☪️๐KAJIAN ASWAJA
๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
๐๐ด๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ;
☪️๐KAJIAN ASWAJA
๐A. Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA)
๐ณKata atau istilah Ahlussunnah wal Jama’ah diambil dari hadis Imam Thabrani sebagai berikut:
ุงูุชุฑูุช ุงููููุฏ ุนูู ุฅุญุฏู ุฃู ุงุซูุชูู ูุณุจุนูู ูุฑูุฉ ، ูุงูุชุฑูุช ุงููุตุงุฑู ุนูู ุฅุญุฏู ุฃู ุงุซูุชูู ูุณุจุนูู ูุฑูุฉ ، ูุณุชูุชุฑู ุฃู
ุชู ุนูู ุซูุงุซ ูุณุจุนูู ูุฑูุฉ، ุงููุงุฌูุฉ ู
ููุง ูุงุญุฏุฉ ูุงูุจุงููู ูููู. ููู: ูู
ู ุงููุงุฌูุฉ ؟ ูุงู: ุฃูู ุงูุณูุฉ ูุงูุฌู
ุงุนุฉ. ููู: ูู
ุง ุงูุณูุฉ ูุงูุฌู
ุงุนุฉ؟ ูุงู: ู
ุง ุงูุง ุนููู ุงูููู
ู ุฃุตุญุงุจู
✒️“Orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan. Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka. Ditanyakan
๐’Siapakah yang selamat itu?’
Rasulullah SAW menjawab,
๐‘Ahlusunnah wal Jama’ah’.
Dan kemudian ditanyakan lagi๐‘apakah assunah wal jama’ah itu?’ Beliau menjawab,
๐‘Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan beserta para sahabat).
๐ณMenurut Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam
๐Kitabnya Ziyadah at-Ta’liqat, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah :
ุฃู
ุง ุฃูู ุงูุณูุฉ ููู
ุฃูู ุงูุชูุณูุฑ ู ุงูุญุฏูุซ ู ุงูููู ูุฅููู
ุงูู
ูุชุฏูู ุงูู
ุชู
ุณููู ุจุณูุฉ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุงูุฎููุงุก ุจุนุฏู ุงูุฑุงุดุฏูู ููู
ุงูุทุงุกูุฉ ุงููุงุฌูุฉ ูุงููุง ููุฏ ุงุฌุชู
ุนุช ุงูููู
ูู ู
ุฐุงูุจ ุฃุฑุจุนุฉ ุงูุญููููู ูุงูุดุงูุนููู ู ุงูู
ุงููููู ูุงูุญูุจูููู
✒️“Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok:
1️⃣. Ahli Tafsir,
2️⃣. Ahli Hadits,
3️⃣. Dan Ahli Fikih.
Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat.
๐ณUlama mengatakan :
๐Sungguh kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat yaitu madzhab :
1️⃣. Hanafi,
2️⃣. Syafi’i,
3️⃣. Maliki,
4️⃣. Dan Hanbali.”
๐Dalam kajian akidah/ilmu kalam istilah Ahlussunnah wal Jama’ah dinisbatkan pada paham yag diusung oleh:
๐ณImam Abu Hasan al-Asy’ari dan
๐ณImam Abu Mansur al-Maturidi,
๐Yang menentang :
1️⃣. Paham Khawarij dan Jabariyah (yang cenderung tekstual)
2️⃣. Dan Paham Qadariyah dan Mu’tazilah (yang cenderung liberal).
๐Dalam kajian fikih, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah disisbatkan pada paham Sunni yaitu merujuk
๐Pada :
๐Fikih 4 (empat) madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali)
๐Yang berbeda dengan paham fikih Syi’iy, Dzahiriy, Ja’fariy.
๐Dari situlah kemudian NU menjadikan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai asas oraganisasi, yaitu :
1️⃣. Dalam bidang aqidah mengikuti Abu Hasan Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.
2️⃣. Sedangkan dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari fikih 4 (empat) madzhab yaitu madzhab Syafi’i (Syafi’iyyah).
3️⃣. Dan dalam bidang tashawwuf, mengikuti Imam al-Junaidi al-Bagdadi (w. 297 H/ 910 M) dan Imam al-Ghazali at-Thusi (w,505 H/ 1111M)
๐B. Mengapa NU mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah ?
