memberikan motivasi kepada mereka, memberi kabar gembira dengan kemenangan atau kesyahidan. Sedang di malam harinya, para ulama berkumpul dalam satu tenda bermunajat kepada Allah dengan shalat dan doa-doa mereka untuk memperoleh kemenangan.
๐Diriwayatkan dalam Durar Al Asrar, bahwa setelah usai bermunajat mereka mengkaji kitab. Waktu itu yang dibaca adalah kitab tasawuf Risalah Al Qusyairiyah, sedangkan para ulama itu menyimak dan berbicara satu sama lain, “Apa yang dibaca?”, “Dari bab ar risalah?”, “Apa mereka membaca bab futuwwah?”,”Atau mereka membaca bab hurriyah?”, “Atau mengikuti para pemula, membaca dari awalnya?”
๐Kitab yang ditulis oleh Imam Al Qushairi itu dibacakan kepada para ulama dan mereka pun menjelaskannya, sedangkan Syeikh Abu Hasan As Syadzili diam menyimak. Setelah selesai menjelaskan, para ulama itu meminta kepada Syeikh Abu Hasan untuk berbicara. Syeikh Abu Hasan pun diam sejenak, kemudian mulai berkata, perkataan yang dipenuhi unsur ruhaniyah yang tidak mudah terungkapkan, hingga Imam Izuddin bin Abdissalam berseru,
๐”Dengarkan perkataan langka ini, perkataan yang dekat dengan Allah!”
๐Imam Izuddin bin Abdissalam merasa ta’jub dengan apa yang disampaikan oleh Syeikh Abu Hasan As Syadzili karena apa yang disampaikan tidak berasal dari kitab-kitab.
๐Syeikh Abu Hasan As Syadzili, yang siang dan malamnya tersibukkan dengan urusan umat Islam suatu malam tertidur dan bermimpi mengenai kondisi umat Islam di Al Manshurah.
๐Diriwayatkan dalam kitab Durar Al Asrar, dimana Syeikh Abu Hasan menyampaikan,
๐ป”Waktu itu pada malam 8 Dzulhijjah, aku sibuk dengan urusan umat Islam serta urusan jihad. Aku telah berdoa untuk urusan sultan dan umat Islam.
๐ปDi akhir malam aku bermimpi menyaksikan sebuah tenda besar di langit dengan cahaya di atasnya.
Para penduduk langit berlomba-lomba menuju tempat itu sedangkan penduduk dunia sibuk dengan urusannya masing-masing”.
✒️“Milik siapa tenda itu?” Tanya Syeikh Abu Hasan.
✒️“Itu tenda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”, jawab mereka yang ada di situ.
๐ปSyeikh Abu Hasan pun segera menuju tenda tersebut. Di pintunya ditemui sekitar tujuh puluh ulama, termasuk :
๐Syeikh Islam Izuddin bin Abdissalam,
๐Syeikh Majdudin pengajar di Qus,
๐Al Faqih Kamal bin Qadhi Sadruddin,
๐Al Muhaddits Muhyiddin bin Suraqah,
๐Al Hafidz Abdul Adzim Al Mundziri dan
๐Syeikh Majduddin Al Akhmimi. ๐ปRasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mempersilahkan para ulama itu duduk di sisi kiri sedangkan Syeikh Abu Hasan maju kepada beliau. Saat itu Syeikh Abu Hasan menangis karena sedih sekaligus bergembira. Sedih karena memikirkan persoalan jihad sedangkan senang karena ia dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdekatan karena nasab.
๐ปWaktu itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan agar Syeikh Abu Hasan tidak perlu risau dengan urusan jihad dan Allah telah memberi rahmatnya kepada sultan. Dan Beliau berpesan agar Syeikh Abu Hasan memberi nasihat kepada sultan untuk tidak melakukan kedzaliman. Setelah itu Syeikh Abu Hasan pun berkata,
✒️”Demi Allah, kita memperoleh kemenangan!” Dan saat itu pula ia terjaga dari tidurnya.
๐Waktu itu umat Islam memperoleh kemenangan, dan berhasil menawan raja Louis IX serta para pejabatnya dengan jumlah cukup besar.
*Disarikan dari buku Qadhiyah At Tashawuf Al Madrasah Asy Syadziliyah karya Syeikh Al Azhar Abdul Halim Mahmud.
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar