ANJURAN MENGIKUTI AMAL SAHABAT ADALAH PERINTAH ALLAH & NABI MUHAMMAD SAW
ANJURAN MENGIKUTI AMAL SAHABAT ADALAH PERINTAH ALLAH & NABI MUHAMMAD SAW
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Makna kalimat “(dan orang orang yang mengikuti mereka”) adalah orang-orang yang mengikuti generasi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar yaitu orang-orang yang datang belakangan, baik dari kalangan para shahabat (yakni yang datang setelah Fathu Makkah), maupun yang setelah mereka sampai hari kiamat.” (Fathul Qadir, juz 2 hal. 398 )
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةًً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ (رواه الترمذي)
“… dan akan terpecah umatku kepada 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Mereka (shahabat) bertanya, “siapakah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang aku dan para shahabatku berada di atasnya” (yang mengikuti jalanku dan para shahabatku-red) (HR. Tirmidzi).
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”(HR. Bukhori- Muslim)
“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka (Sahabat). Karena mereka semua berada pada shiratal mustaqim (jalan yang lurus)” (Tafsir Al Qurthubi, 1/60).
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata: “…Kami tidak akan tersesat selama kami tetap berpegang teguh dengan atsar (Pen: Perkataan ataupun perbuatan yang disandarkan kepada Sahabat ataupun Tabiin).” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 46)
Abdullah bin Mas’ud ketika menggambarkan tentang para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala melihat hati Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati para hamba, maka
dipilih untuk diri-Nya dan Dia utus membawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati-hati para hamba setelah hati Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam , maka Allah melihat hati-hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah jadikan mereka sebagai pendukung-pendukungnya, berperang membela agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin itu sebagai kebaikan, maka di sisi Allah adalah baik.
Dan apa yang dilihat oleh mereka sebagai kejelekan maka di sisi Allah adalah jelek pula.”
( Al-Albani berkata: Hadits ini shahih secara mauquf, diriwayatkan oleh AthThayalisi,
Ahmad dan lain-lainnya dengan sanad yang hasan. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)
Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Para ulama kita dahulu senantiasa mengatakan: Apabila seseorang itu berada di atas atsar, maka itu artinya dia berada di atas jalan yang benar.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 47).
Komentar
Posting Komentar