๐Sebagaimana di jelaskan di atas, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah pada mulanya adalah terkait dengan perbincangan masalah akidah yang menengahi dua paham yang saling bertentangan.
๐Ahlussunnah wal Jama’ah dianggap sebagai paham yang moderat yaitu meyakini ke-Maha Kuasa-an Allah SWT dan menghargai ikhtiyar (akal) manusia.
๐Demikian juga dalam bidang fikih, pendapat-pendapat Imam Syafi’i dan para pengikut/muridnya dianggap paling moderat yaitu mengabungkan antara dalil naqly (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan aqly (ijtihad : ijma’ dan qiyas).
๐Dalam bidang tashawwuf, ajaran-ajaran al-Junaidi dan al-Ghazali dianggap moderat, yaitu menggabungkan antara syariah/fikih dan haqiqat/substansi.
๐Selain dianggap sebagai model berpikir moderat (wasathiyyah) dan ihtiyath (kehati-hatian/antisapatif) dalam bidang ibadah, alasan NU mengikuti Ahlussunnah wal Jama’ah juga dikarenakan para sahabat Nabi perlu diikuti, karena merekalah yang mengetahui dan memahami semua yang dilakukan oleh Nabi.
Oleh karena itu Nabi mengatakan : ู
ุง ุงูุง ุนููู ุงูููู
ู ุฃุตุญุงุจู. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa mereka (para sahabat) dijamin masuk surga.
๐Hal ini dikuatkan oleh hadis :
ุนَْู ุฃَุจِู َูุฌِْูุญٍ ุงْูุนِุฑْุจَุงุถِ ุจِْู ุณَุงุฑูุฉَ ุฑَุถู ุงููู ุนูู َูุงَู : َูุนَุธََูุง ุฑَุณُُْูู ุงِููู ุตََّูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ู
َْูุนِุธَุฉً َูุฌَِูุชْ ู
َِْููุง ุงُُْْููููุจُ، َูุฐَุฑَِูุชْ ู
َِْููุง ุงْูุนُُُْููู، ََُْููููุง : َูุง ุฑَุณَُْูู ุงِููู، َูุฃَََّููุง ู
َْูุนِุธَุฉُ ู
َُูุฏِّุนٍ، َูุฃَْูุตَِูุง، َูุงَู : ุฃُْูุตُِْููู
ْ ุจِุชََْููู ุงِููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู، َูุงูุณَّู
ْุนِ َูุงูุทَّุงุนَุฉِ َูุฅِْู ุชَุฃَู
َّุฑَ ุนََُْูููู
ْ ุนَุจْุฏٌ، َูุฅَُِّูู ู
َْู َูุนِุดْ ู
ُِْููู
ْ َูุณََูุฑَู ุงุฎْุชِูุงَูุงً ًูุซِْูุฑุงً. َูุนََُْูููู
ْ ุจِุณَُّูุชِู َูุณَُّูุฉِ ุงْูุฎََُููุงุกِ ุงูุฑَّุงุดِุฏَِْูู ุงْูู
َْูุฏَِِّْููู ุนَุถُّูุง ุนَََْูููุง ุจِุงََّูููุงุฌِุฐِ، َูุฅَِّูุงُูู
ْ َูู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุงْูุฃُู
ُْูุฑِ، َูุฅَِّู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَูุงََูุฉٌ [ุฑََูุงู ุฏุงูุฏ ูุงูุชุฑู
ุฐู ููุงู : ุญุฏูุซ ุญุณู ุตุญูุญ
๐ณDari Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah radhiallahuanhu dia berkata :
✒️Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran.
Maka kami berkata :
๐Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat.
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
๐“ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.
Karena diantara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan.
Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.
๐(Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
๐Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah menurut NU (ASWAJA AN-NAHDHIYYAH) adalah mengikuti pola pikir Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi dalam bidang akidah, mengikuti pola pikir Imam Syafi’i dalam fikih (beribadah dan bermuamalah), dan mengikuti al-Junaidi dan al-Ghazali dalam bertashawwuf, yang kesemuanya pola pikirnya adalah moderat, tawasut, tawazun, atau ta’adul, dan menjaga amaliyah para sahabat Nabi.
๐C. Implementasi (pengamalan) Ahlussunnah wal Jama’ah
☪️Prinsip moderat yang ada dalam ASWAJA AN-NAHDHIYYAH itu dalam tataran yang lebih riil dapat dicontohkan serbagai berikut :
A. ๐Bidang akidah
๐งDalam menjalani kehidupan atau menghadapi persoalan-persoalan, orang NU tidak boleh hanya bergantung pada kekuasaan Allah SWT (pasrah) atau sebaliknya hanya mengandalkan kemampuan akal (teori atau ilmu pengetahuan). Kaduanya harus dilakukan secara bersamaan.
B. ๐Bidang Fikih (Ibadah)
๐งDalam memegangi hukum fikih, NU tidak boleh “HANYA” berpegang/berlandaskan pada pendapat-pendapat yang ada (qauly) tetapi juga harus memperhatikan dan mengetahui perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan (manhajiy). Motode berpikir ini diputuskan dalam MUNAS NU di Lampung dan prinsip ini ada dalam ungkapan :
ุงูู
ุญุงูุธุฉ ุนูู ุงููุฏูู
ุงูุตุงูุญ ูุงูุฃุฎุฐ ุจุงูุฌุฏูุฏ ุงูุฃุตูุญ
๐“Tetap menjaga/ berpegang pada pendapat/tradisi lama (ulama’ terdahulu, salafussholih) yang baik (relevan), namun tetap mengambil pendapat-pendapat baru yang baik (yang lebih relevan/susuai dengan kondisi zaman dan ilmu pengetahuan)”.
๐Dalam beribadah warga NU juga harus berimbang antara ibadah mahdhoh (ritual, individual, vertikal) dan ibadah ghairu mahdhah (basyariyyah, insaniyyah, ijtimaiyyah, sosial, kemanusiaan, kemasyarakatan, horisontal)
C. ๐Bidang Tashawwuf
๐งDalam menjalankan ibadah, warga NU harus menggabungkan antara hakikat dan syariat. Aturan-aturan fikih (syarat dan rukun) tetap harus dipenuhi, namun di sisi lain penghayatan terhadap isi, makna, hakikat, tetap harus diperhatikan.
๐งDemikian juga dalam bertsahwwuf (menjalankan amaliyah dzikir/wirid, mengikuti thoriqat) tidak boleh melupakan urusan umat dan keluarga.
๐งAdapun menjaga tradisi (amaliyah) para sabahat, oleh NU – dalam bidang ibadah- antara lain adalah dengan tetap mempertahankan Tarawih minimal 23 rakaat, adzan Jumat dua kali, dan lain-lain serta pola pikir/metode ijtihad yang dilakukan oleh para sahabat Nabi terutama khulafaurrasyidun.
๐งMengikuti apa yang dilakukan oleh para sahabat, meskipun tidak dilakukan oleh Nabi, BUKAN BID’AH. Karena hadis di atas jelas bahwa Rosul memerintahkan agar berpegang kepada sunnahnya dan “sunnah” (amaliyah, tradisi, apa yang dilakukan) oleh para sahabat. Maka pengertian “bid’ah” dalam hadis َูุฅَِّูุงُูู
ْ َูู
ُุญْุฏَุซَุงุชِ ุงْูุฃُู
ُْูุฑِ، َูุฅَِّู َُّูู ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَูุงََูุฉٌ yang disampaikan oleh Rasul setelah ูุนูููู
ุจِุณَُّูุชِู َูุณَُّูุฉِ ุงْูุฎََُููุงุกِ ุงูุฑَّุงุดِุฏَِْูู berarti di luar yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.
๐งPuncaknya yang ingin dicapai NU dari asas ASWAJA AN-NAHDHIYYAH adalah prinsip tawasuth/moderat dan merawat sunnah Rasul dan “sunnah” para sahabat.
Wallohu a’lam bishshowab.
Oleh : Ansori
(Katib Syuriyah PCNU Kab. Banyumas)
๐Semoga bermanfaat….
┈┈••••❁✵☘︎✵❁••••┈┈
@ ๐๐ท๐ญ๐ฒ๐๐ฑ๐ช๐ฟ๐ต๐ฒ๐ท๐ผ
https://t.me/aswaja_cyber
Komentar
Posting Komentar